Pemkab Nabire Gencar Eliminasi Frambusia

0
520

NABIRE, SUARAPAPUA.com — Dua penyakit menular yaitu Frambusia dan Kaki Gajah (Filariasis), terus dieliminasi oleh pemerintah daerah kabupaten Nabire dengan cara memberikan pengobatan kepada warga yang berdomisili di daerah ini.

Sandy Saksono, Kepala Puskesmas SP 1 Kalibumi, Distrik Nabire Barat, mengatakan, upaya pemerintah daerah mengeliminasi dua penyakit menular itu dengan harapan agar dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di kabupaten Nabire.

“Salah satunya dengan memberikan pengobatan massal kepada warga kampung yang diketahui menderita penyakit menular itu,” katanya kepada wartawan, Kamis (27/7/2017) usai memberikan pengobatan massal kepada masyarakat Fawi di Kampung Waroki, Nabire.

Pelayanan kepada warga menurutnya Sandy, diberikan berdasarkan laporan dari lapangan. “Kami lakukan baru satu kali. Cuma datanya dari Puskesmas sudah ada sejak lama,” ucapnya.

Ia menjelaskan penyebab Frambusia adalah faktor lingkungan dan sumber air yang tercemar. “Masyarakat menggunakan air dan MCK yang tercemar dengan limbah. Untuk masak, mandi dan minum menggunakan air permukaan yang kurang sehat. Sehingga, itu menyebabkan penyakit kulit terutama Frambusia,” kata Sandy.

Lanjut dia, untuk mencegah penyakit ini terus menular pascapengobatan, warga Fawi membutuhkan jamban atau MCK. “Dengan begitu air dari MCK tidak mencemari air untuk keperluan makan minum, sehingga penularan berkurang. Itu harapan kami,” imbuhnya.

Di tempat sama, dokter Marina dari Puskesmas SP 1 mengaku mendapat pelatihan dari pemerintah pusat untuk memberikan pengobatan dan penanganan Frambusia.

“Pengobatan kami awali dengan pemeriksaan darah terlebih dahulu. Ternyata ada yang positif Frambusia. Prosedur dari pusat, jika ada yang positif satu orang, maka semua harus minum obat,” kata Marina.

Dijelaskan, dari pemeriksaan darah awal di komplek Fawi, ada 6 warga yang positif terinfeksi Frambusia. “Faktor tidak higienis. Ada luka tidak dibersihkan. Jika mencegah, tinggal mandi dengan bersih dengan sabun,” jelasnya.

Untuk itu, Puskesmas SP 1 berkoordinasi dengan Denzipur 12/OHH Nabire untuk memenuhi kebutuhan MCK warga kampung Waroki.

Mayor CZI Fransiscus Xaverius Douw, komandan Denzipur 12/OHH Nabire, mengatakan, kegiatan tersebut diawali dengan diskusi bersama kepala Puskesmas SP 1.

“Kami menyanggupi akan membangun sumur dan MCK. Tetapi saat berkoordiansi dengan bapak gembala, ternyata ini lokasi sementara, dan mereka akan pindah lebih dalam lagi. Akhirnya, kami putuskan nanti ketika mereka sudah pindah, kami akan bangunkan MCK dan sumur. Intinya, hidup ini kan kita harus berbuat baik dengan orang lain,” ungkap Frans.

Dari pengamatan di lapangan, pihak Puskesmas mengalami kendala transportasi saat mengunjungi warga di kampung. Seperti saat itu, petugas Puskesmas mengunjung warga Fawi di saat hujan deras. Para petugas menggunakan kendaraan roda dua milik pribadi.

“Kami belum punya mobil operasional, sehingga kami menggunakan motor sendiri. Padahal wilayah kerja kami sangat luas. Mulai dari Waroki sampai Kali Merah serta SP1 dan SP2, juga Bendungan. Tetapi pelayanan tetap kami jalankan,” tutur Sandy.

Rendahnya pemahaman atau pengetahuan tentang hidup sehat juga diakui sebagai satu kendala tersendiri. Apalagi, tak sedikit warga yang tak bisa berbahasa Indonesia. Belum lagi tidak punya Kartu Keluarga dan KTP, termasuk akta kelahiran anak.

“Harapan kami, teman-teman dari instansi terkait harus perhatikan mereka. Karena jumlah mereka sudah lebih dari 100 orang,” ujar Sandy.

Sebelumnya, Dinkes Nabire telah mengadakan pertemuan teknis dan pelatihan pemberian obat dan pencegahan massal Frambusia di daerah endemis.

Yulian Agapa, kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire, mengatakan, kegiatan orientasi serta pertemuan teknis dan pelatihan tersebut diadakan dalam rangka upaya pemerintah daerah mengeliminir tingkat penderita Frambusia.

Kegiatan berlangsung selama dua hari di aula PKK Nabire pada akhir Mei 2017 itu beragendakan kebijakan dan manajemen perencanaan pelatihan pemberian obat dan pencegahan massal frambusia di daerah endemis frambusia yang dititikberatkan pada advokasi dengan pemerintah daerah baik tingkat kabupaten hingga tingkat desa serta agenda teknis pelaksanaan bagi pengelola Puskesmas.

“Sebagai tindaklanjutnya adalah pemberian obat pencegahan massal (Azitromisin Tablet) kepada warga endemis yang diawali dengan penyuluhan penyakit Frambusia serta pemeriksaan klinis oleh petugas kesehatan,” jelas Agapa.

Narasumber dalam kegiatan ini yakni dr. Lucky dari Kementerian Kesehatan RI, dr. Diana dari sub Frambusia Kementerian Kesehatan RI, Yamamoto Sasarari dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dan dr. Frans Sayori dari Dinkes Nabire.

Pesertanya berjumlah 70 orang. Mereka berasal dari RSUD, Puskesmas, dan perwakilan kantor distrik yang ada di Kabupaten Nabire.

 

Sumber: Tabloidjubi.com