​Sekolah Adat Hobong Hadir Untuk Lestarikan Budaya 

0
73

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Origenes Monim, penggagas dan kepala sekolah Sekolah Adat Hobong mengatakan, ia menggagas sekolah adat untuk mendidik budaya kepada anak-anak muda. Selain itu untuk mendukung program pemerintah kab. Jayapura untuk menggagas kampung Adat. 

Ia menjelaskan, benda-benda adat dimusnahkan saat masyarakat menerima Injil dari para misionaris. Dan setelah pendidikan masuk, mulai menerima pengetahuan, benda-benda budaya itu sangat penting. 

“Jadi masyarakat ini sudah hidup lama dalam budaya lama. Lalu agama datang dan benda-benda budaya dimusnahkan karena dianggap berhubungan dengan benda-benda mistis. Dengan masuknya pendidikan sedikit ubah cara pikir masyarakat sudah ubah cara pandangnya masyarakat ke benda-benda budaya,” jelas Monim ke Suara Papua di tempat Festival Danau Sentani (FDS) ke 10, Rabu (21/6/2017).

- Event -
Festival Film Papua

Dijelaskan, ada kesenjangan yang terjadi dalam waktu yang lama. Terutama saat setelah misionaris masuk dan musnahkan benda-benda adat. Dan juga setelah pendidikan masuk, ada pengetahuan tentang pentingnya budaya, adat dan benda-benda diperoleh. Setelah itu ada kesadaran masyarakat untuk kembali melestarikan benda-benda budaya itu.

Kata Monim, setelah dibukanya sekolah adat di kampung Hobong, antusias anak-anak muda cukup tinggi. Ada yang dengan kesadaran datang ke sekolah adat.

“Di sekolah Adat kita ajarkan banyak hal. Soal pembuatan tifa, alat untuk makan sagu, perahu khas Sentani dan banyak benda-benda budaya. Termasuk benda-benda perhiasan,” terang Monim.

Dikatakan, sekolah adat yang di gagas dan sedang jalan, merupakan pengaplikasian dari program pemerintah kab. Jayapura yang sedang mewacanakan untuk buat kampung adat. 

“Kami selain melestarikan budaya, kami juga menjalankan program pemerintah kab. Jayapura untuk bikin kampung adat,” katanya. 

 

Pewarta: Arnold Belau