Perempuan (dan) Papua (Bagian I)

0
1

Oleh: Nourish Christine Griapon

Tanpa merendahkan sedikit pun derajat setiap Perempuan Papua dimana pun berada. Tulisan ini adalah awal dari sebuah perkenalan tentang bagaimana hidup para Perempuan Papua yang saya lihat dan rasakan, jika ternyata saya salah atau malah tidak dibenarkan, tolong saya dikritisi karena menurut saya, opini adalah sesuatu yang dibangun karena melihat, membaca dan mendengar serta merasakannya. Tulisan ini juga adalah opini awal dan belum masuk kepada masalah utama. Tulisan ini juga saya dedikasikan kepada semua Perempuan Papua yang selalu berani dan hebat.

“Perempuan Papua itu siapa?”

Dalam sebuah perbincangan, saya mendengar secara sayup pertanyaan yang dilontarkan oleh beberapa orang di sebuah sudut Perpustakaan kampus saya. Jelas saja terdengar obrolan itu, dimana Perpustakaan adalah tempat yang selalu dijaga ketertibannya.

Sebenarnya pertanyaaan seperti itu sudah sering saya dengar, tentang perempuan yang hitam kulit dan keriting rambutnya, jika perempuan ini berada di wilayah pemerintahan Indonesia atau dia sedang berbicara menggunakan bahasa Indonesia disertai dengan dialek yang khas.

Yaps, dengan bentukan fisik kami yang berbeda dengan sebagian besar warga Negara Republik Indonesia ini, membuat kami sangat terkenal. Saya menyebutnya terkenal sebab tanpa disebutkan dalam sebuah perkenalan singkat dengan berbagai macam orang, mereka pasti sadar bahwa kami orang Papua. Sama halnya jika seorang warga American – Africa memperkenalkan diri, orang sekitar akan mengenal mereka dengan ‘Black People’.

Sekali lagi, ini bukanlah tulisan untuk menyatakan atau memperjelas tentang isu rasis yang sekarang kian hari kian panjang dan memanas karena adanya oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Secara garis keras saya menentang isu rasis juga, tetapi kembali lagi di sini saya tidak akan menuliskan tentang hal itu.

Sekalipun terlahir sebagai perempuan, saya merupakan salah satu pecinta, pengagum ciptaan Tuhan yang luar biasa ini. Saya selalu beranggapan bahwa perempuan itu ciptaan paling murni dibanding dengan lainnya. Dengan mengutip lirik lagu berjudul “Sabda Alam” yang diciptakan oleh sang legenda Ismail Marzuki:

Diciptakan Alam Pria dan Wanita

Dua Makhluk dalam Asuhan Dewata

Ditakdirkan bahwa Pria Berkuasa

Adapun Wanita Lemah Lembut Manja

Wanita dijajah Pria sejak dulu

Dijadikan Perhiasan Sangkar Madu

Namun Adakala Pria tak Berdaya

Tekuk Lutut di sudut Kerling Wanita

Saya ingin memperlihatkan realita kehidupan seorang perempuan pada umumnya dan kebanyakan, sekalipun kita hidup di zaman yang serba modern dengan smartphone, laptop dan sebagainya. Siapa sangka perempuan mempunyai pesona yang bisa menjadikannya sebuah komoditas dan juga di saat yang sama perempuan juga bisa menjadi pesona yang dapat berkuasa atas segalanya.

Bahkan pesona seorang wanita itu bukan hanya terlihat dari bentuk fisiknya. Tidak peduli mau secantik atau seburuk rupa apapun bentuk fisik sang perempuan itu sendiri. Karena bagi sebagian orang, dia akan tetap mempesona sebab pesona paling penting dari perempuan bagi mereka adalah vagina. Ini sangat menyedihkan, bahkan menyayat hati saya sebagai seorang perempuan. Tetapi, sebagai seorang Perempuan saya akan meneriakan bahwa kami bukan hanya masalah vagina, seorang Perempuan diciptakan dengan sangat murni untuk menolong.

