Ini Kronologi Represi Terhadap Mahasiswa Papua di Yogyakarta

2
37837

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Pada Jumat, 15 Juli 2016, Persatuan Rakyat untuk Pembebasan Papua Barat (PRPPB) berencana mengadakan long march dengan rute Asrama Mahasiswa Papua Kamasan I (Jl. Kusumanegara) sampai Titik Nol KM, pk 09.00 – selesai. Long March diadakan dalam rangka menyatakan dukungan pada ULMWP untuk menjadi anggota penuh MSG, dan memperjuangkan hak menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokratis pada Papua Barat.

Namun aksi damai ini mendapatkan ancaman dan represi dari aparat kepolisian dan kelompok reaksioner. Berikut kronologi kejadian:

Kamis, 14 Juli 2016

Pukul 16.53 WIB, narahubung PRPPB mendapat SMS anonim: “KAFIR!!!!! lagi2 Antek-antek Separatis yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Papua Jogjakarta akan mengadakan gerakan makar dengan aksi turun kejalan yang menyuarakan PAPUA MERDEKA, PAPUA BUKAN INDONESIA yang membawa atribut Bintang Kejora, Pakaian adat serta senjata tradisional mereka pada hari Jumat 15 juli 2016 di Nol KM Yogyakarta.

Ini adalah ke 2 kali nya si hitam bangsat, KAFIR LAKNATULLAH itu melakukan demo makar di hari Jumat yang mana adalah hari nya Umat Muslim, terlebih aksi mereka sebelumnya dilaksanakan pada saat umat muslim sedang melaksanakan ibadah puasa Ramdhan.

Kami Masyarakat Muslim Jogja dan bersama dengan Masyarakat lainnya akan bersatu untuk menggorok leher2 manusia LAKNAT keturunan monyet tersebut, karena kita warga asli jogja sudah geram dengan tingkah laku Makar mereka dan bau busuk dari badan mereka!!!..

Aparat keamanan baik TNI & Polisi selama ini seolah takut menghadapi Aksi Makar Mereka & selama ini Aparat keamanan telah pilih kasih dalam menegakkan hukuman kepada manusia2 hitam tersebut. Mari satukan kekuatan, Satukan tekat dg seijin ALLAH untuk mengusir bedebah2 bangsat, Separatis itu dari tanah kita Tanah JOGJA istimewa!!..

Kita Gagalkan aksi Separtis ditanah JOGJA yang istimewa ini.. Kota jogjakarta kota pelajar, kota budaya, kota muslim tanpa Separatis..  A A LAWAN SEPARATIS!!!! ALLAHUAKBAR…!!! ALLAHUAKBAR…!!! ALLAHUAKBAR…!!!

#jogjaAmanTanpaSeparatis #Muslimfigtherselatan #barisaAntiSeparatis&Komunis #JogokaryaFigther #AngkatanMuslimJogja…!!!”

 

Jumat 15 Juli 2016

Pukul 01.47 WIB, salah satu anggota PRPPB mendapatkan broadcast: “asalamualaikum wrwb.. segenap anggota laskar jogja di harapkan di harapkan siaga untuk hari jumat tgl 15 juli 2016.. karena ada isu papua akan mengibarkan bendera bintang kejora di titik nol., acara akan di mulai dari pagi jam 09.00- 13.00 wib.. tolak OPM dari bumi jogja istimewa.. harap siaga di wilayah masing2.. nunggu komando dari saya..ttd: PANGLIMA LASKARJOGJA..( INDRA mEhong/Indra Tatto)

#Kpd Yth Ketua Cabang GM FKPPI harap koordinasi dengan anggotanya persiapan aksi NKRI HARGA MATI yg akan kita laksanakan besok jumat 15 juli 2016 di depan asrama kamasan jl. Kusumanegara, TITIK KUMPUL KITA di: Di depan JEC Jam 08.00 pagi, demikian untuk GM FKPPI DI,”

Pukul 07.00 WIB, aparat kepolisian sudah mulai mengepung Asrama Mahasiswa Papua Kamasan I, Jl. Kusumanegara, Yogyakarta. Jalan raya di depan asrama diblokir oleh aparat. Pintu gerbang asrama tidak bisa digunakan sebagai pintu masuk karena diblokade oleh aparat. Kawan-kawan masuk menggunakan pintu belakang asrama.

Pukul 08.00 WIB, sekitar 50 orang massa ormas Paksi Katon telah berkumpul dan melakukan apel di timur asrama.

Pk 09.40 akses pintu belakang sudah diketahui oleh aparat, dan mereka langsung menutup pintu akses pintu belakang dengan truk polisi. Aparat juga sempat menggedor-gedor, mencoba mendobrak pintu belakang asrama, tapi tidak berhasil. Massa dikurung di dalam, akses masuk dan keluar ditutup.

Ada dua kawan Papua bersepeda motor datang, akan masuk lewat pintu belakang. Polisi berpakaian preman menyetop, menyita sepeda motor mereka. Polisi berpakaian preman ada yang intimidatif berkata, “Kamu kira polisi takut, ya?! Kita bisa habisi kalian!” Kawan yang dirampas sepeda motornya mencoba mengambil motor terebut. Polisi marah, terjadi perkelahian.  Polisi mengeluarkan tembakan peringatan. Kawan Papua tersebut melarikan diri lewat lorong ke arah Jalan Kusumanegara lalu ditangkap polisi. Sempat terjadi baku hantam dan kawan Papua itu dikeroyok beberapa polisi, ia sempat diinjak-injak.

