Olga Hamadi, Wanita Pemberani Sejati Milik Papua

0
87

Oleh: Beny Mawel)*

Ketika mendengar penembakan belasan orang di kampung Oneibo, Kab. Deiyai. Satu orang tewas. Saya mengingat perempuan pemberani yang pernah ada di Papua. Ia adalah Olga Hamadi.

Ia pernah mengatakan begini. “Jika belum ada damai sejahterah… itu tanda2x anda masih sakit hati,” tulis Olga Hamadi di akunfacebooknya pada 11 Juli 2014 sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya pada 27 Juli 2016.

Di lain waktu, Olga mengatakan , perdamaian, kesejahteraan itu bisa menjadi kenyataan hanya dengan tidak ada penipuan. Hanya Orang jujur yang bisa menghadirkannya.

“Hendaklah kasih itu jangan berpura-pura…!” tulis Olga Hamadi di akunfacebooknya pada 24 Juli 2014, kata si hitam manis.

Dua tahun pasca Olga menulis status itu, semua aktivis hingga publik Papua terkejut kabar duka Olga. Bahka ada rekan yang menulis kabar itu sebagai kehilangan satu amunisi perlawanan ketidakadilan di Papua.

“Papua kembali berduka. Satu lagi aktivis, Olga Hamadi mengembuskan nafas terakhir. Kawan-kawan Papua jaga kesehatan baik-baik,” tulis satu aktivis di Jakarta di akun facebooknya.

Kepergian Olga benar menambah duka para aktivis Papua. Ia meninggal hanya dua bulan selang pembunuhan Robert Jitmau (Rojit). Rojit, aktivis Solidaritas Pedangang Asli Papua yang tewas terbunuh pada 20 Mei 2016.

Olga meninggal di rumahnya di tanah hitam. Ia meninggal akibat kondisi kesehatan yang terus memburuk lebih dari dua bulan. Menjelang kondisi kesehatan yang memburuk itu, Olga terlihat tegar melangkah, yang terakhir kalinya mendampingi proses pembebasan Filep Karma 19 November 2015.

Filep Karma adalah tahanan Politik Papua yang dihukum 15 tahun penjara pada 2004. Ia dihukum dengan kasus pegibaran bendera Bintang Fajar. Simbol pelawanan Papua untuk mendirikan Negara West Papua. Lepas dari Indonesia.

Hari itu yang terakhir kalinya saya ketemu Olga. Ia begitu tegar, kuat berdiri di samping Filep Karma. Ia terus menyaksikan dan berada dalam barisan masa Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang menjemput dan merayakan pembebasan Karma di halaman Anjungan Museum Expo, Waena.

Sejak itu, saya tidak pernah lihat lagi. Ia menghilang meninggalkan pekerjaan pengacara hak asasi manusia yang sangat dicintainya itu. Ia meninggalkan kursi koordinator KontraS Jayapura yang didudukinya sejak 8 Februari 2011.

Ketika ia tiada, soal-soal terlintas siapa lagi yang akan mengantikan menekuni pekerjaan itu? Siapa yang akan menduduki kursi kosong KontraS? Soal siapa pengatinya bukan urusan penulis. Soal bagi penulis, Siapa si Olga Hamadi itu? Apa saja yang menjadi pergumulannya? Apa saja yang menjadi perjuangannya?

Siapa itu Olga Hamadi?

“Wanita pemberani”. Ungkapan yang layak untuk wanita pemilik nama lengkap Olga Helena Hamadi 34 tahun. Pengacara Hak Asasi Manusia (HAM) ‘Senior’ Perempuan asli Papua yang menghembuskan nafas terakhirnya pada 27 Juli 2016.

Ia lahir di Jayapura, 26 Oktober 1982 dari pasangan Yohanes Hamadi dan Ribka Hanasbey. Ayahnya seorrang Rohaniawan dalam gereja reformasi. Ibudanya seorang ibu rumah tangga yang saleh. Pegaruh kedua orang tuanya sangat kuat.

Ia lahir sebagai anak kelima dari tujuh bersaudara. Ia besar layaknya anak perempuan lain di dalam keluarganya di kota Jayapura. Kota yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Olga tubuh dalam situasi tradisional Papua dan pegaruh modern yang begitu kuat.

Ia mulai menempuh pendidikan formal Taman Kanak-kanak (TK) Kuntum Mekar Argapura, Kota Jayapura. Ia rajin pergi ke sekolah minggu hingga kaum muda mudi gereja. Alkitab menjadi satu bagian penting dan kekuatannya dalam perjalanan itu hingga menghembuskan nafasnya.

