Komunikasi Massa : Antara Media Teknologi dan Media Cetak

Journalism (Ilustrasi)

Journalism (Ilustrasi)

Oleh Oktovianus Pogau*

Pada 12 September 2001, sekitar pukul 20.30 WIT, pertama kali saya menyaksikan Televisi Republik Indonesia (TVRI) menayangkan peristiwa runtuhnya gedung kembar World Trade Center (WTC) di New York City, Amerika Serikat (AS).

Diketahui, peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 11 September 2001, pukul 08:46–10:28 waktu Amerika Serikat.

Saya tidak menyangka, walau hidup jauh di pelosok tanah Papua – dan bahkan saat itu saya sendiri tidak tahu dimana letak Negara adidaya bernama AS, apalagi mengetahui organisasi garis keras macam al-Qaeda – namun bisa tonton sebuah peristiwa menghebokan dunia di tahun itu.

Belakangan, setelah mengikuti berbagai pemberitaan melalui media massa – baik televisi maupun Koran – saya mendapat informasi lebih detail kalau 19 pembajak dari kelompok militan Islam, al-Qaeda, telah membajak empat pesawat jet penumpang, kemudian para pembajak sengaja menabrakkan dua pesawat ke menara kembar WTC hingga runtuh dalam kurun waktu dua jam.

Kemudian, pembajak juga menabrakkan pesawat ketiga ke Pentagon di Arlington, Virginia. Ketika penumpang berusaha mengambil alih pesawat keempat, United Airlines Penerbangan 93, pesawat ini jatuh di lapangan dekat Shanksville, Pennsylvania dan gagal mencapai target aslinya di Washington, D.C.

Menurut laporan tim investigasi 911, sekitar 3.000 jiwa tewas dalam serangan ini, dan ratusan ribu orang menderita luka, dan banyak yang masih trauma hingga saat ini.

Sejak itu, AS mengeluarkan sebuah perintah – yang sampai saat ini mungkin saja masih berlaku, dan dampak buruknya lebih besar bagi kemanusiaan umat manusia – agar perang terhadap teroris, dan secara tidak dilangsungkan diartikan sebagai perang terhadap kaum Muslim.

Saya sengaja mengajak kita untuk melihat contoh peristiwa diatas untuk menunjukan “kehebatan” media massa, bukan pada peristiwannya – walau memang peristiwa itu menghebokan juga.

Yah, media hebat! Dengan cepat, tepat dan akurat dapat menginformasikan peristiwa yang terjadi di negeri jauh sana kepada saya, dan masyarakat Papua lainnya yang hidup di pelosok negara Indonesia, dan bisa dikatakan zaman itu akses informasi sangat susah sekali.

Selain itu, media juga dengan  cepat “menyampaikan” pesan AS untuk perang terhadap teroris, dan Al-Qaeda, yang tentu menimbulkan ketakukan besar bagi umat Muslim.

Yah, pengaruh pemberitaan peristiwa tersebut sangat besar. Bisa dikatakan, terjadi komunikasi tidak langsung antara media dengan masyarakat (massa) dengan adanya peristiwa tersebut. Lantas, apa pengertian komunikasi massa?

Di berbagai buku maupun jurnal-jurnal ada banyak sekali para ahli yang memberikan pengertian pendapat mereka tentang komunikasi massa, namun saya mengambil tiga pendapat saja untuk mewakili mereka semua.

Menurut Joseph R. Dominick (2005), komunikasi massa adalah suatu proses dimana suatu organisasi yang kompleks dengan bantuan satu atau lebih mesin memproduksi dan mengirimkan pesan kepada khalayak yang besar, heterogen, dan tersebar.

Lain halnya dengan pendapat Jalaluddin Rakhmat (1984), komunikasi massa adalah jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen dan anonim melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.

Sedangkan menurut Stephen W Littlejohn (2008), komunikasi massa adalah proses dimana organisasi media membuat dan menyebarkan pesan kepada khalayak banyak (publik).

Jika digabungkan ketiga pendapat diatas, maka komunikasi massa menulis pendapat saya ialah proses penyampaian sebuah informasi (peristiwa atau kejadian kepada public) melalui sebuah bahan perantara yang dikendalikan oleh manusia.

Dari pengertian diatas, kita dapat memahami bahwa media memegang peran yang sangat penting dalam membangun sebuah kebudayaan, karakteristik, dan bahkan sampai membentuk watak dari kelompok masyarakat tersebut.

Jika diistilahkan – walau mungkin agar berlebih – media massa seperti malaikat yang menyampaikan informasi dari pencipta kepada umat manusia di muka bumi.

Kalau pengertian media massa atau pers menurut Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers ialah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik yang meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.

Kita juga perlu memahami fungsi penting media massa bagi masyarkat, menurut Dominick (2008) adalah lima point, (1) Fungsi pengawasan (surveillance); (2) Fungsi penafsiran (interpretation); (3)  Fungsi keterkaitan (linkage); (4) Fungsi penyebaran nilai (transmission of values); dan (5) Fungsi hiburan (entertainment).

Saking besarnya tanggung jawab media massa, tak heran bila ada yang menyebut pilar keempat demokrasi di Negara Indonesia adalah media massa. Bukan berarti, setelah itu media memuat berbagai pemberitaan semaunya, termasuk merusak sebuah tatanan demokrasi yang ada di sebuah Negara hukum.

