Karena Monopoli, Abang Becak dan Ojek Nyaris Bentrok

0
46

WAMENA, SUARAPAPUA.com — Kesal penghasilannya menurun akibat meningkatnya jumlah tukang ojek di kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, sejumlah tukang becak, Selasa (21/2/2017) siang mendatangi salah satu pangkalan ojek di jalan Ahmad Yani Pasar Misi Wamena. Mereka bahkan melakukan pengrusakan terhadap sejumlah fasilitas di pangkalan tersebut.

Aksi para tukang becak yang juga kesal karena Pemerintah Daerah Jayawijaya tidak melakukan penertiban ojek sesuai janji sebelumnya itu nyaris bentrok, lantaran aksi perang mulut antara tukang becak dan ojek.

“Kami minta bagi tukang ojek yang orang pendatang jangan buat pangkalan ojek banyak di kota ini, karena ada becak. Kami (tukang becak) sulit dapat penumpang gara-gara kalian ojek lalu-lalang di kota ini,” teriak seorang tukang becak saat perang mulut.

Heseke Pawika, pemilik pangkalan itu tegas menjawab teriakan para tukang becak. Kata dia, pangkalan yang dirusak ini bukan milik orang pendatang, tetapi dirinya yang adalah putra daerah Wamena.

Pawika klaim, pangkalan tersebut sudah terdaftar resmi di Dinas Perhubungan Jayawijaya. Hanya saja ia akui memang orang pendatang yang mendominasi di pangkalan tersebut.

“Pangkalan ini saya punya. Saya sebagai tuan tanah di sini. Saya punya surat izin lengkap,” ujarnya.

Sementara, Eferdius Pahabol, salah seorang tukang becak setelah kejadian itu, mengatakan, pihaknya sudah lama menyampaikan ke pemerintah daerah supaya ojek ditertibkan. Tetapi pemerintah tak pernah menanggapi hal tersebut.

Kalaupun pemerintah daerah pernah berjanji, menurut Pahabol, hingga kini tak pernah ada tindak lanjut untuk penertiban sesuai desakan selama ini.

“Sebenarnya kami abang becak ini dalam kota, tetapi ojek ambil alih mereka yang operasi. Kami selalu bikin demo pemerintah, tetapi pemerintah tidak mau dengar. Kami akan bongkar pangkalan ojek yang dalam kota jika tidak ada tanggapan apa-apa. Kami becak ini sudah diatur dalam Perda sejak bupati J.B Wenas, sehingga ojek silakan operasi di luar kota dan malam hari,” ungkap Pahabol.

Ia juga menegaskan, pihaknya sudah sepakat untuk mengusir semua tukang ojek pendatang yang semakin hari semakin banyak.

“Ini kami sudah setuju. Sudah sepakat. Yang pendatang semua harus keluar. Karena, kalo mereka kuasai, kami makan apa? Kerja bangunan saja tidak ambil orang Papua baru pekerjaan yang kita bisa kerja ini mereka mau ambil semua lagi,” tegas Pahabol.

Yosafat Yogobi, ketua Asosiasi Ojek di Wamena mengakui, Kamis (23/2/2017) besok pihaknya berencana melakukan aksi demo ke pemerintah daerah supaya segera ada penertiban.

Kata Yogobi, sebenarnya ojek tak diperbolehkan beroperasi di dalam kota, karena itu porsinya becak.

“Pangkalan di pinggiran ini memang kita tidak bisa ganggu gugat karena memang itu sudah ada izin resmi. Tetapi yang di kota ini dorang (abang becak) punya hak untuk bubarkan,” ujar Yogobi.

Pewarta: Elisa Sekenyap
Editor: Mary Monireng