Suara Korban Paniai 8 Desember 2014

0
291
Korban penembakan oleh aparat TNI/Polri di lapangan Karel Gobai Enarotali Paniai 8 Desember 2014. (Ist/SP)

Oleh: Benny Mawel)*

Siapa pelaku penembakan 4 Siswa pada 8 Desember 2014? Sejumlah Tim yang turun ke Paniai belum menjawab pertanyaan itu. Komnas HAM Republik Indonesia sekalipun belum menjawab. Komnas baru menduga ada keterlibatan aparat militer negara.

Waktunya dua tahun. Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Dengan satu keyakinan, “Suara korban adalah kebenaran,” saya menelusuri jalan darat Nabire-Pania pada 26 Mei 2015.

Setelah 6 Jam lebih, perjalanan tebing-tebing terjal yang sering lonsor, saya tiba di Pania untuk menemui korban luka penembakan. Saya tiba di Enarotali dan tinggal di Wisma keukupan Timika hingga 30 Mei 2016.

Wisma tempat saya menginap itu terletak kurang lebih 400 Meter dari lapangan Karel Gobay. Di pinggir lapangan itu ada empat makam siswa SMA korban penembakan. Lapangan Karel Gobay dikelilingi sejumlah rumah dan perkantoran. Kantor distrik Enarotali. Koramil dan Polsek Enarotali.

Hanya jalan lintas yang membatasi lapangan tempat makam, rumah dan perkantoran. Bagian timur dibatasi pagar pembatas lapangan terbang.

“Bro Itu kuburan korban Paniai berdarah. Simon Degey, Apinus Gobay, Alfius You dan Yulian Yeimo,” ungkap Yosias Yeimo sambil melewati jalan antara depan Koramil dan makam tempat jazad empat siswa itu terbaring.

Jarak makam ke kantor koramil hanya 8 Meter. Di jarak delapan meter itu, salah satu korban luka tembak, Oni Yeimo (23 tahun) berlari dan berdiri menegur anggota koramil yang menghadapi demonstran masyarakat.

Kata Oni Yeimo, anggota koramil itu menghadapi demonstran yang datang hendak meminta keterangan tentang kejadian 7 Desember2014 malam. Malam itu terjadi penganiayaan terhadap sejumlah pemuda yang memutar musik dan lagu natal di pondok natal

“Anak-anak ini tegur seorang yang lewat dengan motor tanpa menyalakan lampu. Mereka tegur, woe, kasih nyala lampu baru lewat, bisa tabrak orang tetapi tidak diterima. Orang yang diduga anggota TNI itu undang rekan-rekannya, datang mengunakan mobil dan aniaya para pemuda itu,” ungkap Yeimo.

Kata dia, masyarakat yang datang dengan tujuan meminta keterangan itu, aparat hadapi dengan tindakan represif, penembakan. “Saya dengar bunyi tembakan dari kebun. Saya lari ke tempat penembakan. Saya gabung, melihat ada satu orang jatuh. Satpam Yulianus Tobay tertembak,” ungkap Yeimo.

Lanjut Yeimo, “Setelah itu saya emosi. Saya ke depan koramil. Saya bilang kenapa kamu langsung tembak? Panas-panas saja kamu tembak itu dengan alasan apa? Semalam juga kamu duluan. Mereka medengar itu menodong saya dengan sejata.

Setelah menodong, mereka langsung menembak saya dari jarak dekat. Paling dekat. Kira-kira 6-8 meter. Mereka itu anggota koramil. Pelurunya masuk di sini keluar (sambil menunjuk luka bekas peluruh di ketiak kanannya) di belakang. Saya kena peluru saya mundur. Saya mundur-mundur sampai ujung lapangan terbang. Saya ketemu Apius You yang meningal itu. Waktu itu dia tidak kena apa-apa? Ko tidak kena to… ko lari tetapi dia bilang saya, ko yang harus lari?

Setelah itu, saya keluar ke bandara? Lapangan MAAF. Dari situ saya lihat polisi dari depan Polsek masuk ke lapangan. Mereka lari ke bawa arah ujung lapangan? You masih bediri di tempat tadi. Saya teriak You lari-lari. Tetapi, mungkin dia tidak dengar. Polisi yang masuk keroyok dia. Mereka pakai senjata pukul. Dia merayap. Mereka pegang tangan dan kaki. Jarak jauh jadi saya tidak melihat mereka tembak dari arah mana.

