Ini Kronologis Penangkapan Victor Yeimo, Serta Pembubaran Paksa Aksi Mahasiswa

Victor Yeimo bersama dua rekannya saat ditangkap paksa aparat kepolisian resort kota Jayapura di Depan RS Dian Harapan (Foto: Ist)

Oleh: Julian Howay*

MOMENTUM 1 Desember 2012 yang rencananya akan diperingati melalui ibadah bersama di Lapangan Makan Alm. Theys Hiyo Eluay di Sentani, telah memarik perhatian para aktivis mahasiswa Universitas Cenderawasih Jayapura.

Para aktivis mahasiswa yang sering vokal yakni, Yason Ngelia, Septi Maidodga, Alfa Rohrohmana dan lain-lain, kemudian mengorganisir sejumlah mahasiswa di puataran taxi Perumnas 3 Waena, pada Sabtu pagi, 1 Desemer 2012 guna mengikuti perayaan tersebut.

Para mahasiswa ini dikabarkan mulai berkumpul sekitar jam 7.30 pagi. Sebelumnya mereka telah menurungkan palang dan memasang pagar besi setinggi 2 meter lebih yang terpasang di depan gapura Uncen Waena.

Aktivis mahasiswa ini lalu berkumpul sambil melakukan orasi di sekitar putaran taxi Perumnas 3. Menurut rencana awal yang disepakati, para mahasiswa akan berkumpul di putaran taxi Perumnas 3 lalu melakukan long mars menuju Expo Waena dan disana mereka akan mengikuti truck menuju Sentani guna mengikuti ibadah peringatan 1 Desember.

Para mahasiswa juga membentangkan sebuah spanduk yang bertuliskan beberapa baris kalimat: “Keluarga Besar Mahasiswa (Kabesma) UNCEN, BEM UNCEN Mengucapkan Selamat Merayakan Hari Raya Bangsa Papua, HIV-AIDS Memusnahkan Bangsa Papua, Stop HIV-AIDS di Tanah Papua.” Pada saat para mahasiswa sedang berkumpul dan berorasi secara bergantian, Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Victor Yeimo, juga telah hadir bersama-sama dengan mereka. Para mahasiswa yang berkumpul berjumlah sekitar 50-an orang.

Di saat yang bersamaan, sejumlah personil intelijen berpikaian preman yang mengunakan motor juga makin ramai berkumpul di lokasi yang sama guna memantau situasi.

Sementara di pos Polisi dan pos TNI yang berada di sekitar putaran taxi Perumnas 3, sejumlah personil polisi dan tentara juga tampak berjaga-jaga dengan senjata di tangan. Tidak lama kemudian, sekitar pukul 08.45 datang dua truck Dalmas Polresta Jayapura yang memuat puluhan personil polisi bersenjata lengkap dan polisi anti huru hara.

Para personil polisi ini lalu terkonsentrasi di depan bangunan ruku yang berada tak jauh dari putaran taxi Perumnas 3 sambil memantau keberadaan mahasiswa yang melakukan orasi. Tidak lama setelah itu, muncul Kapolresta Jayapura, AKBP Alfred Papare, bersama mobilnya yang ditemani beberapa anak buahnya di lokasi dimana mahasiswa berkumpul sambil berorasi. Kapolresta, AKBP Alfred Papare lalu meminta beberapa mahasiswa yang menjadi koordinator aksi untuk bernegosiasi terkait aksi.

Pada saat itu beberapa aktivis mahasiswa bersama ketua KNPB Victor Yeimo lalu merapat dan bernegosiasi dengan Kapolresta selama kurang lebih 15 menit.

Kapolresta lantas meminta penjelasan terkait aksi dan rute yang akan dilalui para mahasiswa yang melakukan long mars. Mengenai aksi, para mahasiswa menjelaskan kepada Kapolresta bahwa mereka hanya melakukan orasi terkait peringatan 1 Desember yang di dalamnya terkandung 2 moment penting, yakni: Peringatan Hari Bangsa Papua dan Peringata Hari AIDS se dunia (internasional).

Hal tersebut seperti dibuktikan dengan spanduk yang mereka bentangkan. Menyangkut hari AIDS sedunia, para mahasiswa juga menjelaskan bahwa 1 Desember menjadi refleksi terhadap permasalahan HIV-AIDS yang telah menyebabkan kematian banyak orang Papua hingga menuju kepunahan. Sementara mengenai peringatan 1 Desember sebagai hari Bangsa Papua, mereka akan melakukan long mars menuju Expo Waena untuk menumpang kendaraan yang akan membawa mereka ke Sentani.

Hanya saja, soal rencana long mars ke expo dan perjalanan menuju Sentani sempat ditanggapi oleh Kapolresta. Dia meminta agar para mahasiswa tidak ngotot melanjutkan perjalanan ke Sentani, karena dia tidak akan bertanggung jawab bila terjadi hal-hal yang tidak diiinginkan. Lagipula Sentani bukan wilayah hukumnya.

Menanggapi permintaan Kapolresta Jayapura, para perwakilan mahasiswa menjamin bahwa semua hal yang mereka lakukan akan berjalan dengan baik karena mereka hanya akan mengikuti ibadah.

Setelah mendengar penjelasan dan jaminan dari para mahasiswa yang ditemani Victor Yeimo (Ketua KNPB), Kapolresta AKBP Alfred Papare lalu meninggalkan lokasi dan memerintahkan 2 truck Dalmas Polresta Jayapura yang membawa puluhan personil polisi untuk meninggalkan lokasi Perumnas 3. Sesudah bernegosiasi, para mahasiswa kembali melanjutkan orasi selama kurang lebih 1 jam.

