Dua Minggu Tak Hujan, Masyarakat Paniai Susah Air Bersih

Ilustrasi masyarakat antri air bantuan karena air kering akibat kemarau di Merauke. (tabloid Jubi.com)

PANIAI, SUARAPAPUA.com — Dua minggu hujan tak turun, masyarakat di Paniai, khususnya yang berdomisili disekitar kota Enarotali mengalami kekeringan air.

Kebanyakan masyarakat di Enarotali menggunakan air hujan dan air yang bersumber dari mata air yang ditampung dalam wadah bak di rumah-rumah. 

Dua Minggu belakangan alami kekeringan akibat tidak hujan. 

Dari pantauan suarapapua.com, akibat kondisi tersebut, dialami ribuan masyarakat. Hal itu terlihat dari  ratusan kepala keluarga (KK) yang berbondong-bondong pergi menimba air di tempat yang jauh yakni di mata air di sebelah bukit Bobaigo, di muara kali Enagone, dan muara kali Iyai di Aikai.

Bahkan ada juga yang memilih mengambil air di danau paniai. Padahal airnya kotor dan bau.

Markus Pigay, warga Dupia, mengatakan sejak air habis di rumahnya, tiap hari dia harus pergi menimba air yang jaraknya cukup jauh.

“Air dalam bak dan profil di rumah habis sejak satu minggu lalu, jadi saya tiap hari pergi timba air di Bobaigo,” ungkap Markus, ketika temui suarapapua.com, di Enarotali, Sabtu (6/5/2017).

Dikatakan, air yang diambil itu dipakai untuk kebutuhan sehari-hari mereka di rumah.

“Kami pakai untuk masak, minum, cuci piring, cuci baju, MCK dan juga kebutuhan lainnya,” jelasnya dia.

Ketika ditanya terkait penyediaan air bersih dari pemerintah daerah, dia menuturkan tidak pernah ada.

“Jangankan air, tempat air saja kalau dari pemda tidak ada. Itu dari dulu. Dari periode ke periode, dari bupati ke bupati. Tapi kalau ke kantor-kantor ada. Airnya dari kali Enagone. Mereka tarik lewat pipa,” beber dia.

Dia enggan menyampaikan harapan ke pemerintah daerah. Menurutnya percuma karena ia yakin pemerintah tak akan melihat kesusahan masyarakat.

“Sampaikan harapan ke pemda sa tidak mau, percuma saja,” ucap dia.

Bersamaan, salah satu warga yang tak mau namanya disebut, mengatakan pernah Bupati Hengki Kayame berjanji di hadapan masyarakat akan buat bak besar untuk menampung air bersih dan akan dialirkan ke tiap rumah masyarakat tapi sampai sekarang tinggal janji.

“Dulu Bupati bilang akan anggarkan dana miliaran rupiah untuk bangun bak air bersih dibeberapa titik seperti di Dupia, Baboigo, Awabutu.”

Lanjut dia, “Waktu itu Bupati bilang akan dikerjakan dalam waktu dekat tapi nyatanya sampe sekarang hanya omong kosong. Jadi kalau benar dana miliaran tuk air bersih itu sudah dianggarkan, sekarang dikemanakan semua dana itu,” tanya dia.

Terpisah, Johanes Kobepa, Aktivis masalah lingkungan dan HAM di LPMA SWAMEMO, kepada mengatakan air merupakan persoalan krusial dalam menjawab kebutuhan sehari-sehari. Maka, kata dia, pemerintah daerah harus menjawab kebutuhan itu demi kesehatan dan kesejahteraan hidup masyarakat.

“Kalau susah air, semua akan susah. Makan susah, minum susah, juga mandi dan ditambah lagi kebutuhan lainnya. Lalu ujungnya pasti berdampak pada kesehatan yang mengancam nyawa. Ini saya pikir, pemda harus cari solusi tuntaskan masalah air bersih bagi masyarakat di Paniai,” katanya.

Dia mencontohkan, jika tak dicegah tidak menutup kemungkinan kejadian nas yang terjadi terhadap 37 anak hilang nyawa, beberapa waktu lalu, di kabupaten Lani Jaya akibat komsumsi air kotor dapat terjadi juga di Paniai.

“Kalau tidak dicegah, bisa saja kejadian 37 anak yang meninggal di Lani Jaya gara-gara minum air kotor,  terjadi juga di Paniai. Pemda harus pikir itu lalu meresponnya segera,” ucap dia.

Untuk itu, dia berharap pemda dapat segera membangun Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) agar air bersih dapat terdistribusi ke semua rumah masyarakat.

“Pemda punya uang banyak, baiknya bangun PDAM. Tidak usah masukan terus ke saku pribadi. Tidak kasihan masyarakat kh? Tiap musim kemarau mereka selalu pikul air dari jauh. Pemda punya mata kh tidak?,” ucap dia.
Pewarta: Stevanus Yogi

Editor: Arnold Belau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *