Natalis Tabuni: Senjata yang Meletus di Bandara Sentani adalah Senjata Saya

0
0

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Bupati kabupaten Intan Jaya, Natalis Tabuni mengakui bahwa senjata yang meletus di tempat check in bandara Sentani, kabupaten Jayapura adalah senjata miliknya yang sudah meiliki izin dari Mabes Polri.

Bupati intan Jaya memiliki senjata api jenis pistolMakarov CZ-83 dengan peluru kaliber 32 dari Mabes Polri dengan masa berlaku hingga 15 April 2017.

“Benar. Itu senjata saya. Saya punya izin dari mabes Polri,” katanya.

- Event -
Festival Film Papua

Ia menjelaskan, pada saat mau chek in di bandara, saat itu ia tunggu di dalam mobil sambil menunggu check in di ruang cek in Lion Air Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, sekitar pukul 07.20 WIT.

“Waktu mau berangkat ke Nabire dari bandara Sentani, saya tunggu di mobil dan ajudan saya pergi lapor. Rupanya senjata itu dibawah ke tempat lapor tiket. Dan waktu itu dia (ajudan) hendak kosongkan pelurunya tapi entah kenapa ada satu butir peluru yang masih tertinggal di dalam,” jelasnya.

Lanjut dia, “Posisinya waktu itu ajudan berada di tempat yang aman, tetapi meletus. Itu yang terjadi saat hendak melapor. Itu bukan meletus sendiri atau arahan ke orang atau sengaja,” jelasnya kepada suarapapua.com dari Sugapa, Minggu (16/10/2016).

Kata Tabuni, permintaan pengosongan peluru dilakukan atas perintah petugas bandara agar diamankan supaya bisa masuk ke bagasi.  Namun, ia mengatakan, hal itu bisa saja jadi kelalaian dari ajudannya.

“Biasanya harus masuk dalam dos. Sebelum itu harus pelurunya dikosongkan, karena aturannya memang seperti itu. Ternyata itu ada peluru di dalamnya satu butir dan rupaya itu meletus. Dan ini mungkin adalah kelalaian ajudan saya karena tidak cek (kondisi senjata) dengan baik,” katanya.

Untuk masalah ini, kata dia, laporan di Polda sudah selesai. Kkemudian snejatanya masih di diamankan di Polda Papua.

“Nanti saya ke sana (Polda Papua) baru ambil (senjatanya),” pungkasnya.

Kepala Bandara Sentani Klas I Khusus, Agus Priyanto menyebutkan kejadian tersebut merupakan kelalaian dari orang yang mengeluarkan peluru. Seharusnya, ajudan tersebut mengosongkan peluru di ruang khusus yang telah disediakan, bukan di ruang check-in.

“Pistol tersebut terdeteksi oleh x-ray. Seharusnya Pak Bupati ini paham, sebelum masuk ke ruang check in, peluru dalam senjata itu sudah harus dikosongkan. Untung saja tak ada korban jiwa. Jika ada pasti masalahnya tambah besar,” ujar Agus seperti dikutip dari liputan6.com.

Sepanjang 2015-2016, aparat keamanan di Papua beberapa kali menyalahi prosedur dalam pengosongan peluru senjata yang dipegangnya. Ada sekitar tiga kali kejadian serupa, di antaranya mengosongkan peluru dengan cara ditembakkan ke atas dan ke dinding di sekitarnya.

Pewarta: Arnold Belau