Perempuan (dan) Papua (Bagian II/Habis)

1
1

Oleh: Nourish Christine Griapon

Setelah bergumul dengan banyaknya urusan akademik, akhirnya di tengah-tengah hiruk pikuk kampus – kota – kosan – komunitas – kampus – kosan, saya menyelesaikan tulisan saya yang kedua ini. Tulisan kedua ini adalah lanjutan dari opini awal tulisan saya yang pertama tentang Perempuan (dan) Papua, dan seperti biasa tanpa merendahkan semua Perempuan Papua dimanapun berada saya menuliskan tulisan ini.

Dalam tulisan ini saya ingin membangun sebuah opini dimana inilah fakta yang terjadi, saya tidak ingin menyarankan sebuah solusi di sini ‘karena ada banyak sekali jalan menuju Roma’. Saya tahu bahwa semua orang pasti selalu punya cara tersendiri untuk melihat sebuah masalah dan menentukan solusinya seperti apa. Sebab, kemampuan setiap orang adalah berbeda-beda. Sehingga yang saya tuliskan adalah sebuah opini yang kembali saya lihat, baca rasakan serta pelajari. Kembali lagi jika akhirnya saya salah atau malah tidak dibenarkan, tolong saya dikritisi agar menjadi pelajaran juga bagi saya.

Saya selalu bingung jika ditanya tentang Papua, sebab Papua itu terlalu kompleks untuk dijelaskan, maka biasanya saya akan bertanya balik jawaban apa yang biasanya mereka inginkan. Tak kadang saya lebih banyak bercerita tentang budaya kami, adat istiadat, bahkan sebuah ‘kebiasaan yang mengatasnamakan budaya atau adat istiadat orang Papua’ yang sebenarnya tercipta karena pergeseran jaman atau karena adanya mindset baru dari sebuah sistem yang secara sengaja diciptakan untuk menggeser atau bahkan mengubah nilai-nilai moral dari sistem sebelumnya.

Saya selalu menyebutnya ‘sengaja’ sebab menurut saya, itulah yang dibuat oleh para pendahulu di masa sebelumnya, misalnya, sebuah mindset bahwa penyetaraan makan nasi adalah sebuah keharusan agar rakyat terlihat sejahtera, padahal kita tahu bahwa tidak semua tempat di negeri ini bisa ditanami padi, atau jika kamu tidak memiliki pendidikan berarti bodoh menurut sistem yang telah dibangun sejak jaman bahela. Tetapi saya rasa itu merupakan bahasan untuk opini saya berikutnya, ya meskipun nanti dalam tulisan ini akan saya sedikit singgung juga.

Untuk saat ini saya ingin membahas tentang budaya patriarki dan praktek-prakteknya, dimana hal ini ditentang keras oleh saya sendiri dan juga beberapa nama besar di negeri ini.

Budaya Patriarki

Patriarki berasal dari kata patri-arkat, yang berarti struktur yang menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral dari segala-galanya. Jadi, budaya Patriarki adalah budaya yang dibangun di atas dasar struktur dominasi dan sub-ordinasi. Sub-ordinasi adalah sebuah paham dimana menempatkan wanita pada tempat paling bawah dan tempat teratas adalah pria yang mengharuskan suatu hirarki dimana laki-laki dan pandangan laki-laki menjadi suatu norma.

Marisa Rueda dalam bukunya “Feminisme untuk Pemula” yang disusun bersama Marta Rodriguez dan Susan Alice Watkins mengatakan bahwa patriarki adalah penyebab penindasan terhadap perempuan. Masyarakat yang menganut sistem patriarki selalu meletakkan laki-laki pada posisi dan kekuasaan yang dominan dibandingkan perempuan. Laki-laki dianggap memiliki kekuatan lebih dibandingkan perempuan. Di semua lini kehidupan, masyarakat memandang perempuan sebagai seorang yang lemah dan tidak berdaya.

Sejarah masyarakat patriarki sejak awal membentuk peradaban manusia yang menganggap bahwa laki-laki lebih kuat (superior) dibanding perempuan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun bernegara. Budaya patriarki ini diwariskan secara turun-temurun, sehingga membentuk perbedaan perilaku, status, dan otoritas antara laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat, akhirnya terbentuk sebuah hirarki gender.

