Empat Orang Diduga Dikeroyok Anggota Brimob, KontraS Papua Minta Usut

0
614

Senin 2015-03-23 20:51:15

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Polda Papua diminta segera mengusut tuntas kasus pengeroyokan terhadap empat pelajar yang diduga dilakukan oleh oknum anggota Brimob, Rabu (18/3/2015) di depan pasar Cigombong, kota Jayapura.

Keluarga korban saat mendatangi kantor Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Papua, Senin (23/3/2015) siang, meminta pendampingan hukum agar kasus penganiayaan tersebut harus diselesaikan secara hukum.

 

Direktris KontraS Papua, Olga Hamadi mengatakan, pihaknya akan mendampingi keluarga korban dan para korban dalam proses hukum kasus ini.

 

“Kami sangat berharap kepada aparat penegak hukum dalam hal ini aparat kepolisian agar lebih jeli dalam melihat persoalan ini. Dan, kasus ini harus diusut tuntas,” ujarnya saat jumpa pers, siang tadi.

 

Menurut Olga, proses hukum harus dilakukan karena pelakunya diduga kuat oknum anggota Brimob.

 

“Jangan membiarkan kasus ini begitu saja, sebab ulah dari para pelaku telah mengakibatkan korban mengalami luka serius, bahkan Lesman Jigibalom harus dioperasi,” tutur Olga.

 

KontraS Papua menyayangkan pernyataan dari Wakasat Brimob Polda Papua, AKBP Tono Budiarto, yang mengatakan jika anggotanya yang menyelamatkan 4 orang dari amukan massa.

 

Pernyataan Tono sebagaimana dilansir Cenderawasih Pos edisi Senin (23/3/2015), menurut KontraS Papua, sangat berbeda dengan penuturan keluarga korban dan korban penganiayaan.

 

“Pelakunya bukan masyarakat, melainkan oknum anggota Brimob Polda Papua yang jelas-jelas melakukan penganiayaan terhadap satu pelajar dan tiga mahasiswa,” tegasnya.

 

KontraS Papua, kata Olga, sudah siap menyurati Polda Papua untuk menindak tegas para pelaku tersebut.

Peneas Lokbere dari Bicara untuk Kebenaran (BUK) mengatakan, penganiayaan itu sempat disaksikan beberapa orang dan menurut keterangan dari para saksi, pelakunya adalah anggota Brimob Polda Papua.

 

“Pelakunya jelas, dan setelah aniaya, para korban langsung dibawa ke kantor Brimob dengan badan berlumuran darah,” ucap Lokbere.

 

Ia minta aparat keamanan dalam hal ini Brimob tidak memutarbalik fakta, sebab para korban adalah saksi hidup, mereka sendiri merasakan perlakuan tidak manusiawi.

 

Kasus penganiayaan itu terjadi hari Rabu (18/3/2015) malam di pasar Cigombong, kelurahan Vim, Distrik Abepura, kota Jayapura. Korban diduga dihadang dan dikeroyok oleh sekelompok anggota Brimob bersenjata.

 

Kejadian bermula ketika empat orang korban atas nama Mies Tabo (14 tahun, pelajar), Eldi Kogoya (19 tahun, mahasiswa), Timotius Tabuni (19, mahasiswa), dan Lesman Jigibalom (22, mahasiswa), hendak kembali ke rumah di Kotaraja Dalam dari arah Waena dengan menggunakan motor.

 

Mereka dihadang aparat yang diduga anggota Brimob, di depan Pasar Cigombong. Tanpa bertanya, oknum Brimob langsung melakukan tindak kekerasan kepada para korban.

 

Keterangan dari para saksi yang menjelaskan kejadian tersebut kepada orang tua korban, pelakunya ada 11 orang dan mengeroyok menggunakan kayu, batu, sangkur dan senjata.

 

Akibat penganiayaan, para korban harus dilarikan ke rumah sakit Bhayangkara Kotaraja pada keesokan hari, Kamis (19/3/2015), setelah sebelumnya ditahan semalam di markas Brimob Polda Papua.

 

Akibat penganiayaan, para korban mengalami luka-luka serius.

 

Eldi Kogoya menderita luka memar akibat diseret di atas aspal, dan tulang rusuk retak.

 

Timotius Tabuni luka serius di sekujur tubuh, gigi depan lepas, kepala luka sobek yang cukup parah dan ada goresan sangkur di badan.

 

Lesman Jigibalom ditusuk dengan pisau sangkur di bahu kanan sampai paru-paru kanan bocor. Dan luka memar di seluruh bagian tubuh. Ia akhirnya dioperasi pada Kamis (19/3/2015) siang, dan kondisinya masih kritis di RS Bhayangkara.

 

Mies Tabo luka memar di seluruh bagian tubuh, dan luka memar di bagian punggung akibat diseret di atas aspal.

 

Keluarga korban mengatakan, Mies dan Timotius sudah diperbolehkan pulang oleh medis. Sedangkan Lesman Jigibalom dan Eldi Kogoya masih dirawat secara intensif.

 

Lesman dan Eldi, menurut orang tua korban, minta pindahkan ke rumah sakit lain, sebab selama lima hari perawatan keduanya merasa sangat tertekan dengan kejadian yang dialaminya.

 

Editor: Mary

 

HARUN RUMBARAR