Masyarakat Keerom Lawan Badai Kepunahan

0
169
Pertemuan masyarakat dengan tim di Keerom. (Ence Florino - SP)

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Sekelompok masyarakat Keerom bersepakat untuk melawan badai kepunahan orang Papua. Hal ini terungkap dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Rumah Teratai-Baku Peduli dari Yayasan Teratai Hati Papua wilayah Keerom di Aula Paroki St. Willibrodus Arso Kota, Sabtu (4/2/2017).

Diskusi yang menghadirkan dr. Grace Daimboa dan dr. Gunawan dengan fokus pada persoalan kesehatan ini mengungkapkan bagaimana masyarakat asli Papua sedang mengalami depopulasi. Salah satu masalah yang harus menjadi perhatian semua pihak saat ini adalah masalah kesehatan.

“Orang Papua itu adalah manusia yang unik dan terbatas, akan tetapi saat ini badai sedang menghantui kita. Ada banyak ancaman kepunahan orang Papua, salah satunya adalah semakin banyaknya penyakit baik menular maupun tidak menular namun berbahaya yang diderita oleh orang Papua,” kata dr. Grace mengutip perkataan seorang profesor dari Jepang yang meneliti tentang DNA orang Papua pada tahun 2010 lalu.

- Event -
Festival Film Papua

Lanjut dia, “Sejak saya bekerja di Keerom tahun 2014 lalu, saya sangat terkejut karena menemukan banyak orang Papua asli yang menderita diabetes, struk dan kanker. Bahkan saya menemukan ada orang Papua masih berusia 21 tahun sudah terkena kencing manis, padahal biasanya teori mengatakan yang kemungkinan terkena kencing manis adalah orang yang sudah berusia di atas 40 tahun. Padahal masyarakat Papua itu adalah masyarakat pekerja keras yang seharusnya sulit terkena penyakit diabetes atau struk.”

Ia menjelaskan, dalam penelitian oleh dokter-dokter ahili dari Jepang tentang Genetic Starvation orang Papua dengan sampel suku di Serui dan suku Dani, ditemukan bahwa tubuh orang Papua sudah mengalami metabolism sindrom.

Dikatakan, ini mengejutkan karena dalam penelitian itu ditemukan bahwa dalam usia muda orang Papua sudah terkena metabolism sindrom. Tanda metabolism sindrom itu adalah gemuk, yaitu perut besar, paha besar dan pantat besar. Ternyata hal ini disebabkan oleh diet atau pola makan yang salah. Pankreas yang sudah terbiasa mengolah makanan seperti sagu dan petatas, kini dipaksa untuk mengolah nasi yang mengandung gula tinggi.

“Sagu itu kadar gulanya rendah sedangkan petatas mengadung gula sedikit, sehingga ketika makan nasi, pankreas orang Papua kaget dan tidak mampu mengolah makanan yang masuk dengan baik,” tambah dr. Grace yang menjadi pemimpin tim penelitian tersebut.

Sementara itu, dr. Gunawan Ingkokusumo menerangkan bahwa dari hasil penelitian dr. Aloysius Giay saat ini sedang terjadi depopulasi orang Papua.

“Ada lima faktor utama terjadinya depopulasi orang Papua yaitu, faktor politik dan kekerasan, budaya dan perubahan, stres karena Otsus, miras dan KDRT serta penyakit-penyakit,” ungkapnya.

“Namun saat ini sesungguhnya ada faktor lain yang juga sangat berbahaya dan menyebabkan lima faktor terus menyebabkan depopulasi orang Papua. Faktor tersebut adalah sikap cuek dan apatis dari berbagai pihak,” tambah dr. Gunawan.

Sementara itu, para peserta diskusi pun mengeluhkan kondisi pelayanan di Rumah Sakit Kuaingga yang kurang maksimal. Masyarakat bahkan menyebutnya sebagai rumah sakit batuk pilek karena menilai hanya penyakit batuk pilek saja yang bisa disembuhkan di sana.

“Pelayanan di Rumah Sakit Kuaingga ini seringkali buat kita kecewa karena beberapa kali kami mengalami sendiri bagaimana pasien sudah antri panjang, tapi petugasnya tidak ada. Setelah dicek, ternyata mereka sedang bermain HP di dalam ruangan. Ini harus menjadi perhatian petugas kesehatan agar memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan baik,” keluh Oktovina Uriager dalam kesempatan diskusi.

Menanggapi hal ini, dr. Grace menjelaskan bahwa stigma dalam masyarakat Papua khususnya di Keerom ini terhadap orang yang terinfeksi HIV masih sangat tinggi. Sementara ada beberapa masyarakat yang terinfeksi HIV yang memeriksakan diri di Rumah Sakit Kuaingga. Petugas kesehatan tentu tak akan memberitahukan kepada keluarga bahwa sang pasien terinfeksi virus HIV. Karena itu, biasanya kami memberitahukan bahwa pasien sedang menderita penyakit lain seperti batuk pilek.

“Terkait petugas yang bermain HP, hal itu akan menjadi perhatian kami. Saya akan sampaikan kepada teman-teman petugas kesehatan agar meningkatkan kualitas pelayanan. Akan tetapi kita semua harus menghentikan stigma. Stigma juga masih tinggi, padahal untuk sembuh itu bukan hanya obat. Tapi dukungan dari keluarga sangat penting untuk kesembuhan pasien. Karena itu, pasien harusnya didukung bukan ditinggalkan. Itu bukan hanya untuk yang HIV, tetapi untuk semua penyakit. Jadi, kita harus mendukung keluarga kita yang sakit dan menghentikan stigma,” tuturnya.

Berjuang Melawan Badai Kepunahan

Hubertus Kwambre, tokoh masyarakat adat Keerom, mengatakan, banyak persoalan yang selalu dihadapi warga setempat, sehingga perlu ada solusi untuk mengatasinya.

“Diskusi seperti ini harus lebih sering dilakukan agar semakin banyak orang yang sadar tentang masalah yang dihadapi masyarakat. Kalau bisa YTHP semakin sering melakukan kegiatan seperti ini dengan melibatkan pihak terkait seperti pemerintah, tokoh agama dan tokoh adat. Kalau bisa diskusi berikutnya mengangkat juga persoalan air bersih yang sangat sulit di Keerom ini termasuk untuk di Rumah Sakit,” kata Hubertus.

“Kita baru saja memulai walaupun dengan kelompok kecil. Diharapkan kali berikut lebih banyak orang yang mau terlibat sehingga kelompok kita ini bisa bersama-sama berjuang melawan berbagai faktor badai kepunahan tersebut,” tanggap Natalia Yonggom, staf YTHP wilayah kerja Keerom.

 

Pewarta: Arnold Belau