Sekjen ULMWP: Jangan Percaya Propaganda Murahan Kolonial!

1
459

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Pimpinan United Liberation Movement for West Papua New (ULMWP) mengajak kepada rakyat Papua Barat agar tak mudah terpancing propaganda pemerintah Indonesia dan kaki tangannya selama ini.

“Kami menghimbau kepada segenap Bangsa Papua Barat agar jangan mudah percaya dengan propaganda murahan dari kolonial dan kaki tangannya,” ujar Octovianus Mote, sekretaris jenderal ULMWP, dikutip dari pidatonya pada kegiatan syukuran hasil kerja ULMWP tahun 2016, yang juga diterima media ini, kemarin.

Ia menyebutkan adanya propaganda murahan itu misalnya, ULMWP bukan anggota MSG. “Padahal saat ini Indonesia dan ULMWP duduk setara dalam setiap pertemuan resmi pimpinan MSG, protokol MSG memperlakukan ULMWP sebagai anggota penuh, mulai berlaku sejak pertemuan para pemimpin MSG pada 20-23 Desember 2016 di Vanuatu dan di awal tahun 2017, tepat tanggal 17 Januari 2017, resmi mendapat ruang kerja di Sekretariat MSG,” jelasnya.

Kata Mote, partisipasi resmi ini sesuai keputusan dalam pertemuan pejabat senior, pertemuan para menteri luar negari MSG di Lautoka Fiji pada Mei 2016. ULMWP bahkan lebih dulu berpartisipasi dengan memberikan kontribusi kepada sekretariat MSG.

Diakui, kemajuan luar biasa yang dilakukan tatkala tuan Manaseh Sogovare, Perdana Menteri Solomon Island pemimpin MSG membentuk wadah baru bernama Pacific Island Coalition on West Papua (PICWP). Yakni gabungan dari Negara-Negara di Pasifik yang secara terbuka memperjuangkan masalah Papua di kawasan Pasifik dan di forum Internasional termasuk di PBB.

“Wadah ini merupakan suatu lompatan kemenangan politik, dimana anggotanya bukan saja dua Negara Melanesia yakni Solomon Island dan Vanuatu, melainkan beberapa negara Polinesia dan Mikronesia. Buah komitmen mereka sudah kita saksikan bersama, 7 Kepala Negara berpidato di depan sidang Umum PBB dalam bulan September 2016. Inilah buah kerja pemimpin yang sudah teruji selama bertahun-tahun memperjuangkan kemerdekaan. Semua fakta ini perlu dipahami secara baik agar tidak terpancing issu murahan yang disebarkan oleh kolonial dan kaki tangannya,” ungkap Mote.

Saat ini, jelas dia, ULMWP memasuki tahun ketiga sejak pertama kali dibentuk sehari sesudah perayaan Injil Masuk di Tanah Papua.

“Ketika itu, sehari sebelum kami menyerahkan lamaran ke Sekretariat MSG, kami menghadap yang mulia Joe Natuman Perdana Menteri Vanuatu. Dalam pertemuan itu beliau berkata bahwa kalau Injil masuk di Tanah Papua untuk menghalau setan rohani dari Tanah Papua, maka besok ULMWP dibentuk untuk menghalau setan politik yang saat ini menjajah Tanah Papua,” ujarnya sembari menegaskan, ULMWP dibentuk untuk menghalau penjajah Indonesia dan bukan menjadi sarana NKRI sebagaimana dikampanyekan satu dua orang manusia Papua yang konon kabarnya aktivis Papua merdeka di media sosial belakangan ini.

Sebagaimana pada pidato 1 Desember 2016 lalu, meski di usia yang relatif muda, ULMWP telah berhasil mencapai berbagai kemajuan-kemajuan politik. “Kemajuan itu membuat pihak musuh ketakutan karena mereka tidak bisa lagi kendalikan dengan mudah gerakan Papua Merdeka,” tegasnya.

Mote membeberkan, dalam tahun pertama ULMWP menjadi anggota MSG dan mampu menempatkan masalah Papua dalam agenda utama pertemuan tahunan Forum Negara-Negara Pulau Pasifik, selanjutnya dalam tahun kedua, ULMWP memastikan bahwa masalah Papua Barat bukan lagi masalah Negara-Negara di Kawasan Melanesia, melainkan masalah Papua adalah masalah kawasan Pasifik.

“Hal ini terlihat jelas menguatnya masalah Papua dalam pertemuan tahunan Kepala Negara-Negara Pulau Pasifik, di Pohn Pei, Ibu kota Negara Federasi Mikronesia. Dalam komunike, mereka menyatakan bahwa masalah HAM Papua akan selalu berada dalam agenda pertemuan tahunan mereka,” kata Mote.

Menurutnya, ini bukan pemimpin Melanesia semata-mata, melainkan juga negara-negara di wilayah Mikronesia dan Polinesia termasuk Australia dan Selandia Baru. Mereka putuskan bahwa dalam setiap pertemuan tahunan mereka masalah Papua akan menjadi agenda pembicaraan mereka, dan itu buah dari kerja keras ULMWP.

“Sekali lagi, jangan terpancing oleh mereka yang berusaha menghancurkan wadah ini dengan menyebarkan fitnah murahan di sosial media. Apakah itu yang menuduh sudah menjadi alat NKRI atau yang mengkampanyekan seakan ULMWP belum mewakili semua kelompok perjuangan? Semua itu ujung-ujungnya hendak membunuh wadah tunggal aspirasi Papua Merdeka ini dan bukan saja menyingkirkan kepemimpinan eksekutif ULMWP termasuk Tim Kerja di Tanah Air,” bebernya.

Pewarta: Mary Monireng