Pokja Papua Dinilai ‘Sok Tau’ dan Langkahi SOLPAP Soal Pasar Mama-Mama Papua

0
451

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Kelompok Pokja Papua dari Istana Presiden dinilai ‘Sok Tau’ dan telah melangkahi SOLPAP yang sudah lama mengkawal dan mendampingi mama-mama pasar Papua.

Dalam surat elektronik yang diterima suarapapua.com pada Jumat (31/3/2017), Frengki Warer, pendamping mama-mama Pasar Papua menjelaskan, pasar merupakan landasan ekonomi bagi rakyat Papua.

Dikatakan, tidak dapat disangkal bahwa hampir tiap hari aktivitas mama-mama Pedagang asli Papua adalah dipasar, untuk mencari pendapatan yang layak bagi keberlangsungan hdiup keluarga dan masa depan anak-anak mereka.

- Event -
Festival Film Papua

Kata Frengki, pasar permanen yang dijanjikan oleh Bapak Presiden Jokowi sudah berdiri megah, dan siap untuk digunakan oleh mama-mama, yang sudah bersusah payah memperjuangkannya dari nol bersama Solpap.

Tapi, jelas dia, dalam perjalanannya, SOLPAP dan mama-mama Papua terbentur oleh hadirnya Pokja Papua yang terkesan sama sekali tidak menghargai mama-mama dan Solpap dalam hal koordinasi dan transparansi dari setiap kegiatan mereka.

“Ini yang membuat kami mama-mama dan SOLPAP berpikir bahwa Pokja Papua seolah-olah melangkahi kami SOLPAP yang selama ini selalu mengawal mama-mama Pedagang asli  Papua dalam memperjuangkan hak-hak mereka,” katanya.

Salah satu contohnya, jelas Frengki, persoalan nyata yang dilakukan oleh Pokja Papua adalah mengirim stok cabe dan tomat dari Gorontalo untuk dijual dipasar baru mama-mama Papua dengan alasan untuk menstabilkan harga dan menjaga stok komoditi tersebut di Jayapura dalam posisi stabil.

“Menurut kami SOLPAP, ini tentu akan berdampak pada jatuhnya harga cabai dan tomat yang dijual oleh mama-mama yang juga tentu saja mempengaruhi pendapatan mereka perharinya. Apakah ini yang namanya membela lepentingan mama-mama?” ungkapnya.

Ia memaparkan, salah satu contoh nyata lagi adalah pengiriman stok daging sapi belasan ton dari Jawa untuk dijual nantinya di Pasar mama-mama yang baru. Selain tanpa koordinasi dengan Solpap tentang hal ini, Pokja Papua pun seperti memaksa agar para penjual daging sudah boleh berjualan daging sapi tersebut didalam Pasar baru mama-mama, tanpa memikirkan dampak konflik internal mama-mama sendiri.

“Indikasi lainnya adalah, sudah ada kesepakatan dalam rapat internal mama-mama, bahwa Pasar baru akan siap diresmikan oleh Bapak Presiden Jokowi apabila semua sarana dan prasarana untuk mama di dalam pasar selesai dibangun, diantaranya beberapa unit kios dan tempat mencuci dan membersihkan sayuran dan buah-buahan sebelum dijual,” tegasnya.

Namun hingga saat ini, katanya, apa yang disepakati sama sekali tidak digubris dan seolah-olah tidak penting di mata Pokja Papua. Beberapa contoh diatas adalah bukti bahwa di mata Pokja Papua, Solpap dan mama-mama tidak ada apa-apanya.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami Solpap dan mama-mama memberi pernyataan sebagai berikut: pertama, dengan tegas menolak segala bentuk kegiatan Pokja Papua di Pasar baru mama-mama Papua, karena tidak mengakomodir kepentingan dan kebutuhan mama-mama hari ini.

Kedua, meminta Pokja Papua segera menyelesaikan beberapa hal yang sudah disepakati bersama untuk dibangun seperti kios, tempat cuci sayur dan buah, dan juga tempat penyimpanan jualan.

Ketiga, hentikan semua pengiriman barang jualan dari luar yang nantinya hanya akan mempengaruhi harga lokal dan juga berdampak pada tingkat pendapatan mama-mama yang berjualan didalam pasar.

Keempat, Pemerintah daerah, Pokja Papua dan Solpap harus duduk bersama guna mencari penyelesaian yang baik untuk masalah ini.

Kelima, Apabila Pokja Papua terus memepertahankan sifat tidak koordinatif dan tidak transparan kepada kami mama-mama dan Solpap, maka kami bersikeras untuk tidak masuk ke pasar yang baru sampai ada kejelasan, meskipun Bapak Presiden sudah resmikan pasar tersebut.

Dan keenam, Kami Solpap menolak penggunaan lantai 4 (empat) oleh Pokja Papua yang akan digunakan bukan untuk kepentingan dan kebutuhan mama-mama hari ini.

 

Pewarta: Arnold Belau