Patriarki juga ternyata terbentuk dari konsep perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Masyarakat pada umumnya memandang perbedaan biologis ini sebagai status yang tidak setara. Perempuan yang tidak memiliki otot dipercayai untuk membangun rumah misalnya atau mengangkat beban berat, hal ini biasanya ditetapkan sebagai alasan mengapa masyarakat meletakkan perempuan pada posisi lemah (inferior).

Dengan adanya budaya seperti ini, maka secara sengaja atau tidak, telah berlaku sangat lama dan diturun-temurunkan ke dalam keluarga (anggota keluarga). Dikenalkan sebagai pola pemikiran dan bahkan parahnya itu adalah pola hidup terutama kepada anak. Anak-anak dalam keluarga akan diajarkan sesuai perilaku dari kedua orang tuanya, misalnya cara menjamu tamu atau urusan dapur akan diserahkan secara penuh kepada anak perempuan. Sedang anak laki-laki akan melakukan aktivitas yang dicontohkan oleh ayahnya atau bahkan diberikan sebuah ajaran yang diharuskan oleh ibu dan ayahnya karena dianggap sebagai cara hidup, atau biar lebih menjelaskan, saya menyebutkan dengan kalimat cara berperilaku sebagai seorang perempuan atau seorang laki-laki.

Tetapi, di sini saya hanya mengambil contoh perilaku yang menurut saya adalah sebuah penindasan terhadap perempuan. Misalnya, stereotip tentang tidak adanya hak ulayat atau hak atas warisan secara adat dari orang tua kepada anak perempuannya. Sebab akan dianggap pergi meninggalkan rumah setelah dia menikah dan ikut suami pada kebanyakan adat. Dan ini bisa dibilang bahwa sebenarnya penindasan patriarki juga berdasarkan penindasan menurut kelas. Maka, tidak dapat disangkali bahwa perempuan pada dasarnya adalah sekitaran Kasur dan Dapur atau Putri, Istri dan Ibu, sedang hak-hak yang lain tidak dipunyai sama sekali.

Para perempuan seperti ini biasanya hanya akan menerima dirinya yang terlahir demikian dan terus terbelenggu dalam ikatan ini, bahkan paling parahnya mereka menganggap itu adalah takdir. Dilahirkan sebagai seorang perempuan kewajibannya harus terus dipenuhi karena pandangan masyarakat yang selalu mengatas namakan “kodrat”.

Ideologi patriarki sangat sulit untuk dihilangkan dari masyarakat karena masyarakat tetap memeliharanya. Stereotip yang melekat kepada perempuan sebagai pekerja domestik membuatnya lemah karena dia tidak mendapatkan uang dari hasil kerjanya mengurus rumah tangga.

Pekerjaan domestik tersebut dianggap remeh dan menjadi kewajibannya sebagai perempuan. Atau para wanita yang bekerja di perkantoran, tenaga yang dikeluarkan sama dengan pria bayarannya tidak seberapa atau malah tak jarang perempuan hanya dipakai sebagai ‘pajangan di kantor’ misalnya resepsionis. Mungkin karena adanya stereotip yang mengatakan bahwa perempuan menggunakan perasaan di setiap langkahnya, sedang pria menggunakan akal sehatnya.

Padahal, menurut Kaum Marxis kita menggunakan Dialektika, sebab akal sehat tidak dapat memahami hal-hal kompleks. Dengan dialektika, kita dapat mengetahui setiap kemunduran selalu mengandung potensi untuk terjadinya kemajuan, tiap kelemahan dapat dibalik menjadi kekuatan, tiap kekuatan dapat menjadi titik lemah yang mematikan, tiap kelahiran akan membawa kematian dan tiap kematian adalah bahan bakar bagi sebuah kelahiran baru.

Dialektika bekerja tanpa kasat mata. Ia adalah proses yang terus berlangsung dan tanpa henti. Tidak selalu berjalan lurus, kadang zig-zag, mengalami proses yang gradual, stagnasi dan kemunduran, bahkan mengalami lompatan-lompatan.

Ditambah lagi kaum Marxis juga mengiyakan adanya penindasan terhadap perempuan, dimana pada abad 17 dan 18 masa perkembangan industrialisasi secara radikal telah mengubah tatanan lama dalam hubungan keluarga.

Sebenarnya sebelum muncul sebuah kata sifat ‘kepemilikan pribadi’ atas alat produksi dan pembagian masyarakat secara kelas, perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama dan terlibat dalam produksi secara rata dan setara. Namun, akibat adanya kata sifat ‘kepemilikan pribadi’ inilah yang akhirnya membuat perempuan berada dalam sebuah sistem yang disebut  kerja rumah tangga dan selalu berada di dalamnya.

