SKPD di Lingkungan Pemkab Jayawijaya Diminta Sinkronkan Program Kerja dengan USAID Bersama

0
64

WAMENA, SUARAPAPUA.com — Asisten Satu Setda Kabupaten Jayawijaya, Tinggal Wusono meminta kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk sinkronkan program kerja bersama USAID-Bersama untuk mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan, terutama mengurangi Kekerasan Berbasis Gender (KBG) di kabupaten Jayawijaya, Papua.

Tinggal menegaskan, satu persoalan utama di Jayawijaya adalah bagaimana proses visum di rumah sakit. Artinya supaya proses ini tidak dipersulit dan ini bisa diatur dalam kebijakan di SKPD, sehingga pihak kepolisian dan Kejaksaan bersama SKPD dapat berjalan tanpa ada soal.

“Tetapi keberhasilan dari program ini adalah bagaimana membangun kesadaran masyarakat agar bisa melaporkan kasus-kasus kekerasan, supaya juga ada dukungan secara psikologi, walaupun kami di sini belum ada psikolog,” kata Tinggal saat launching sinkronisasi program USAID-Bersama Pemda Jayawijaya dan sejumlah LSM dan media di aula Hotel Balim Pilamo, Kamis (16/2/2017).

Intinya ia berharap supaya dengan sinkronisasi ini bisa ada dampak kedepan dalam mengurangi kasus kekerasan gender di Kabupaten Jayawijaya.

Sementara, Sri Kusyuniati, Chief of Party USAID-Bersama dalam pemaparannya mengatakan, sebelumya pihaknya melakukan kegiatan presentasi tentang hasil studi kesehatan dan pengalaman hidup laki-laki serta perempuan di empat kabupaten di Provinsi Papua dan Papua Barat, sementara tindak lanjutnya hari dilakukan sinkronisasi program USAID-Bersama dengan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya.

“Ya hari ini bagaimana kita bisa mensinkronkan program antara SKPD terkait di Pemda Jayawijaya supaya mencapi tujuan bersama mengurangi Kekerasan Berbasis Gender (KBG), karena ini penting. Tetap saya berharap supaya kita tidak perlu menggunakan istilah gender, baiknya mengunakan istila relasi supaya tanggapannya baik,” kata Sri.

Kegiatan launching ini dilakukan dua hari, Kamis (16/2/2017) dan Jumat (17/2/2017) di tempat yang berbeda.

Pewarta: Elisa Sekenyap
Editor: Arnold Belau