Refleksi 1 Desember; Suara Tuhan Yang “Mengganggu” Umat di tanah Papua

0
478

Oleh: Benny Giay*

Kemarin, Minggu (30/11/2014) siang, kami pergi ke Lembaga Permasyarakatan (LP) Abepura, Jayapura, Papua, untuk bertemu dengan salah satu tahanan politik Papua, Filep Karma. Hari ini, Karma genap 10 tahun di penjara Indonesia.

Selain, (a) untuk menyerahkan bukunya, juga untuk beritahukan pak Filep Karma bahwa kami akan adakan diskusi terbatas luncurkan bukunya yang berjudul“Seakan Kitorang Setengah Binatang: Rasialisme Indonesia di tanah Papua” yang diterbitkan oleh penerbit Deiyai, bulan November (2014) ini.

Dan, (b) sambil merayakan penerbitan buku ini, yang kami yakini bersama Filep, kehadiran buku ini sebagai siasat-siasat yang Tuhan gunakan untuk “mengganggu” kita, meminta perhatian kita, agar kita kembali: kembali kepada Tuhan, kembali gumuli persoalan hakiki anak manusia.

Istilah “mengganggu” dan merayakan ini kita gunakan disini dalam hubungan dengan apa yang dialami Tuhan sendiri –sebagaiman yang diangkat dalam alkitab perjanjian lama: keluaran 3: ayat 7-9.

Tuhan yang terganggu mendengar ratapan penderitaan bangsa Israel yang sedang disengsarakan dan diperbudak Firaun; lalu mengambil langkah-langkah emansipasi.

(c) buku pak Filep Karma ini juga kami ingin rayakan dan maknai sebagai “pesan pak Filep yang jiwa dan komitmennya tidak tergoyahkan untuk merubah Papua yang terus menerus diposisikan oleh kaum Melayu sebagai bangsa bodoh, binatang, primitif, kelas kera, dll, sejak dahulu kala, ber-abad-abad tahun sebelum menduduki Papua awal tahun 1960an.

Artinya, (c1) buku pak Karma ini membawa pesan dari balik jeruji –yang menganggu kita, Papua dewasa yang suka kompromi, plin-plan, yang sundal, yang gampang dibeli, gila gelar akademis, gila hormat dan pangkat atau kedudukan yang didapat dengan cara-cara kurang ajar, dll, tetapi masih tepuk dada, dll.

Untuk melihat, (c2) lewat buku ini yang adalah pesan-pesan dituturkan pak Filep di penjara beberapa waktu lalu ini; Pak Filep mengajak kita untuk melihat ke belakang, keberanian para tokoh pejuang Papua lain –selain pak Filep Karma– yang telah berjuang habis-habisan menggunakan cara-cara tanpa kekerasan yang pernah disiksa di lembaga ini.

Seperti Thomas Wanggai yang mengibarkan bendera Melanesia Barat pada tanggal 14 Desember 1988 dI lapangan Mandala Jayapura, yang kemudian mendekam di penjara ini, sebelum dibuang ke penjara Jawa, dan dikembalikan ke tanah ini dalam peti mati.

Pendeknya, (c3) buku pak Filep ini yang akan dibahas dalam diskusi terbatas –di STT Walter Post Jayapura– ini mengingatkan kita tentang semua jeritan para pejuang Papua yang lain seperti alm. pak Jhon Mambor dan Theys Eluay, Pdt. Yudas Meage, dll yang pernah mendekam dalam penjara ini.

Atau pak Ferry Pakage yang buta seumur hidup. Terkait alm Theys Eluay, yang pernah dikurung di lembaga ini, saya teringat akan “kain putih yang panjangnya puluhan meter yang digantung di samping dinding pagar– yang memisahkan SMP Bonaventura Sentani dan lapangan Makam alm Theys Eluay.

Pada hari pemakaman itu (November 2001) kita semua ramai-ramai bubuhkan tanda tangan setelah membaca tulisan besar di atasnya yang berbunyi “Kami akan meneruskan perjuanganmu”.

Melalui buku ini, Tuhan, Filep, Theys, Oto Ondowame, Zeth Rumkorem, Kelly Kwalik, Konsup, Angganeta, Pamai, Tadius Yogi, dll, para mantri, guru, dll, semua bertanya kepada kita pada hari ini.

Mereka semua menggugat kita, “Adakah kita sedang meneruskan perjuangannya” dengan menyiapkan kader Papua ke depan menjadi ahli-ahli Kimia/Fisika yang berwibawa, Filsuf dan Teolog yang unggul, ahli IT yang handal; dokter medis yang disegani; pengamat sosial politik yang bisa dipercaya? dll???

Tuhan tolong bangsa Papua ini terjaga pada hari ini tanggal 1 Desember 2014.

*Penulis Ketua Sinode Gereja Kingmi Papua