Sebelum Dideportasi, Ini Pengakuan Artis Jepang

0
304

YAHUKIMO, SUARAPAPUA.com — Enam orang warga negara Jepang yang sempat tiga hari berada di Yahukimo, Papua, dideportasi ke negaranya, Kamis (11/5/2017) setelah sehari sebelumnya ditangkap di Wamena. Sebelum dideportasi pihak Imigrasi Jayapura, suarapapua.com berkesempatan mewawancarai mereka di ruang keberangkatan bandar udara Nop Goliat, Dekai, Yahukimo, awal pekan ini.

Kozono Souga, salah satu artis terkaya dari Jepang, mengungkapkan kekagumannya pada alam dan budaya Papua yang menurut dia unik dan perlu dilestarikan demi masa depan generasi negeri ini.

“Saya sangat senang bisa berkunjung ke sini. Kami dari dekat melihat kehidupan suku Korowai Momuna. Ya, tetap jaga dan lestarika budayanya,” ucap dia seperti diterjemahkan Demianus Wasage, direktur utama Trek Papua Tours and Travel.

- Event -
Festival Film Papua

Kozono juga mengaku pernah penasaran setelah ikuti di media online keberadaan Suku Korowai atau Momuna. “Syukurlah sekarang saya sudah berkunjung dan saksikan langsung. Alamnya indah. Budayanya unik. Sangat menarik. Saya mendapat kesan istimewa.”

Demianus menjelaskan, “Kozono bersama tim dari Jepang ini bekerja di salah satu televisi swasta di sana yang nanti hasil syuting tentang budaya di sini selama tiga hari akan ditayangkan. Jadi, kami fasilitasi sebagai bentuk promosi wisata budaya Papua ke luar negeri.”

Dari Jepang kru ini ke Indonesia dengan tujuan Papua. Mereka melakukan pengambilan gambar di Yahukimo. Film dokumenter tersebut rencananya akan ditayangkan di salah satu televisi swasta di Jepang. (Baca juga: Kagum Saksikan Rumah Pohon di Yahukimo)

Rencana pengambilan gambar di Wamena tidak berhasil karena mereka keburu ditangkap dan diterbangkan ke Jayapura hingga akhirnya dideportasi ke negara asal melalui Jakarta.

Yopie Wattimena, kepala kantor Imigrasi Kelas I Jayapura, mengatakan, enam warga negara asing (WNA) asal Jepang itu dideportasi karena tidak memiliki dokumen keimigrasian.

“Mereka kedapatan melakukan aktivitas ilegal di Wamena, Kabupaten Jayawijaya,” katanya, dilansir dari Kantor Berita Antara.

Sesuai informasi dari Satgas Pengawasan Orang Asing (POA) Papua, lanjut Yopie, enam WNA itu merupakan jurnalis dan bekerja di Nagamo Production House Jepang. Masing-masing Toba Takashi (nomor paspor MZ0721512), Kozono Ryo (nomor paspor TR7265690), Sugai Shuichi (nomor paspor TK0527947), Kai Takuma (nomor paspor TR8066726), Kanemmitsu Toshiya (nomor paspor TK8864476), dan Takezawa Yoshihiro (nomor paspor MU4592885).

Kata Yopie, mereka terbang dari Jepang berbekal visa on arrival. Dan, berdasarkan hasil pemeriksaan dari Wasdakim, tegas dia, 6 warga negara Jepang itu tidak memiliki izin keimigrasian untuk kegiatan jurnalis sesuai dengan kegiatan yang telah dilakukan di Yahukimo dan rencananya di Wamena.

“Hal ini sudah melanggar Pasal 122 huruf a Undang-undang Nomor 6 Tahun 2011,” ujarnya.

Hingga berita ini ditulis, belum diketahui nasib hasil liputannya, apakah disita atau tidak.

Secara terpisah, Demianus Wasage jelaskan alasan kru Jepang ditahan dan dideportasi karena tidak ada surat dari Menteri Pariwisata. Ini menurutnya kesalahan dari pihak stasiun televisi tersebut. Sedangkan administrasi lainnya, kata dia, lengkap.

Toba Takashi, produser film dari Global Sound and Media (GSM), menjelaskan tujuan kedatangannya adalah untuk mendokumentasikan budaya suku terasing di Yahukimo.

“Kami sudah ambil gambar saat masyarakat adakan tarian budaya. Saya sangat senang, mereka bisa kasih pakaian adat kepada saya,” tutur Takashi yang diterjemahkan oleh Demianus Wasage di ruang tunggu Bandara Dekai.

Mike Hesegem, direktur Papua Adventure Tours and Travel di Yahukimo, senada dengan Demianus, menghendaki pemerintah dapat memikirkan soal fasilitas bagi wisatawan, juga menyiapkan anak-anak asli dengan beri kursus berbagai bahasa internasional.

“Wisatawan yang lain juga datang ke sini untuk melihat suku Momuna. Ada rumah pohon, daya tarik tersendiri. Pemerintah harus pikirkan sektor pariwisata, siapkan dengan baik,” pintanya.

Di lain sisi Hesegem mengaku senang karena rumah pohon yang dibangun tahun 2016, telah dikunjungi turis.

“Saya pengelola rumah pohon bersama Suku Momuna bersyukur bahwa wisatawan Jepang bersama artis terkaya bisa berkunjung ke sini. Nantinya wisatawan lain juga bisa datang,” kata Mike.

 

Pewarta: Ardi Bayage
Editor: Arnold Belau