Setelah merasa jumlah mahasiswa yang terkonsentrasi sudah cukup, para mahasiswa kemudian memulai long mars menuju Expo. Mereka berjalan sambil beberapa orang memegang sebuah spanduk dan terus berorasi. Pada saat tiba di depan pos TNI yang berjarak sekitar 50 meter dari putaran taxi Perumnas 3 para personil TNI masih tetap terlihat berjaga-jaga dengan bersenjata lengkap. Di pos TNI ini sempat dibunyikan tanda lonceng, sebagai isyarat. Para mahasiswa tidak mengerti tanda lonceng itu sehingga mereka tetap berjalan.

Ketika sampai di tikungan dekat Rumah Sakit Dian Harapan (RSDH) Waena, puluhan personil polisi dari Polresta Jayapura sudah terlihat memblokade jalan. Mereka membentuk 3 formasi lapisan blockade. Lapisan pertama merupakan personil polisi anti huru hara, sedangkan lapisan kedua dan ketiga merupakan personol polisi bersenjata lengkap. Para personil ini juga didukung oleh sejumlah anggota polisi berpakaian preman yang memarkir motor dan mobil mereka di lokasi yang tidak jauh.

Setelah berhadapan dengan blockade polisi sekitar jarak 20-an meter, para mahasiswa lantas berhenti. Mereka masih terus berorasi dan pada saat itu Victor Yeimo (Ketua KNPB) yang memimpin orasi. Dia lalu dengan tegas meminta kepada komandan dan para personil polisi untuk membuka blokada jalan agar rombongan long mars bisa lewat. Namun mereka tetap tidak mengubris. Victor Yeimo dengan nada tinggi mengatakan jangan halangi-halangi para mahasiswa yang akan melakukan long mars karena mereka hanya ingin mengikuti ibadah memperingati hari kemerdekaan bangsa Papua yang telah dianeksasi oleh Pemerintah Indonesia beberapa tahun silam.

Victor juga menjelaskan bahwa rekan-rekan mahasiswa yang lain juga akan bergabung dengan mereka untuk melanjutkan perjalanan ke Sentani. Sebelumnya, kepala bagian operasi (kabag Ops), AKP Kiki Kurnia yang memimpin blockade dengan suara tegas telah meminta agar para mahasiswa dapat membubarkan diri. Namun mahasiswa tetap ngotot berdiri dan hendak melanjutkan perjalanan. Tidak lama kemudian, Kabag Ops, Kiki Kurnia mendekat ke arah Victot Yeimo lalu mendorongnya dan mencengkeram kuat kepala dan badannya. Dia kemudian memberi komando untuk menangkap Victor.

Seketika sejumlah personil anggota polisi mendekat lalu mencengkeram kuat badan dan tangan Victor, lalu menangkap dan memborgolnya. Para anggota polisi juga menangkap dua mahasiswa lain bernama; Yulianus Duow dan Usman Pahabol. Kabag Ops. AKP Kiki Kurnia sempat berkata bahwa ketiganya akan dibawa untuk dimintai keterangan dan akan dipulangkan pada sore hari. Mereka bertiga lalu dinaikan ke dalam mobil Dalmas. Bersamaan saat ketiganya ditanggap, polisi juga menyerbu rombongan mahasiswa untuk membubarkan mereka. Polisi telah menembakan gas air mata dan melepas enam kali tembakan ke udara. Sempat terjadi bentrok atau baku pukul.

Dalam insinden ini, sejumlah mahasiswa telah dipukul oleh polisi. Dalam kondisi yang terdesak, sejumlah mahasiswa terpaksa melarikan diri diantara lorong-lorong rumah warga dan sebagian besar terpaksa berlarian mundur, balik ke arah perumnas 3 mengikuti jalan raya. Bentrok terjadi sekitar pukul 09.05 pagi di tikungan dekat Rumah Sakit Dian Harapan (RSDH). Melihat sejumlah mahasiswa berlarian mundur (membalik), sebuah truck Dalmas yang di dalamnya terdapat personil polisi hendak mengejar mereka hingga ke Perumnas 3.

Karena merasa terdesak, puluhan mahasiswa terpaksa memasuki areal Kampus Uncen. Mereka terkonsentrasi kembali di Gapura Uncen yang sejak awal sudah dipalang. Di tempat ini para mahasiswa berupaya menghubungi sejumlah rekan-rekan mereka yang terpencar ketika dibubarkan dengan paksa. Mereka juga hendak mencari tahu keberadaan Victor Yeimo dan 2 mahasiswa lain yang telah digiring ke Mapolresta.

Tidak lama kemudian sekitar pukul 11.10, sebuah mobil Avanza tiba di depan gapura Uncen Waena. Mobil itu diparkir di depan gapura yang palang. Lalu seorang Papua dari dalam mobil keluar dan memanggil beberapa mahasiswa untuk ikut dengan mereka. Tampaknya orang-orang di mobil itu hendak meminta keterangan mengenai kronologis penangkapan Victor Yeimo (ketua KNPB bersama dua orang mahasiswa: Yulianus Douw dan Usman Pahabol).

Di gapura Uncen Waena, puluhan mahasiswa yang hendak ke Sentani untuk mengikuti ibadah peringatan 1 Desember di Makam Theys Hiyo Eluay namun gagal, terpaksa bertahan hingga siang menjelang sore. Pada saat hujan mengguyur kawasan Kota Jayapura di sore hari, para mahasiswa ini masih tetap bertahan di lokasi dengan berteduh di dalam pos satpam yang berada di Gapura. Pada sore harinya, ada info bahwa Victor Yeimo dan 2 orang lainnya yang ditangkap telah dibebaskan setelah mereka dimintai keterangan dan diberi nasehat.

*Penulis adalah jurnalis di Papua

Shortlink:

Posted by on December 1, 2012. Filed under PILIHAN EDITOR. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>