Poligami Masa Kini Tanpa Alasan Mendasar

0
182

Oleh: Kelompok Belajar Perempuan Papua di Semarang )*

Persoalan poligami masih hangat diperbincangkan masyarakat, tak terkecuali anak muda di jaman kini. Meski banyak alasan dan pandangan, suara keras bernada penolakan terus disampaikan aktivis perempuan menentang adanya poligami karena dianggap sebagai cara lain bagi laki-laki menindas kaum perempuan.

Pendapat ini mengemuka dalam diskusi lepas yang diselenggarakan mahasiswi Papua di Semarang,  Jawa Tengah, Sabtu (28/1/2017) petang. Diskusi diadakan di Kontrakan Moge, Semarang, dihadiri 14 orang, dipandu Alfrida Kedeikoto, mahasiswi Universitas PGRI Semarang, dengan notulis Shelly Tekege, mahasiswi Universitas PGRI Semarang.

- Event -
Festival Film Papua

Merry Nawipa, mahasiswi Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang, sebagai pemantik materi, mengungkapkan, poligami pada dasarnya datang dengan beribu alasan yang menghasilkan berbagai argumen yang menjadi pemicu berbagai pendapat terus mengalir menambah perdebatan mengenai poligami di tengah masyarakat.

Dalam pembahasan materi yang diawali dengan penjelasan singkat mengenai poligami dan dilanjutkan diskusi lepas hingga menghasilkan sejumlah kesimpulan, mengerucut pada beberapa hal penting baik dari aspek agama, budaya, dan kecenderungan kaum laki-laki di era modern dewasa ini.

Hasil Diskusi

Berbicara mengenai poligami seperti tak akan ada ujungnya karena laki-laki cenderung berpoligami dengan beribu alasan untuk meyakinkan istri maupun masyarakat sekitarnya. Alasan-alasan tersebut dengan pandangannya masing-masing tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi kemudian.

Poligami juga ternyata menjadi salah satu topik paling hangat dibicarakan saat ini di kalangan anak muda.

Perlu dipahami bahwa poligami adalah salah satu kebiasaan memiliki istri lebih dari satu dalam kurun waktu bersamaan. Itu sering terjadi karena berbagai alasan dan pandangan. Seringkali orang menganggap poligami itu hal biasa yang terjadi kapan saja pihak laki-laki mau tanpa ada pemikiran akan dampaknya.

Dari aspek Agama Islam, poligamai itu hal biasa, namun tak terlepas dari ketentuan-ketentuan tertentu. Laki-laki boleh menikah jika ada persetujuan dari perempuan.

Menurut Agama Kristen sebelum Perjanjian Baru, orang berpoligami itu biasa. Karena dalam Alkitab memuat akan bunyi yang maknanya seakan mengijinkan seorang lelaki boleh berpoligami. Namun, poligami menurut Agama Kristen setelah Perjanjian Baru, poligami itu sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Agama. Sesuai Perjanjian Baru, satu orang perempuan diciptakan untuk satu orang lelaki. Ini berdasarkan kisah awal penciptaan manusia pertama. Tuhan menciptakan perempuan dari tulang rusuk laki-laki hanya satu orang.

Ini artinya, Yesus datang untuk menggenapi yang kurang baik, menambahkan yang kurang dan mengurangi yang lebih.

Jika dipelajari lebih dalam lagi, orang berpoligami karena belum memahami penuh tentang ajaran agama itu sepenuhnya.

Dalam adat, poligami itu terjadi pada orang-orang tertentu. Orang-orang tersebut punya kekayaan, harta, uang, ternak peliharaan, yang dalam suku Mee biasa disebut “Tonawi”. Hal seperti itu terjadi setelah adanya kesepakatan bersama antara pihak perempuan dan pihak istri. Juga kepada keluarga yang tidak memiliki anak, karena perlunya anak sebagai penerus marga, pewaris harta kekayaan orang tua.

Seiring berjalannya waktu, poligami itu disalahgunakan oleh orang di jaman sekarang. Kaum lelaki menikah dua atau lebih istri dengan alasan yang kurang tepat. Alasan paling mendasar yang sering terungkap dasarnya hanya karena ikut-ikutan. Terpengaruhnya laki-laki dengan omongan teman sejawat.

Secara umum, alasan-alasan seorang lelaki berpoligami dapat dirincikan sebagai berikut:

  1. Membutuhkan penerus keturunan: Kebanyakan laki-laki menikah istri kedua dengan alasan ingin punya ketururan yang banyak. Karena sebagai seorang ibu atau ayah pasti punya anak untuk mewariskan apa yang dipunyai. Dilihat dari perfektif adat, keturunan ini sangat penting untuk penerus marga.
  2. Kurangnya pelayanan dari perempuan: Poligami itu kadang terjadi karena kurangnya pelayanan yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Poligami adalah perkawinan dua atau lebih istri. Lelaki ingin menikah lagi jika dalam rumah tangga kurang cinta kasih, pelayanan dan kenyamanan.
  3. Pengaruh lingkungan: Banyak orang ingin menikah istri kedua hanya untuk mencari nama. Yang namanya laki-laki selalu ingin punya yang lebih dan tidak ingin disaingi orang lain. Hal seperti itu terjadi pada saat penghasutan dari teman sejawat muncul.

