Antara Sepakbola dan Musik di Tanah Papua

0
108

Oleh: Emanuel Y. Giyai

Sepakbola dan musik adalah dua sisi mata uang koin yang tak dapat dipisahkan dalam sejarah dan keseharian orang asli Papua dalam tempo yang lama dan mengakar. Keduanya kadang diidentikkan dengan jati diri orang asli Papua. Jika berkata harga diri berarti apapun menjadi taruhan demi meraihnya tanpa mengedepankan segala sesuatu yang mengikat baik kesibukan pribadi hingga kepentingan yang kompleks, karena menyangkut sesuatu yang nilainya tak bisa digantikan oleh apapun sekalipun miliaran.

Berbicara sepakbola, selalu saja ada banyak istilah tentang olahraga yang satu ini di Papua. Banyak yang mengatakan: Papua adalah gudang pesepakbola Indonesia. Papua adalah masa depan sepakbola Indonesia, dan banyak istilah sesuai versi masing-masing penggemar olahraga ini.

Dalam sejarah sepakbola di Tanah Papua, olahraga ini selalu mendapat dukungan dari pihak manapun baik pemerintah maupun swasta dalam berbagai hal mulai dari fasilitasnya hingga gaji pemain yang fantastis dan menggiurkan nilainya. Sehingga cabang olahraga yang satu ini berkembang sangat pesat di Papua dengan muncul berbagai klub lokal di setiap daerah.

Dalam beberapa tahun terakhir, salah satu klub di Jayapura yaitu Persipura Jayapura (namanya berganti beberapa kali) bangkit dan disulap menjadi klub ternama dan disegani di Tanah Air dan Asia Raya. Persipura pun menjadi klub idola dan incaran, bukan hanya bagi setiap anak Papua yang ingin memilih masa depannya sebagai pesepakbola, tetapi juga dari daerah lain di Indonesia. Ini artinya ia tidak sebatas olahraga, namun di sana harga diri dan martabat orang Papua dipertaruhkan.

Kini nama Persipura menjadi abadi dan melegenda dalam setiap benak orang Papua.

Lainnya yang tidak kalah dan menjadi napas hidup orang Papua adalah musik.

Beberapa waktu lalu dalam suatu launching album rohani ‘Highland Praise Papua’ dari sahabat kita Pegunungan Tengah Papua (Albert Yigibalom, Ennys Kogoya Oaganak dkk) yang didukung penuh Bapak Befa Yigibalom (Bupati Lanny Jaya saat itu) di GOR Cenderawasih APO Kota Jayapura, Presiden GIDI, Pdt. Dorman Wandikbo mengatakan, “Orang Papua adalah musik. Ketika mendengar bunyi musik yang dimainkan tetangga, mereka akan goyang-goyangkan kepala. Itu tandanya dalam dirinya mengalir darah musik”.

Berawal dari Mambesak bersama Arnold Ap dkk hingga pada akhirnya dikolaborasikan oleh Black Brothers dengan musik modern unik yang dikomandoi Bung Andy Ayamiseba kala itu, musik hadir menjadi sebuah napas dan urat nadi orang Papua yang merasa sedang hidup dalam kegelapan berkepanjangan.

Dari album ke album yang diluncurkan, Black Brothers mampu menghipnotis pecinta musik tanah air hingga ke negara-negara Pasifik, bahkan Eropa dan akhirnya menjadi band legendaris Tanah Papua. Sehingga memang benar bahwa sepakbola dan musik adalah dua sisi koin yang tak dapat dipisahkan hingga langit terbelah bagi orang Papua.

Hal yang menjadi catatan pribadi dalam perjalanan perkembangan keduanya adalah:

– Sepakbola berkembang baik

– Sepakbola menghibur (walau sesaat)

– Sepakbola menjadi mahal nilai jualnya

– Sepakbola adalah jati diri suatu suku bangsa

– Sepakbola banyak pendukung/sponsor

– Miliaran rupiah bukan ukuran untuk sepakbola demi jati diri, dan lain-lain.

Tak kalah dengan musik yang juga adalah jati diri orang Papua berusaha diangkat penggiat musik tanah ini dalam berbagai kesempatan dari waktu ke waktu dan berusaha meyakinkan dari hati ke hati, namun terkesan kurang terlihat oleh para pecinta dan penggemarnya.

Dari sekian banyak keunggulannya, musik akan hidup selamanya sepanjang alat elektronik belum lenyap dari muka bumi. Misalnya, saya mengenal lagu “Hari Kiamat” (Black Brothers) tahun 2000-an saat di bangku SD kelas 6 di Mowanemani (sekarang Kabupaten Dogiyai) yang ternyata lagu tersebut direcord beberapa tahun sebelumnya dan tersebar di seluruh pelosok tanah air, masih terdengar hingga kini. Bahkan menjadi abadi walau beberapa personil dari group band ini telah tiada.

Berbeda dengan sepakbola. Kita nonton hari ini satu pertandingan, pulang ke rumah langsung lupa nama pemain hingga gaya bermainnya di lapangan hijau yang pada akhirnya hanya tahu siapa yang menang dan yang kalah serta skor akhir, bahkan di akhir kompetisi yang tersisa hanyalah siapa juaranya. Lupa semuanya tentang satu musim kompetisi berjalan.

Jika keduanya adalah penting dan merupakan jati diri orang Papua, di era Otonomi Khusus yang sudah 16 tahun ini, semestinya sepakbola maupun musik wajib hukumnya mendapatkan segala fasilitas dan sponsor yang sama demi mengangkat jati diri orang Papua.

*) Penulis adalah Musisi asal Wilayah Adat Meepago Papua