Pukul 09.50 WIB, aparat semakin memperkuat penjagaan di depan. Ada beberapa orang yang akan bergabung ke asrama namun dihadang aparat. Satu orang kawan dari Perjuangan Mahasiswa untuk Demokrasi (PMD) yang akan masuk ke asrama ditangkap polisi. Tujuh orang yang baru pulang dari membeli ubi di pasar dan hendak masuk ke asrama juga ditangkap polisi.

Pukul 09.55 WIB, di dalam asrama, massa aksi yang sudah berkumpul memulai agenda penyampaian orasi politik di halaman asrama.

Pukul 10.00 WIB, ada satu kawan Papua yang ditangkap dan disuruh duduk di pinggir jalan, kepanasan dengan tangan diborgol.

Pukul 10.30 WIB, dua orang kawan Papua hendak masuk ke asrama lewat gerbang depan, namun ditahan anggota ormas, dilarang masuk. Sempat terjadi adu argumen antar mereka, lalu ormas mengancam dan mengintimidasi sambil menunjukkan pisau.

Pukul 10.40 WIB, sekitar lebih dari 100 orang berseragam Paksi Katon, Laskar Jogja, Pemuda Pancasila, dan FKPPI bergerak ke depan asrama dari sekitar lokasi. Mereka meneriakkan kata-kata yang sangat rasialis. Massa aksi di dalam asrama mampu menahan diri dari provokasi. Tindak rasis ini dibiarkan oleh aparat. Aparat membaur bersama massa ormas yang memprovokasi.

Pukul 11.00 WIB, aparat terlihat menyingkir dari depan asrama. Korlap aksi menyerukan pada massa di dalam untuk tenang dan tetap berada di dalam, untuk menghindari penangkapan oleh polisi ketika berjalan keluar.

Di depan Bale Ayu, Timoho, ada pemeriksaan pengguna motor oleh aparat kepolisian. Kawan-kawan Papua yang lewat dihentikan, diceramahi, dan ditangkap. Beberapa motor ditahan.

Pukul 14.07 WIB, Asrama masih dikepung aparat dan ormas. Sekita 150-an kawan yang berada di dalam asrama mulai lapar. Ubi yang dibeli di Pasar Giwangan sudah disita polisi bersama ditahannya 7 orang tadi. PRPPB menyebarkan seruan solidaritas logistik.

Pukul 16.15 WIB, massa PRPPB dan massa solidaritas yang tidak bisa masuk asrama melakukan aksi membagi selebaran di pertigaan UIN Sunan Kalijaga. Aksi diikuti 30-an orang, berjalan lancar dan selesai tepat saat polisi mulai berdatangan. Tuntutan aksi ini adalah:

  1. Bebaskan semua kawan kami yang ditangkap oleh polisi dan dikriminalisasi.
  2. Bubarkan pasukan aparat dan kelompok reaksioner dari Asrama Papua di Kamasan
  3. Kebebasan berkumpul, berserikat, berbicara, menyampaikan pendapat adalah hak asasi manusia yang harus dijamin
  4. Bangun Solidaritas Rakyat. Lawan Rasisme dan Pertahankan Demokrasi.

Warga Yogyakarta bersolidaritas dan mengumpulkan logistik berupa nasi bungkus, minuman, gula, kopi, dan mie instan. Logistik dikumpulkan di markas Palang Merah Indonesia, Kotagede, dan rencananya dikirimkan dengan mobil Ambulans PMI dengan menimbang hukum internasional yang menyatakan bahwa palang merah tidak boleh ditahan atau diserang.

Pukul 17.30 WIB, ambulans PMI yang membawa logistik tiba di depan asrama. Ambulans dihentikan oleh polisi lalu parkir di seberang jalan. Sopir ambulans terlihat bercakap-cakap dengan polisi. 10 menit kemudian, Ambulans pergi tanpa menurunkan logistik.

Pukul 19.25 WIB, sekitar lebih dari 150 orang yang terjebak berkumpul dan duduk di dalam aula asrama sambil menyanyikan lagu daerah. Sebagian kawan membersihkan sampah-sampah di halaman depan asrama. Saat mereka sedang membersihkan, polisi meneriakkan kata-kata: “mengganggu pemandangan”. Beberapa kawan tadi keluar dari asrama untuk merespon teriakan polisi. Polisi kemudian menembakkan gas air mata sebanyak tiga kali.

Pukul 22.37 WIB, satu orang kawan Papua yang ditangkap masih ditahan di Polda DIY. Tujuh orang lainnya sudah dibebaskan setelah pembuatan BAP. Handphone dari salah satu korban penangkapan masih ditahan di Polda DIY. LBH Yogyakarta masih mengupayakan pembebasan kawan yang ditahan.

Yogyakarta, 15 Juli 2016

Persatuan Rakyat untuk Pembebasan Papua Barat (PRPPB)

 

REDAKSI

  • Andi Maulana

    paling bisa si jagan, giliran sok-sok an koar-koar asli sini. giliran di tunjukin kejelekan bilang pendatang semua. pinter ngomong si mulut manis.

  • Andi Maulana

    setuju