Ini Catatan Ulah Brimob Polda Papua di Sugapa

0
0

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Melianus Duwitau, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Papua mengatakan, semenjak pemerintah meminta Brimob ke Sugapa tidak memberikan jaminan keamanan yang baik bagi masyarakat di Sugapa, kabupaten Intan Jaya, Papua.

Hal itu dikatakan Duwitau bukan tanpa alasan, namun Duwitau mengatkaan demikian karena dengan melihat rekam jejeka Brimob sejak ditugaskan di Intan Jaya terus memberikan catatan buruk dengan tindakan tak berkemanusiaan yang dilakuan terhadap masyarakat di Sugapa, Papua.

Baca: Brimob Tembak Mati Satu Warga dan Satu Pemuda Dikabarkan Belum Ditemukan di Sugapa

“Kehidupan masyarakat saat tidak ada brimob, jauh lebih aman dan jarang ada penembakan terhadap masyarakat yang dilakukan oleh aparat. Rata-rata polisi yang bertugas di Polsek Sugapa dan TNI yang bertugas di Koramil Sugapa terus membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat. Dan saat Brimob datang barulah terjadi beberapa tindakan yang tidak manusiawi,” jelas Duwitau kepada suarapapua.com di Jayapura, Senin (29/8/2016).

Tindakan-tindakan brimob di Sugapa, jelas Duwitau, antara lain sebagai berikut:

Pada tanggal 29 September 2014 pada pukul 17.00 WIT brimob tembak Seprianus Japugau (22) kena luka tembak di perut dan Benyamin Agimbau (30) luka parah karena dipukul popor senjata oleh anggota Brimob Polda Papua. Peristiwa ini terjadi di lapangan Sepak Bola Yokatapa. Peristiwa ini juga menyebabkan dua anggota Brimob terluka.

Baca: Brimob Kembali Buat Ulah, Dua Warga Sipil di Sugapa Kena Luka Tembak

Terkait kasus ini, kata Melianus, bupati hanya berikan uang dua ratus juta sebagai uang berobat untuk keluarga Seprianus Japugau. Dan kepada oknum brimob yang tembak Siprianus Japugau, tidak pernah ditindaklanjuti proses hukumnya.

Pada tanggal 15 Agustus 2015 siang, Brimob yang sedang menjaga kediaman bupati kabupaten Intan Jaya mendatanagi mahasiswa yang hendak melakukan aksi damai mengkritisi kebijakan pemerintah daerah yang berjalan lamban, dan menyiksa serta mengintimidasi mahasiswa di bandara Sugapa.

Pada tanggal 16 Agustus 2015 siang pagi menjelang siang sekitar pukul 10:40 WIT, Brimob hadang mahasiswa di depan kediaman bupati di Tigamajigi dan melakukan intimidasi terhadap mahasiswa yang saat itu hendak melakukan demo damai. Akibatnya, 14 mahasiswa mengalami luka di badan. Brimob sempat keluarkan tembakan, namun tidak ada mahasiswa yang kena tembakan.

Pada Selasa 7 Maret 2015 sekitar pukul 21.25 WIT, dua anggta Brimob komsumsi miras di rumah pensip di bandara Sugapa. Kedua anggota Brimob ini menuju ke arah Yokatapa mengendarai motor tanpa menggunakan lampu motor. Melihat itu, tiga pemuda menegur kedua anggota Brimob itu. Tak terima ditegur, kedua anggota Brimob ini menganiaya ketiga pemuda tersebut. Akibatnya, Martinus Sondegau mata dan bibir pecah. Wilem Duwitau gigi patah dan bibir pecah dan John Sondegau alis mata pecah.

Pada tanggal 1 Juli 2015, Missael Maisini dipukul oleh angota Brimob. Akibatnya Missael mengalami bibir pecah. Dan pada pertengahan tahun 2015, Maksimus Hagizimijau disiksa oleh Brimob di Sugapa. Akibatnya, mengalami memar di bagian muka dan bibirnya pecah akibat dipukul pake popor senjata.

Pada tanggal 25 Agustus 2016 pada pukul 10.00 pagi, Nope Sani dan Nolo Duwitau membawa kayu bakar ke PT. Tigi Jaya Permai yang saat itu mengerjakan pengaspalan kayu, namun kayu yang dibawa oleh Nolo dan Nope tidak diterima. Akibatnya terjadi adu mulut antara pekerja jalan denan Nolo dan Nopr. Pada saat terjadi adu mulut, pekerja telepon Brimob. Setibanya anggota Brimob di tempat pengerjaan, langsung tembak Nope Sani dan Nolo Duwitau di jalan raya Trans Papua sebanyak tiga kali. Namun keduanya tidak kena tembakan.

Pada tanggal 27 Agustus 2016 pukul 11.30 lima anak muda yang saat itu sempat palang-palang di dekan bank Papua, lalu Brimob datang dan sempat terjadi adu mulut antara lima pemuda itu dan brimob. Setelahnya Brimob tembak mati Otinus Sondegau di depan rumahnya yang terletak di Zogasiga. Otinus meninggal setelah dua peluru bersarang di dalam tubuhnya. Sedangkan keempat teman korban melarikan diri.

Akibatnya mama-mama yang membawa jenasah Otinus Sondegau ke kediaman bupati sempat membakar kantor Kapolsek. Dan kantor Polsek terbakar hingga tinggal puing-puing.

Dengan melihat beberapa kasus yang melibatkan Brimob di Intan Jaya, Duwitau meminta agar Brimob yang bertugas di Intan Jaya segera dicabut dan dikembalikan ke Polda Papua.

Baca: Bupati Intan Jaya dan Polda Papua Akan Tiba di Sugapa Hari Ini

“Kehadiaran Brimob di Intan Jaya tidak memberikan dampak apa-apa. Kehadiran Brimob di Intan Jaya menjadi pembawa malapetakan untuk masyarakat. Cukup dengan anggota Polisi yang ada di Polsek Sugapa dan anggota TNI yang bertugas di Koramil Sugapa,” tegasnya.

Sementara itu, Oten Tipagau, mahasiswa Intan Jaya asal Intan Jaya mengatakan, karena Brimob terus melakukan teror kepada masyarakat dan terus buat kasus di Intan Jaya, mahasiswa pernah mendesak bupati untuk tarik kembali pasukan Brimob yang ada di Intan Jaya.

“Kami pernah meminta untuk tarik kembali Brimob ke Polda Papua. Bupati bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat sempat buat kesepakatan untuk tarik Brimob. Setelah ditarik, faktanya Brimob bawa lagi Brimob ke Sugapa dan kemudian buat ulah lagi,” tambah Tipagau.

Baca: Kadepa: Orang Papua Banyak Ditembak Saat Pimpinan Daerah Tidak di Tempat

Pewarta: Arnold Belau