Media massa tentu harus berada dalam kontrol kode etik jurnalistik, UU No. 40/1999 tentang Pers, serta aturan-aturan dalam tiap organisasi wartawan yang ada, termasuk dari Dewan Pers.

Nah, dewasa ini perkembangan teknologi yang semakin pesat, membuat ada banyak bentuk dan model media tekonologi yang muncul. Bagaimana pengaruh media-media teknologi terhadap komunikasi massa di Indonesia?

Wujud atau bentuk yang dihasilkan teknologi media tentu beragama, ada yang berupa portal berita, situs online, group-group diskusi, dan bahkan sampai membuat situs jurnalisme warga (citizen journalism) yang melibatkan partisipasi public secara aktif.

Di Indonesia, kategori portal berita online ada, detik.com, kompas.com, tempo.co, dan masih banyak lagi, sedangkan di Papua, ada tabloidjubi.com dan suarapapua.com, dan beberapa lagi. Sedangkan, situs yang menyediakan forum-forum untuk diskusi, sebut saja yang paling popular saat ini kaskus.co.id ada beberapa lagi, namun relatif lebih kecil.

Sedangkan media teknologi yang mengembakan domain jurnalisme warga – kebetulan penulis juga pernah belajar dari media jurnalisme warga –seperti kabarindonesia.com, wikimu.com, dan belakangan Kompas melahirkan kompasiana.com yang keanggotaanya telah mencapai jutaan warga.

Lantas, apa pengaruh media teknologi terhadap media lainnya, terutama yang berupa media cetak? Yah, kita harus mengakui bahwa popularitas media cetak sedikit tertinggal. Bahkan, saat ini hanya dengan membayar sekitar sekitar Rp. 50.000, seorang bisa mendapatkan Kompas cetak versi mobile atau digital.

Penulis masih ingat, saat gempa disertai Tsuname melanda Aceh, pada 26 Desember 2006 silam, lima menit kemudian penulis yang berada di Manokwari, Papua Barat, langsung mengetahuinya melalui portal berita detik.com dan beberapa media teknologi lainnya.

Namun, tak bisa dipungkiri kalau ada banyak kelemahan yang terdapat pada media teknologi, terutama untuk yang portal berita. Sifatnya yang mengejar cepat publikasi, tentu membuat pemberitaan tidak akurat, informasi tidak mendetail, dan bahkan bisa salah, sebab konfirmasi dan verifikasi jarang dilakukan.

Pengaruh pemberitaan media teknologi yang tidak akurat, dan bahkan tak melalui prinsip jurnalisme check and balance serta verifikasi, tentu merugikan public. Media seharusnya mendidik masyarakat dengan informasi yang benar dan akurat.

Karena itu, disamping perkembangan media teknologi yang sangat pesat dan serba muda, tentu media cetak tak bisa kita tinggalkan karena memunyai keunggulan lain yang tak dimiliki media online.

Paling tidak, media cetak punya waktu yang panjang untuk melakukan verifikasi, check and balance, mencari informasi lebih akurat, dan bahkan sampai memberikan pertimbangan yang matang agar si penerima informasi dapat bertindak secara baik dan benar. Ini mendidik masyarakat luas.

Karena itu, perlu kita pahami, ada keunggulan-keunggulan media teknologi yang perlu kita acungi jempol, namun ada juga yang tak sesuai dengan kode-kode etik dan standar-standar jurnalistik.

Media cetak juga sama, punya kelebihan, namun juga ada kelemahan. Ini sebenarnya kembali juga pada kedewasaan seorang penerima informasi. Ia tentu punya nurani dan akal sehat untuk memilah mana informasi yang layak di konsumsi, dan mana yang tidak.

Pertanyaan ini sering dilontarkan, kalau begitu media-media sosial semacam twitter.com, facebook.com, friendster.com, dan skype.com, apakah dapat kita kategorikan sebagai media massa teknologi. Saya sendiri menjawab bisa iya, juga bisa tidak.

Memang, media-media sosial tak memiliki standar baku layaknya sebuah perusahaan media yang menjalankan kaidah-kaidah dan standar-standar jurnalistik, namun bukankah media sosial turut berpartisipasi dalam menyampaikan informasi kepada publik?

Anda bisa lihat NTMC Polri, semua informasi lalu lintas selalu di update setiap detiknya melalui twitter.com maupun facebook.com, dan ini menjadi panduan bagi jutaan warga Indonesia yang akan berpergian kemanapun mereka ingin pergi.

Semakin berkualitas mutu pers di sebuah Negara, semakin berkualitas pula masyarakat yang ada di wilayah tersebut. Penyampaian informasi yang baik, benar, dan dapat dipertanggung jawabkan tentu akan membuat masyarakat semakin cerdas dan pandai.

Kalau begitu, sudahkha media tempat anda bekerja menjadi saluran informasi yang benar, tepat dan bertanggung jawab? Sudahkha media anda mendidik masyarakat untuk mengambil keputusan dengan tepat? Semoga!

*Penulis kelolah portal berita http://suarapapua.com, artikel ini menjadi salah satu tugas saat mengikuti Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ) yang di selenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), di Hotel Numbay, Jayapura, sejak tanggal 9-11 Februari 2013.

Shortlink:

Leave a Response

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>