Fenia Meroh di Zaman Gadget

0
286

Oleh: Kelompok Belajar Perempuan Papua Yogyakarta )*

Kelompok Belajar Perempuan Papua Yogyakarta telah melakukan diskusi seri ke VII, bersama Perempuan Tambrauw. Materi diskusi dibawakan oleh saudara Maria Hay, tema besarnya adalah “Perempuan Tambrauw Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Depan”. Diskusi diadakan pada hari Selasa, 15 November 2016, dimulai jam 18.20 WIB.

Untuk memantik diskusi, pemateri memberikan tema kecil yang dituangkan dalam tulisan yaitu “Fenia Meroh di Jaman Gadget”.

Banyak perspektif yang mendeskripsikan perempuan. Perspektif itu mendasar pada perempuan yang hidup jaman dulu, sekarang atau meramalakan tentang masa depan. Perspektif ini terus melewati proses perubahan sesuai perkembangan jaman. Jaman sangat berperan dalam pola hidup masyarakat yang berdampak pula pada posisi perempuan.

Di era globalisasi (2016), perempuan Papua mendapat tantangan berat untuk mempertahankan posisinya. Tantangan itu menjadi justru mengajak perempuan Papua untuk melihat, pengembangan budaya yang sesuai dengan tantangan globalisasi, khususnya perempuan Tambrauw.

Manusia Tambrauw

Kabupaten Tambrauw diresmikan pada tahun 2008. Secara pembagian wilayah adat, kabupaten ini terletak di wilayah adat Domberai atau sering dikatakan Kepala Burung pada peta Papua.

Kabupaten Tambrauw ditempati oleh lima suku besar yaitu Myah, Kur, Ireres, Abon dan Bykar (Byak Karoon). Dalam perjalanan budaya ada empat suku yang mempercayai tentang Fenia Meroh atau pendidikan perempuan yang menjadikannya menjadi perempuan sejati. Empat suku lainnya kecuali Bykar.

Kabupaten ini terkenal dengan keunikan penyu belimbing. Seperti keunikan penyu belimbing, begitu pula keunikan perempuan dari kabupaten ini. Perempuan Tambrauw dikatakan berbeda dengan perempuan lainnya ketika telah melewati tahapan-tahapan pendidikan adat.

  1. Manusia Tambrauw di Masa Lalu

a. Pola Hidup

Pola hidup masyarakat Tambrauw masa lalu berlandaskan paham kosmologi dan komunalisme. Artinya, pusat hidup orang Tambrauw di masa lalu berpusat pada alam dan hidup dalam kelompok-kelompok kecil (marga/klan). Seluruh orientasi hidupnya bersumber pada alam. Alam menjadi sumber utama hidup mereka. Pola relasi mereka adalah pola relasi yang saling menguntungkan dan saling ketergantungan.

Dalam pemahaman orang Papua khususnya orang di daerah Pegunungan Tambrauw, ada tiga hal utama yaitu: alam kosmos, alam manusia nyata, dan alam manusia tidak nyata atau roh-roh leluhur yang sudah meninggal.

Diyakini juga oleh manusia Tambrauw bahwa asal usul moyang dari suatu marga adalah dari alam (binatang, pohon, air dan batu).

b. Tatanan sosial

Tatanan sosial masyarakat Tambrauw selalu bersumber pada sistem marga atau klan yang mendiami suatu tempat tertentu atau dusun.

2. Nilai-nilai Budaya

a. Pendidikan Adat

Seorang perempuan Tambrauw dikatakan sejati atau Fenia Meroh jika telah melewati inisiasi adat yang disebut Mhu Kre. Inisiasi adat ini biasanya diikuti oleh perempuan remaja, yang mana mulai pubertas. Pendidikan ini didalamnya berisi nasehat-nasehat serta saran-saran dari orang tua. Harapannya, perempuan tersebut dapat tumbuh dewasa, lalu kuat dalam menghadapi persoalan hidup ini.

Ada pula tahapan inisiasi adat untuk laki-laki yang disebut Woun. Nama atau tempat adat disebut Akawuon, yang diajarkan di rumah adat ini adalah nilai-nilai moral-etika, keterampilan, dogma adat, larangan-larangan adat, religiositas dan pendidikan karakter atau pembentukan mental.

b. Nilai Spiritual Kosmos

Pada umumnya masyarakat Papua memiliki nilai spiritual yang tinggi, begitu pula manusia Tambrauw khususnya. Nilai-nilai yang dikedepankan adalah menjaga keharmonisan, keseimbangan, keutuhan dan kesatuan antara manusia dengan alam. Alam bukan hanya memiliki kekuatan ekonomis, namun memiliki kekuatan spiritual/rohani, kekuatan kesehatan, kekuatan energi gizi, kekuatan Ilahi, dan kekuatan keindahan. Sehingga orang Tambrauw masa lalu menjaga, menghargai alam sebagai suatu gambaran Sang Pencipta.

Hal yang disayangkan ketika masyarakat Tambrauw menerima budaya dari luar atau interaksinya, maka bergeserlah budaya atau kepercayaan ini atau semakin menghilang keberadaannya. Hal ini mempengaruhi pola pikir masyarakat asli dan mengubah kehidupannya.