Kaum Marxis adalah mereka yang berjuang melawan penindasan yang mana menurut mereka akar masalah dari segala bentuk penindasan terdiri dalam pembagian masyarakat ke dalam kelas. Tetapi penindasan dapat mengambil banyak bentuk. Di samping penindasan kelas, kita menemukan penindasan satu bangsa di atas yang lain, penindasan rasial, dan penindasan terhadap perempuan.

Para kaum ini terbentuk dari paham yang berdasarkan pada pandangan-pandangan Karl Marx, dimana Marx menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan system ekonimi, sistem sosial, dan sistem politik yang mana Marx lebih banyak menyinggung tentang masalah kapitalisme perkembangannya dan tentu saja praktek-prakteknya.

Jadi, sebenarnya menurut saya, budaya patriarki adalah sebuah pola ‘sebab-akibat’ dari perbedaan kelas yang menurut saya inilah yang sedang menimpa kebanyakan perempuan di tengah lingkup masyarakat:

  1. Pola pemikiran superior dan inferior dari perbedaan biologi yang mana sebenarnya ini juga bagian dari perbedaan kelas.
  2. Bangsa atau rasial. Kalau pola penindasan secara bangsa atau rasial ini saya lebih mengarah pada spesifikasi secara suku. Meskipun sebenarnya bahan cakupannya cukup luas dan rumit. Oleh karena itu, saya hanya mengambilnya secara suku atau adat istiadat. Dimana dengan mengatasnamakan adat istiadat beberapa orang menunjukkan perilaku ketidakadilan terhadap perempuan.
  3. Kapitalismedan fundamentalisme yang sebenarnya mau saya bahas di opini berikutnya, hanya saja sepertinya penindasan berkedok Patriarki ini tak dapat terlepas dari kedua hal ini juga.

Apa Hubungannya dengan Perempuan Papua?

Baiklah, akan kita bahas dari panjang dan lebar bahasan saya di atas yang mungkin agak ngelantur juga tentang apa hubungannya dengan Perempuan Papua.

Perempuan Papua adalah contoh paling besar dari penindasan ini. Penindasan secara patriarki yang di dalamnya ada masalah Kapitalisme, Perbedaan Kelas, dan Suku atau adat istiadat (mungkin Agama juga). Ya, saya menyebutkan Agama juga karena secara tidak langsung ada beberapa hal yang menyebabkan banyak pertanyaan yang muncul, misalnya kenapa biarawati harus perempuan? Tetapi saya tidak mau membahas itu karena semua topik yang berhubungan dengan Sakral merupakan keyakinan masing-masing, (tetapi tolong dijawab ya biar tahu juga) hal yang timbul karena kerelaan hatimu untuk meyakini bukan karena dipaksa.

Perempuan Papua sejak dilahirkan sudah pasti akan menjadi bagian dari adat istiadat yang ribetnya minta ampun dengan melaksanakan segala jenis aturan dari sejak lahir hingga mengalami semua ketidakadilan yang dirasakan. Ketidakadilan yang bukan hanya datang dari lingkungan sekitarnya, keluarga, tetapi juga dari diri sendiri yang mana biasanya mereka menyebutnya sebagai takdir Tuhan. Jika terlahir sebagai seorang perempuan inilah jalannya.

Banyak sekali yang menentang budaya patriarki karena tidak sesuai dengan hak-hak perempuan yang saat ini menuju pada pemikiran modernisasi.

Budaya Patriarki mampu membentuk masalah-masalah yang sebenarnya secara tidak disadari tetap dilakukan oleh para Perempuan Papua dikawal oleh pelaku penindasan ini.

Masalah yang tengah dihadapi oleh Perempuan Papua saat ini menurut saya adalah:

  1. Poligami

Baiklah, ada sebagian pemahaman bahwa satu pria dapat memiliki istri lebih dari satu bahkan jika dia memiliki istri dari satu akan menunjukan bahwa dia adalah seorang pria dengan kelas tertentu atau status sosial yang tinggi di kalangan masyarakat.