Perempuan tercipta dari tulang dan daging yang diambil dari laki-laki, dibalik sikap lembut, lemah dan manja yang sering diperlihatkan sebagian besar Perempuan, mereka adalah pembentuk kehidupan. Jika sebagai orang beriman kita percaya bahwa Dia adalah pemberi kehidupan, maka Perempuan adalah pembentuknya. Demikian juga dengan para Perempuan Papua.

Perempuan Papua adalah pesona tersendiri dari Papua. Jika banyak orang bilang Papua itu surga kecil yang jatuh ke bumi, mungkin merekalah para malaikatnya. Pernyataan tadi akan dianggap lebay sih atau kalau bahasa Indonesianya itu Majas Hiperbola, sesuatu yang dilebih-lebihkan.

Tetapi, di sini saya mau menuliskan bahwa bagi saya Perempuan Papua itu memang adalah malaikat yang tidak bersayap. Oh jelas saja, karena dengan segala ketidakadilan yang diterimanya dari sebuah kebiasaan yang mengatasnamakan adat istiadat Perempuan Papua tetap hidup dan terus loyal terhadap kebiasaan yang mengatasnamakan adat istiadat tersebut.

Masyarakat Papua adalah golongan besar orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan adat istiadat, bagi kami orang Papua Adat adalah nomor satu, lalu Agama dan terakhir konstitusi Pemerintahan, satu segitiga yang tidak bisa terlepas dari masyarakat Papua, dimana sejak dia dilahirkan dia akan hidup dengan hal ini. Oleh sebab itu, seringlah kami Masyarakat Papua disebut sebagai Masyarakat Adat.

Sebagai contoh, pembayaran mas kawin atau acara nikah adat, penjemputan orang penting, berburu, acara keagamaan dan masih banyak lagi. Hal ini kebanyakan dipengaruhi oleh tradisi yang secara turun temurun, sehingga dianggap sebagai adat. Tetapi, tidak dapat dipungkiri juga bahwa sebenarnya juga bahwa sebenarnya itu juga adat dari masyarakat itu sendiri dimana itu menunjukan identitas. Para Perempuan Papua pun tidak pernah terlepas dari hal ini, sedangkan kita tahu bahwa kebanyakan kebiasaan yang secara turun temurun yang disebut sebagai adat ini juga tidak berlaku adil terhadap hak Para Perempuan Papua.

Kemarin (Selasa, 31 Agustus 2016) saya baru saja hadir dalam sebuah diskusi dengan tema “Saatnya Perempuan Papua Bangkit dan Bersuara”, dimana dalam diskusi ini diawali dengan pemutaran sebuah film dokumenter ‘Tanah Mama’ yang disutradarai oleh Asrida Elisabeth, seorang wanita berdarah Flores dengan hati seorang Perempuan Papua. Disana dia menceritakan tentang seorang Mama yang bernama Mama Halosina dengan perjuangan gigihnya untuk menghidupi keempat orang anaknya yang telah ditinggalkan oleh suaminya Poligami dan pergi ke kota dengan sebuah alasan tertentu.

Mama Halosina pindah dari rumah suaminya, ke rumah saudara perempuannya. Kalau di tempat lain, alasan terbesar para perempuan ingin pindah karena tidak akur sama orang rumah misalnya mertua. Mama Halosina adalah seorang dukun beranak yang menangani perempuan melahirkan di kampungnya, tetapi itu tidak setiap hari karena di kampung-kampung seperti itu jarang sekali perempuan yang melahirkan setiap hari.

Mama Halosina tidak memiliki persediaan untuk makan sehari-hari dia dan keempat anaknya. Suatu hari Mama Halosina dituduh mencuri ubi di kebun milik adik Perempuan suaminya, adik iparnya Halosina. Hanya karena seharian anak-anaknya belum makan. Mama Halosina didenda dan diharuskan membayarkan sejumlah uang kepada pemilik kebun yang tidak lain adalah adik iparnya sendiri.

Dalam budaya mereka, laki-laki atau suamilah yang harus membukakan kebun untuk perempuan dan perempuan akan menunjukkan segalanya setelah dibukakan kebun. Tetapi, ternyata hal ini tidak terjadi pada Mama Halosina, suaminya yang bernama Hosea tidak membukakan kebun baginya, sedang anaknya butuh makan, terpaksa dengan berpikiran bahwa “semua akan baik-baik saja jika saya mengambil sedikit ubi dari kebun adik Perempuan suami saya”.