Mereka juga lihat saya yang sedang teriak You jadi tembak pakai pistol. Dua peluruh masuk di tubuh. Satunya ke di tagan kanan ini. Dekat telapak. Saya lari ke lapangan terbang. Saya tertembak lagi di tagan kanan. Saya terus lari ke kebung-kebun. Saya bersihkan luka pakai air. Saya masuk ke gereja Kogotu,”Yeimo mengisahkan peristiwa kemanusiaan itu.

Kata dia, hingga malam, dirinya bersembunyi di salah satu rumah dekat gereja. Malamnya, dia pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari gereja dan lokasi kejadian.

Penyelesiaan Diperimpangan Jalan

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Republik Indonesia hanya mampu menduga terjadi pelanggaran HAM berat di sana. Ada indikasi keterlibatan aparat keamanan di sana dalam menghadapi warga sipil yang tidak bersenjata.

Budi Hernawan, anggota tim Ad Hock, sebelum mengundurkan diri, kepada penulis, mengatakan komnas HAM menyebut itu pelangaran HAM karena dugaan keterlibatan aparat secara sistematis.

“Komnas HAM menemukan unsur sistematik dan meluas yang melibatkan aparat keamanan negara. Penyerangan aparat Negara terhadap warga sipil yang tidak bersenjata,”ungkap sebagai anggota tim ad hock.

Atas kesimpulan itu, Komnas HAM membentuk tim ad hock, termasuk dirinya sebagai anggota tim, untuk melakukan penyelidikan . Tetapi, tim yang dibentuk bulan Maret dan disahkan 15 Oktober belum berjalan. Nasib tim ini tidak jelas. Ada anggota yang sudah mengundurkan diri, termasuk budi Hernawan.

Penggunduran diri, tidak berjalan tim ad hock, semua pihak pihak di Papua menduga, roses kasus ini tidak berjalan. Hak-hak korban bakal tidak terpenuhi, termasuk harapan para aktivis membawa kasus ini ke pegadilan Hak Asasi Manusia.

Salah satu alasan utama, kemandekan kasus ini, kesulitan menetapkan siapa pelaku dalam peristiwa ini. Saling tuding, melempar tanggungjawab, antara Polisi hingga TNI. Komnas HAM pun sulit masuk memeriksa insitusi TNI/Polri, terutama anggota aparat keamanan yang bertugas saat itu.

“Polisi kesulitan meminta keterangan institusi keamanan lain. Ini masalah lintas institusi,”ungkap Frist Ramdey kepala kantor KOMNAS HAM RI perwakilan Papua dalam audiens dengan Solidaritas Korban Pelanggaran HAM di kantor Perwakilan Komnas HAM Papua.

Pastor Marten Kuayo, dekan dekenat Paniai, keuskupan Timika, tanpa pemeriksaan pun sudah jelas dari keterangan saksi dan waktu kejadian. Peristiwa itu terjadi di pagi hari sekitar jam 10. Lokasi kejadian pun tidak jauh dari pusat kosentrai publik dan depan markas aparat keamanan.

“Siapa pelakunya? Saya sebagai pimpinan gereja, tidak ada lain, aparat keamanan. Peristiwa terjadi di depan koramil, polsek dan di tegah kota Enarotali,” tegas Pastor Mathen Kuayo Pr, dekan dekenat Paniai, Keuskupan Mimika kepada penulis 29 Mei 2015 di ruang kerjanya, Enaro Paniai.

Pdt, Gerad Gobay, pemimpin wilayah setempa, Gereja Kemah Injil (KIGMI) Papua mendesak aparat mengakui perbuatannya. Pengakuan dalam rangka saling membangun kepercayaan, perdamaian dan pengampunan di antara orang beriman.

“Lebih baik jujur saja supaya Tuhan bisa mengampuni,” ungkapnya kepada penulis saat wawancara 27 Mei 2015.

Ungakapan pengampunan juga datang dari korban luka, Kepala desa Awabutu, Yeremias Kayame. Waktu peristiwa kepala kampung ini merasa bertanggungjawab mengamankan anak-anak yang sedang aksi. Ia berusaha menegahi namun, penembakan yang brutal membuat dirinya terluka.

“Saya waktu itu pikir, ini wilayah saya. Saya mau arahkan anak-anak tetapi peluru kenah tangan kiri saya. Saya selalu berdoa supaya pelakunya bertibat. Saya berdoa supaya Tuhan mengampuni dia,”kata pria yang berprofesi sebagai pewarta Injil di lingkungannya ini kepada penulis.

)* Penulis adalah wartawan Koran Jubi dan Jubi Online. Tulisan ini dipersembahkan untuk mengenang dan melihat kasus Paniai yang hingga dua tahun tak kunjung selesai.