Dampak Poligami

Poligami tentunya memiliki dampak yang mungkin merugikan. Sesuai kesimpulan yang didapat dari diskusi kali ini, kebanyakan dampak yang terungkap dari pendapat teman-teman berdasarkan realita, intinya merugikan.

Dampak-dampak tersebut dapat dirincikan sebagai berikut:

  1. Psikologis

Perempuan adalah manusia paling lemah yang sering mengalah dan mengutamakan perasaan. Kondisi seperti ini membuat perempuan itu terkadang susah untuk mengatasi. Dari sisi psikologis, dengan adanya poligami, psikis perempuan tentunya sering terganggu

  1. Kasih Sayang

Poligami itu menghancurkan kasih sayang. Dengan adanya poligami, kasih sayang ayah terhadap anak dan istri akan terbagi.

  1. Kesenjangan Ekonomi

Sudah tentu dengan bertambahnya anggota keluarga, semakin banyak punya tanggung jawab yang harus ditanggung oleh kepala rumah tangga.

  1. Hancurnya Rumah Tangga

Dengan adanya poligami, kehidupan dalam rumah tangga tidak akan aman. Akan selalu merasakan kurang atas semua yang diberikan, dari kasih sayang sampai ekonomi rumah tangga. Tentunya hal seperti itu akan mendatangkan banyak hal yang sebenarnya tidak diinginkan ada.

  1. Ketidakadilan

Seperti yang sering terjadi, istri pertama dan anak-anaknya akan tersisih. Meskipun poligami berangkat dari kesepakatan, perasaan seseorang hanya bisa dilihat oleh Tuhan. Sudah pasti ketersisihan akan ada di dalam.

Korban Penindasaan

Sebenarnya poligami itu merupakan salah satu penindasan terhadap perempuan. Dengan adanya poligami, perempuan semakin tersisih. Kasih sayang yang berhak didapatkan oleh perempuan dapat terbagi dengan adanya istri kedua.

Bukan hanya kasih sayang, poligami itu membuat perempuan semakin tersiksa karena laki-laki sesungguhnya dalam mengambil tindakan seperti itu kebanyakan memikirkan perasaan.

Dari dulu sampai sekarang tidak pernah ada titik ujungya dalam membicarakan poligami. Untuk mengatasinya, tidak ada solusi yang pas karena setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda. Sudah tentu cara untuk mengatasi hal poligami berbeda jika terjadi dalam hidupnya.

Ada satu pendapat yang menurut kami menarik untuk jadikan pelajaran untuk perempuan adalah mengetahui lebih jauh akan pasangannya sebelum terlanjur lebih jauh dari semua sisi agar tidak terjadi hal tersebut.

Banyak solusi yang akan kita tahu dari banyak mulut, tetapi akan lebih indah jika untuk mengatasinya kembali ke pribadi masing-masing.

Kami sebagai perempuan terpelajar yang mengerti akan poligami, jangan jadi korban poligami. Laki-laki datang dengan beribu alasan untuk merayu demi memuaskan kepentingan sendiri. Itu biasa. Maka, pilihan ada pada pribadi perempuan masing-masing. Berpikir terlebih dahulu, lalu memilih hal yang menurutmu baik dengan beribu pertimbangan yang harus dipikirkan lebih matang.

Hal yang perlu diingat oleh laki-laki, menyakiti perasaan perempaun sama halnya dengan menyakiti hati mama yang melahirkan dengan susah payah. Berpoligami itu baik dan tidak, boleh dan tidak kembali ke pribadi masing-masing pria.

Satu hal yang menjadi catatan buat para lelaki: betapa sakitnya mama jika istrimu atau pasanganmu sakit hati karena hal tersebut mau atau tidak mau akan dirasakan juga oleh mama.

“Tuhan memberi pasangan dalam hidupmu untuk menggantikan ibumu. Perlakukan mereka seperti ibu kandungmu yang tidak tergantikan oleh siapapun.”

 

)* Artikel ini merupakan hasil diskusi Kelompok Belajar Perempuan Papua di Semarang.

SHARE
suarapapua.com adalah situs berita dan informasi seputar tanah Papua yang dikelolah oleh beberapa anak-anak muda Papua. Ia menyajikan berita seputar pendidikan, kesehatan, budaya, social, pembangunan, dan politik.Sudah saatnya orang Papua berbicara tentang apa yang dilihat, dijalani, didengar dan dialami.