Mama Halosina dan anak-anaknya seakan-akan diperlakukan tidak adil oleh sang suami, dari pembukaan lahan kebun, makan anak-anak, sekolah anak-anak sampai anaknya yang keempat pun tak diakui oleh bapaknya. Sedang isteri yang kedua dan anak-anak dari Hosea mendapatkan segalanya, mungkin karena “daun muda”.

Ketidakadilan inilah yang membuat Perempuan Papua tetap dalam garis tertindas. Jelas saja, sebagian besar kebiasaan Poligami sang lelaki yang tidak pernah berhenti. Untunglah jika sang lelaki bertanggungjawab sepenuhnya, jika tidak mereka akan tetap berada dalam rasa ketidakadilan mungkin bukan hanya pihak wanita pertama, tetapi juga yang kedua.

Ketidakadilan akan kesejahteraan yang diberlakukan oleh suaminya, ketidakadilan akan pendidikan serta kesehatan yang diberikan oleh lingkup sekitarnya. Ketidakadilan karena penyetaraan yang diberlakukan oleh sebuah sistem bahwa jika kamu tak punya uang berarti miskin. Sounds like Capitalism, yeah I know that. Ketidakadilan ini membuat perempuan hanyalah “dipakai sebagai pelayan”. Bukan berarti saya melawan kodrat seorang perempuan yang memang tugasnya adalah melayani suami dan anak-anaknya, tidak! Saya tidak berkata demikian.

Masalah kesejahteraan adalah hak milik bersama tanpa memandang gender jika laki-laki bisa sekolah sampai profesor, harusnya perempuan juga bisa. Jika laki-laki bisa mencari uang, seharusnya perempuan juga bisa. Tetapi, pada realitanya perempuan hanyalah menjadi objek tersendiri bagi kepentingan beberapa orang dan ini menjadi sebuah kebiasaan yang secara turun temurun dalam sebuah lingkupnya. Bahkan, bisa saja dianggap sebagai adat oleh lingkungannya. Mengkritisi perlakuan ketidakadilan yang diterima para Perempuan Papua melalui jalan hidupnya.

Saya selalu beranggapan bahwa mereka mereka adalah pembentuk kehidupan yang selalu diberkati, berusaha melawan ketidakadilan dengan caranya sendiri, tetapi tidak meninggalkan hatinya yang terbuat dari kasih sayang.

Perempuan Papua bukanlah objek untuk mendapatkan sesuatu apalagi itu terbentuk karena stigma perempuan hanyalah berada di dapur, dalam kelemahlembutannya lahirlah sebuah kehidupan yang luar biasa.

Perempuan Papua bukanlah pelayan di dapur dan di atas ranjang, dalam kegigihannya lahirlah sebuah kehidupan yang luar biasa.

Perempuan Papua harus mendapat kesejahteraan yang setara karena mereka akan melahirkan sebuah kehidupan yang luar biasa.

Perempuan Papua adalah  seorang pejuang paling kuat untuk bertahan hidup, sebab dari mereka lahirlah sebuah kehidupan yang luar biasa.

Perempuan Papua adalah Malaikat.

Jadi, untuk semua Perempuan Papua jadilah malaikat yang selalu tahu bahwa dirinya berharga. Sebagai Perempuan Papua yang tangguh, janganlah mau ditipu dengan rayuan gombal serta tipu daya muslihat yang ditujukan bagi kita. Ingatlah, pesona kita lebih dari sebuah kata vagina, kita adalah pembentuk kehidupan. Maka, belajarlah, bacalah, lihatlah, rasakan dan berjuang sebab sebuah kehidupan hebat akan lahir dari kita.

Sekali lagi tulisan ini saya dedikasikan secara khusus untuk tiap Perempuan Papua yang sedang berjuang melawan ketidakadilan yang dia terima untuk tetap memperjuangkan hidup.

Terima kasih. Salam. Tuhan berkati selalu.

Penulis adalah mahasiswi di Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here