3. Manusia Tambrauw Masa kini

Manusia Tambrauw masa kini mulai mengalami krisis identitas. Krisis identitas ini muncul akibat interaksi dengan budaya luar tanpa ada filter yang sesuai. Masyarakat menerima dan meninggalkan budaya/adat setempat sesuai dengan perkembangan zaman. Apalagi modernisasi atau era globalisasi menuntut masyarakat Papua khususnya Tambrauw untuk hidup seperti masyarakat global lainnya.

Modernisasi mengarahkan orang untuk memiliki ‘life style’ yang sama dan terbaru. Hal ini menjadi tantangan terbaru bagi masyarakat Tambrauw, akibat produk-produk moderinisasi yang digelorakan di negara ini membuat semakin sulit pengembangan adat di tingkat masyarakat meningkat.

Dalam diskusi beberapa pendapat berasal dari orang Tambrauw, melihat banyak pergeseren budaya yang membuat kehilangan identitasnya. Pergeseran ini dapat diperhatikan pada fenomena-fenomena yang terjadi di kalangan anak muda sekarang.

Hal yang paling menjadi fenomena besar adalah dalam perkawinan. Secara keseluruhan akibat interaksi dari luar, membuat kegagalan dalam memahami kehidupan dalam menjalin perteman, berpacaran hingga ke tahap perkawinan.

Dalam adat masyarakat Tambrauw dan Papua khususnya memiliki aturan adat tertentu. Contohnya ketika pihak laki-laki hendak menginginkan salah satu perempuan di kampung untuk dipersunting, maka lelaki ini harus melakukan diplomasi dengan saudara laki-laki dari pihak perempuan. Hal ini dilakukan agar ada interaksi yang baik antara pihak laki-laki dan perempuan.

Hal lainnya adalah ketika ditemukan masalah seperti pembayaran mas kawin atau masalah pada pihak laki-laki atau perempuan ada yang menjadi saksi atau penanggungjawab atas masalah tersebut.

Namun bila dibandingkan dengan realita sekarang, banyak pemuda-pemudi yang belum paham hal-hal demikian, sehingga seks bebas dalam hubungan pertemanan dan berpacaran menjadi hal yang biasa. Seks bebas juga menjadi pintu masuk untuk kehancuran generasi penerus bangsa.

Biasanya ketika hal ini terus menjamur akan menimbulkan lebih banyak masalah sosial di kalangan masyarakat Tambrauw khususnya. Apalagi di era gadget ini, justru mengarahkan masyarakat melihat segala perkembangan di dunia. Perkembangan yang baik dan buruk.

Peran agama dan budaya sudah menurun dalam menfilter hal-hal buruk. Sehingga perkembangan masyarakat akan bergantung kepada kebebasan individu tersebut dalam bijaksana menggunakan gadget tersebut.

  1. Kesadaran Masyarakat

Kesadaran masyarakat dalam melihat hal ini cukup meningkat akhir-akhir ini. Masyarakat juga sadar bahwa pendidikan menjadi salah satu tolak ukur untuk peradaban manusia di daerah mereka. Hanya saja, pendidikan formal menyingkirkan keberadaan pendidikan adat. Hal inilah yang seharusnya menjadi tantangan pemerintah daerah.

Pendidikan kaum perempuan diyakini sangat penting. Sebab peran perempuan dalam perkembangan dan pertumbuhan manusia Tambrauw tidak dapat dipisahkan. Contoh, perempuan mengandung hingga melahirkan, menyusui dan membesarkan merupakan hal yang alamiah. Dimana hal itu dapat dilakukan sendiri. Sehingga perubahan besar-besaran terhadap satu pola bisa diupayakan bila perempuannya mendapat didikan yang tepat.

Didikan yang tepat berkaitan dengan didikan karakter dan bertahan hidup, serta kedewasaan diri dalam mengolah informasi yang diperoleh.

2. Solusi yang ditawarkan

  • Perlu dilakukan pendidikan perempuan, namun relevansinya disesuaikan dengan keadaan globalisasi. Pendidikan adat dibuat lebih modifikasi agar dapat diterima oleh perempuan masa kini.
  • Laki-laki dan perempuan perlu melakukan diskusi untuk mengetahui kekurangan dan mengerti persoalan yang dihadapi keduanya. Sehingga tidak terjadi masalah-masalah sosial ketika ada budaya baru yang datang.
  • Peran keluarga dan lingkungan masyarakat sangat diperlukan untuk perkembangan manusia itu sendiri, sehingga diperlukan penyadaran masyarakat tentang keadaan sekarang yang justru menghancurkan tatanan masyarakat yang berbudaya, karena kepentingan segelintir orang.
  • Pemerintah juga turut aktif dalam menyelesaikan permasalahan seperti ini, dengan diantaranya menyediakan program kerja untuk menunjang masyarakat setempat.
  • Pendidikan perempuan dilakukan di setiap daerah di Papua, khususnya pendidikan kesehatan reproduksi.
  • Pribadi perempuan tersebut juga seharusnya lebih peka dan sadar untuk mengembangkan hal ini, sehingga proses ini dapat berjalan dengan baik.

‘Masa lalu Perempuan Tambrauw adalah pelajaran berharga bagi perempuan Tambrauw sekarang, sekarang akan menentukan masa depan, sehingga jadilah Fenia Meroh dulu, sekarang dan nanti.’

 

)* Penulis adalah Kelompok Belajar Perempuan Papua Yogyakarta. Artikel ini merupakan hasil diskusi Kelompok Belajar Perempuan Papua Yogyakarta di Yogyakarta.