Doa Dari Honai Adat Balim Untuk Tokoh Perdamaian Papua

0
248

PAPUAN, Wamena — Kabar meninggalnya tokoh pejuang perdamaian untuk tanah Papua, Dr. Muridan Satrio Widjojo, turut membawa duka yang mendalam bagi masyarakat adat Wilayah Balim La-Pago di Pegunungan Tengah Papua.

Selain karena Almarhum dikenal gigi memperjuangkan perdamaain untuk tanah Papua, juga karena ia pernah menjadi mediator dalam perang suku berkepanjangan yang terjadi di wilayah adat Balim pada tahun 1995.

“Sejak pak Muridan menjadi mediator perang suku  dan damai kembali, sampai saat ini di wilayah adat Balim tidak pernah ada lagi perang suku, kami lihat beliau berjasa besar perdamaiaan di tanah adat kami,” kata Yulianus Hisage, Ketua Dewan Adat Suku Hubula, saat memberikan keterangan kepada wartawan suarapapua.com, Senin (7/4/2014) di STF Fajar Timur, Abepura, Papua.

Untuk mengenang jasa-jasa dan menghormati beliau, menurut Hisage, pada tanggal 15 Maret 2014 masyarakat adat Balim telah menggelar acara bakar batu, disertai ibadah bersama yang digelar di Honai Adat Balim La-Pago, yang dihadiri oleh ribuan masyarakat adat.

Adapun doa yang dipanjatkan masyarakat adat atas kepergiaan Dr. Muridan S. Widjojo;

Doa Dari Honai Adat Balim Jantung Tanah Papua

Sadar atau tidak sadar, lihat atau tidak lihat, percaya atau tidak peraya, manusia asli Papua dan sumber kekayaan alamanya tinggal sisa. Pertanyaan masyarakat adat hari ini adalah siapa yang akan menyelematkan sisa dari proses pemusnahan ini…??? Apakah kita menunggu orang Amerka, PBB, Belanda, atau kita tunggu Tuhan Allah kasih turun dari langit..? Atau karena takut, lebih memilih saja menjadi Yudas Papua, merasa diri aman sekalipun tusukan duri di kaki tiada akhir. Sampai kapankah aku akan menjadi sungguh-sungguh manusia di hadapan Ninopa/Tuhan, Ningona mama Papua dan terutama sesama?

Hari ini kami ada di Honai jantung tanah Papua, karena saudara, kakak, bapa, dan pemimpin perjuangan damai di tanah Papua, Dr. Muridan Satrio Widjojo telah tiada bersama kami. Papua sungguh-sungguh kehilangan satu Muridan. Karena itu dari dalam Honai yang gelap, hanya satu pintu tanpa jendela, duduk mengelilingi tungku api di tengah, beralaskan rerumputan, makan hipiri dan hipirika. Ada dan hidup di jaman modern, dan global ini, hanya menggenakan pakaian adat, yakni, Holim dan Yokal ini, mengandalkan kekuatan busur dan panah untuk lawan musuh yang memiliki kekuatan senjata modern yang terus merusak pagar-pagar honai dan membunuh manusia di dalam honai, yang tersisa di honai bertanya; MASIH ADAKAH 1000 MURIDAN LAIN YANG AKAN DATANG MEMBAWAH DAMAI DI HONAI DAN MENGAKUI KEBERADAAN KAMI DI HONAI ………………………???

Hanya kepada mereka yang telah dipanggil dan dipilih secara khusus untuk melihat, membaca dan “Dari tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain, dari hal-hal biasa-biasa sampai pada hal-hal yang luar biasa, sesungguhnya Tuhan Allah bangsa Papua menuntut sisa Papua menuju hari-hari pemulihan Papua untuk perdamaian dalam arti yang universal.” Karena itu sekalipun salip Papua itu terlalu berat, namun ia tidak menyerah dan terus ia pikul menuju puncak Papua. Dalam kelemahan dan kebingungan ini, sisa Papua datang kehadapanmu, ya bapa sang pencipta, dan menakan doa kami; lihatlah dia (Muridan S. Widjojo) yang datang membawa persoalan kami anak negeri bangsa Papua. Terima dia dalam damai di sisi-MU yang abadi dan hiburlah selalu mereka yang dia tinggalkan dalam pelukan kasihmu ya Bapa untuk selama-lamanya. Amin.

Waa…waa…waa…waa…

Doa singkat yang dipanjatkan oleh masyarakat adat diatas ditanda tangani oleh Ketua Dewan Adat Suku Yali Ismail Omoldomon, Ketua Dewan Adat Suku Lani Piter Wanimbo, Ketua Dewan Adat Suku Hubulu Yulianus Hisage (yang membaa doa).

Juga ditanda tangani oleh Tokoh Agama Pastor Jhon Djonga Pr, Theo Hasegem dari Jaringan Damai Papua (JDP), Enos Mabel Ketua Tim Doa Dewan Adat, Tokoh Perempuan Sarce Hasegem, Tokoh Pemuda Amos Wetipo, dan Tokoh Intelektual Rence Asso.

OKTOVIANUS POGAU