Dua Siswa Papua “Cabut” Dari Amerika, Lainnya Masih Merana

0
421
Mahasiswa Papua di Amerika bertemu dengan pemerintah Indonesia. (IST - SP)

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Nasib para pelajar dan mahasiswa Papua yang sedang mengenyam pendidikan di Amerika Serikat, saat ini tak menentu karena persoalan finansial. Pasalnya, dana dari Pemprov Papua kabarnya belum dikirim.

Salah satu mahasiswa yang meminta namanya tak disebutkan, menjelaskan, nasib mereka tak diperhatikan dengan baik sejak tahun 2016 lalu.

“Kami merasa letih sejak tahun lalu pada musim gugur antara September sampai akhir Desember 2016,” tulisnya dalam surat elektronik yang dikirim ke redaksi suarapapua.com, kemarin.

Dikabarkan, mahasiswa-mahasiswi Papua di Amerika Serikat saat ini dalam kondisi lampu kuning sedikit lagi menjadi lampu merah. Meski diakui bahwa mereka telah terima uang akomodasi dari Pemprov dalam hal ini Biro Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Papua, itu pun hanya sebagian saja, tidak seperti musim panas dimana dana dikirim sesuai keputusannya.

Akibat dari itu, beberapa mahasiswa yang tinggal bersama host family sudah dikeluarkan karena rent of due date habis. Sebelumnya, host family diminta bersabar sekaligus beri kesempatan untuk memenuhi uang rentnya. Tetapi, karena janji tersebut telah berlalu bahkan beberapa bulan tak bayar, akibatnya dua siswa SMA kembali ke Papua.

Dua students dari Green River Collage (GRC), Auburn, Washington State, Amerika Serikat, itu pulang ke kampung halaman karena takut dideportasi.

“Kalau kamu tidak lagi bayar, kamu akan dideportasi ke negara asalmu,” ujar host family kepada dua siswi SMA yang telah kembali ke Papua.

Mendengar itu, mereka berdua memutuskan untuk pulang ke Papua sebelum barang-barangnya dikeluarkan secara kasar.

Pengakuan sama datang dari beberapa mahasiswa Papua lainnya.

“Kami malu sekali hanya janji dan janji trus kepada host family. Apalagi mereka ini orang barat, bicaranya hanya to the point. Kami bersyukur karena mereka beri kami beberapa bulan untuk tinggal walaupun kami belum bayar rent,” kata seorang mahasiswa di Green River Collage, Auburn.

Selain itu, ada juga beberapa student yang tinggal sama orang tua angkat, mendapat peringatan keras melalui email, bahwa “Akan lebih baik bagi Anda untuk pindah ke Apartemen milik sekolah sesegera mungkin. Sewa Anda akan prorata sebesar $ 24 per malam dari hari Anda pindah sampai 3/21/2017.”

Anak-anak Papua di sana sebenarnya merasa gembira karena pada hari Senin (29/1/2017) dianggap sebagai hari mujur. “Tetapi janji itu tidak terbukti. Pemprov tidak tepati janji untuk kirim uang,” keluhnya dengan penuh kecewa.

Mereka merasa ditipu. Mereka saat ini sudah kehilangan melihat terang dan tidak ada harapan. Sebab, “Di Amerika, buang air kecil di jalan saja denda, apalagi dalam segala hal seluk beluk kehidupan,” tulisnya.

Meski proses belajar berjalan seperti biasa, persoalannya adalah biaya hidup yang hinga kini belum juga dikirim oleh Pemprov Papua.

Situasi sama dialami puluhan pelajar dan mahasiswa Papua di Kanada. Bantuan beasiswa oleh Pemprov Papua, dalam hal ini pihak BPSDM, belum direalisasikan selama tiga bulan terakhir.

Berulangkali sudah berusaha menghubungi melalui email, tetapi tanggapan yang didapat hanya janji akan dikirim pada minggu ketiga Januari 2017. Tetapi, hingga minggu pertama Februari ini belum ada kabar menggembirakan.

Akibatnya, sebagian besar anak Papua di Kanada tak melanjutkan pendidikan. Beberapa diantaranya membatalkan semester, ada pula yang sudah dikeluarkan oleh pihak pemilik rumah kos karena terlambat membayar, dan masih banyak persoalan lainnya.

 

Pewarta: Mary Monireng