  1. Menjadi sebuah Komoditas

Ini yang paling menyedihkan bagi saya, yakni menjadi sebuah komoditas. Tanpa memikirkan bahwa sebenarnya di tangan seorang perempuan itu akan tumbuh sebuah kehidupan, tak dapat disangkali bahwa mereka juga dijadikan sebuah komoditas. Benda diperjual-belikan, hal ini ada pada sisi kehidupan pernikahan yakni adanya pemikiran dari pembayaran mahar atau mas kawin. Misalnya “ah, sa su bayar ko. Jadi, sa mo bikin apa ke ko itu sa pu hak”. Padahal, sebenarnya mas kawin adalah sebuah bentuk kegiatan yang dilakukan untuk mempererat hubungan keluarga yang akan menjadi satu keluarga utuh karena dua orang yang akan dipersatukan.

Tetapi, pada masyarakat saat ini, pembayaran mahar dilakukan agar perempuan menjadi hak utuh atau penuh dari sang pembayar mahar atau mas kawin. Sebab, biasanya pihak perempuan tak bisa berbuat apapun ketika mahar atau mas kawin telah dibayarkan jika terjadi sesuatu kepada anak perempuan mereka misalnya kekerasan dalam rumah tangga secara fisik maupun finansial ataupun secara batin. Apalagi jika pembayaran itu dalam jumlah yang besar atau sangat berharga. Tetapi, mungkin saja ini mulai terkikis satu per satu karena pola pemikiran masyarakat Papua yang mulai menerima konsep modernisasi.

  1. Pelayan

Dan inilah pelayan abadi menurut kodrat dari perempuan Papua: pelayan di dapur dan di atas ranjang. Pelayan yang siap sedia melayani kebutuhan anak-anak dan suami, padahal kebutuhan anak-anak adalah tanggung jawab bersama: laki-laki dan perempuan.

Melayani kebutuhan suami bahkan bukan hanya makan, tetapi juga kebutuhan biologisnya. Luar biasa perempuan yang bekerja di rumah memiliki waktu 24 jam siap sigap untuk patroli. Bagaimana tidak, mengurus anak dan suami di pagi hari terus dilanjutkan dengan pergi ke kebun untuk menanam segala kebutuhan keluarga, lalu harus bergerak menuju pasar untuk mencari tambahan uang menjual hasil bumi yang mereka tanam, ketika kembali ke rumah tetap harus melayani suami dan anak-anaknya. Luar biasa bukan para perempuan itu sebenarnya.

  1. Status yang adakalanya bisa tidak diakui

Kepada pembaca yang budiman, saya mau menyampaikan sesuatu tentang status yang tidak diakui ini. Jadi, dalam adat orang Papua, perempuan akan menjadi sebuah keberkahan jika dia melahirkan anak laki-laki bagi suaminya. Dia akan bangga bahwa seorang penerus, seorang ahli waris telah lahir dari kandungannya. Tetapi, tidak terjadi demikian kepada mereka yang melahirkan anak perempuan bagi suaminya. Padahal anak perempuan bukanlah sebuah kesalahan.

Saya sendiri masih bingung dengan hal ini. Anak perempuan sebenarnya akan tidak sama sekali diberikan hak atau tidak punya hak dalam adat keluarganya. Tetapi, ketika mengarah pada pembayaran mahar atau mas kawin, keluarga akan dengan sangat antusias untuk meminta harga lebih, seakan-akan anak perempuan itu sangat istimewa, padahal dalam kenyataannya yang akan memiliki mahar itu adalah mereka yang tidak memberikan hak untuk sang anak perempuan.

Adanya sebuah ketidakadilan yang saling berkaitan di sini, bahkan ibu sang anak perempuan ini juga bisa rela suaminya melakukan poligami dengan alasan istrinya tidak bisa memberikannya anak laki-laki.

Mirisnya kebanyakan dari Perempuan Papua menganggap ini semua adalah takdir dari Tuhan, jadi yah dijalani. Dan mohon maaf penindasan seperti ini bukan hanya dilakukan oleh pihak laki-laki, bahkan pihak perempuan pun melakukan hal yang sama.

  1. Stigma-stigma yang terbentuk

Yang lebih menyebalkan lagi adalah masalah sebuah stigma yang mengatakan bahwa pernikahan antara laki-laki dan perempuan itu dilakukan jika perempuan sudah mengandung anak dari laki-laki. Saya tidak mengada-ada, ini adalah cerita dari beberapa Perempuan Papua yang saya kenal. Ini adalah sebuah pelecehan dan penghinaan menurut saya bagi seorang Perempuan Papua. Karena menurut saya, laki-laki seperti itu hanya mendahulukan nafsu.

Awalan yang baik adalah dengan meminta secara formal dan baik-baik kepada orang tua perempuan. Mendingan sih kalau setelah perbuatan nafsu itu laki-laki ini bertanggungjawab, nah jika tidak, akan menjadi sebuah beban pikiran besar bagi perempuan itu.

Saya lebih kasihan dan sedih lagi bahwa stigma ini secara terang-terangan menyebar dan menyerang kaum perempuan muda pada usia sekolah yang secara biologinya dia belum siap untuk mengandung dan melahirkan. Bahkan sepertinya berhubungan badan pun sebenarnya belum siap.

Kelima hal diatas akhirnya mengingatkan saya pada kesenjangan sosial yang diterima oleh para Perempuan Papua, yakni mereka yang dibentuk dari rumah karena pola pikir orang tua yang rendah, sehingga yang diajarkan kepada anaknya adalah sebuah ajaran yang dilakukan secara turun temurun. Atau pendidikan anak yang rendah juga, sehingga dia tidak memikirkan langkah kedepannya.

Untuk itu, saya tidak sepenuhnya menyalahkan para pelaku penindasan yang kebanyakkan disini disebutkan adalah seorang laki-laki. Tetapi penyalahgunaan kata adat istiadat pada pola budaya ini yang patut untuk disalahkan.

Perempuan Papua tengah hidup dalam penindasan akibat patriarki, sehingga kebanyakan dari mereka tertindas secara fisik dan batin. Tetapi, bukan hanya patriarki, ternyata kapitalisme dan fundamentalisme pun ikut mengambil bagian dalam penindasan Perempuan Papua. Contohnya pendidikan yang rendah, sehingga adanya kelima masalah yang telah saya tuliskan dan sebutkan diatas. Maaf mungkin para pembaca penasaran dengan apa yang saya sebutkan, tetapi inilah yang terjadi pada perempuan Papua saat ini. Kami tengah dicekik dengan pola kehidupan yang terbentuk dari sistem patriarki, kapitalisme dan fundamentalisme.

Saya berharap dengan membaca tulisan ini setiap orang sadar bahwa sebenarnya seorang perempuan yang hidup dalam budaya Patriarki yang diterapkan ini adalah sesuatu yang perlu dikaji ulang. Bukan berarti saya menentang semua seluk beluk budaya dan adat istiadat kami. Saya sadar bahwa sebenarnya adat istiadat dan budaya kami harus dijunjung tinggi karena di dalamnya masih ada yang mengedepankan nilai-nilai atau norma-norma positif. Hanya saja sebagai seorang manusia, budaya ini telah memberikan dampak yang sangat besar bagi keberlangsungan hidup seorang jiwa anak Papua.

Seperti sebelumnya yang telah saya tuliskan pada tulisan saya yang pertama, bahwa Perempuan adalah Pembentuk Kehidupan. Maka, jika dia tidak mendapatkan kesejahteraan, bagaimana dia bisa melahirkan generasi hebat? Dengan segala kemampuannya perempuan yang saat ini masih hidup dengan budaya ini mampu mempertahankan kehidupannya serta keluarganya. Ingatlah, sejahtera itu bukan berarti kaya atau seorang perempuan yang selalu punya uang belanja setiap bulan. Tetapi sejahtera adalah terlepas dari sebuah kata ‘bodoh’, sebuah kata ‘miskin’ dan sebuah kata ‘komoditas’ yang dimana semua ini telah terbentuk di awal jaman oleh para pendahulu.

Perempuan Papua punya hak untuk hidup, Perempuan Papua punya hak untuk sejahtera. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa hidup seorang perempuan yang tengah dicekik oleh budaya patriarki, kapitalisme dan fundamentalisme ini adalah sebuah takdir yang telah digariskan oleh yang Maha Kuasa, sebab takdir kita hanyalah terlahir sebagai seorang perempuan.

Terlahir sebagai seorang perempuan bagi saya memang adalah sebuah takdir, tetapi untuk mengikuti segala jenis penindasan berkedok aturan bukanlah sebuah takdir bagi saya.

Terima Kasih, Tuhan Berkati!

Penulis adalah mahasiswi di Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

____________

Daftar pustaka:

  1. Marisa Rueda, dkk. Feminisme Untuk Pemula.
  2. http://www.militanindonesia.org/teori-4/gerakan-perempuan/8512-revolusi-dan-perempuan.html
  3. https://id.wikipedia.org/wiki/Marxisme
  4. http://www.jurnalperempuan.org/blog-feminis-muda/tubuh-perempuan-yang-dipatuhkan

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here