Ia menamatkan pendidikan taman kanak-kanak pada 1988. Ia melanjutkan di Sekolah Dasar (SD) Negeri Entrop. Ia menyelesaikan pendidikan dasar pada 1994. Olga melangkah ke jenjang pendidikan tingkat menegah pertama (SMP) YPK Kota Raja Dalam.

Setamat SMP pada 1997, memilih lanjut ke SMA Negeri 1 Abepura.Tiga tahun berlalu di SMA, Ia makin dewasa, mulai berfikir antara lawan dan kawan, menjadi hebat atau biasa saja. Saat itu ia mulai menentukan jurusan studi lanjutan di perguruan tinggi demi karier dan hidupnya.

Pada 2000, ia menyelesaikan pendidikan tingkat SMA. Pengumuman kelulusan melapangkan jalannya ke perguruan tinggi di Fakultas Hukum, Universitas Cendrawasih (Uncen) Jayapura. Pilihan fakultas hukum itu bukan kebetulan tetapi atas pilihan hati nuraniinya yang mendapat pertimbangan dan dukungan sang ayah.

“Saya memilih fakultas hukum karena mau jadi pengcara. Kalau jadi pengacara bisa menolong banyak orang, terlebih orang yang tidak mampu,”tegasnya.

Cita-cita itu membawanya eksis di FH UNCEN. Ketika memasuki tahun kedua, ia mulai diperhadapkan dengan panasnya suhu politik Indonesia. Mahasiswa di Jakarta bermontrasi mendesak presiden Suharto meletakan jabatanya presiden yang dikuasainya selama 36 tahun itu.

Suharto tidak bisa terus berkuasa. Mahasiswa berhasil memaksanya mundur meninggalkan jabatan presiden. Suharto pun mundur dari Jabatanya sebagai seorang presiden diktaktor ternama di dunia.

Kaum terpelajar Papua merancang kemerdekaan Papua. Kongres Papua dua digelar. Persiapan pengesahan UU Otsus Papua 2001 hingga tewasnya Theys Hiyo Elluay di tangan kopasus pada 10 November 2001.

“Saya selesai tahun 2004. Saat panas-panasnya situasi politik, saya magang di LBH Jayapura,” ujarnya di ruang tamu kontras Papua, disiang yang terik itu.

Sesudah kuliah, ia nekad mewujudkan impian menjadi pengacara yang berani membela orang kecil dan tertindas. Ia bergabung dengan LBH Jayapura.

Rihwayatnya di LBH tidak lama. Ia berhijira, bergabung ke KontraS Jayapura bersama Harry Maturbongs. Tidak lama, ia menjabat kordinator Kontras hingga menghembuskan nafas terakhirirnya.

Dari LBH ke KontraS Jayapura

Olga bergabung ke LBH bukan karena pekerjaan. Ia bergabung ke LBH hanya karena lembaga itu yang paling tepat baginya mewujudkan kasih kebenaran yang terpatri dalam dirinya.

“Hendaklah kasih itu jangan berpura-pura…!”tulis Olga Hamadi di akunfacebooknya pada 24 Juli 2014, kata si hitam manis.

Realitas membuatnya memberontak. LBH bukan lembaga yang tepat untuk Olga membela kaum kecil. LBH membuatnya tersiksa menikmati kursi lembaga bantuan hokum itu. Ia meningalkan lembaga yang membatu mengasa emosinya menjadi pegacara.

“Saya tidak tenang. Saya tidak bisa menolong orang kecil,”ungkap Olga kala itu, engan menyebut macam apa proses penyiksaan terhadap suara hatinya itu berlangsung.

“Saya tersiksa saja,”tegasnya.

Ia mencari lembaga yang tepat baginya. Ia menilai lembaga yang lahir dari tangan aktivis di Jakarta, KontraS. Komunitas Orang Hilang Tindak Kekerasan Soeharto (KontraS) lah yang tepat.

“Saya ke kontras,”ungkapnya. Ia bertemu dengan sejumlah pengacara ternama kala itu. Peter Ell, Harry Maturbongs. Ia mengasah kemampuan membela keadilan dan keberaniannya bersama mereka.

Perjuangannya melawan ketidak adilan di Papua berjalan mulus. Ia pun memimpin KontraS Papua. Pelantikannya berlangsung pada 8 Februasi 2011.

Runtuhkan Pagar Patriarki
Ia berani meruntuhkan tembok-tembok pemisah. Tembok Negara yang dibangun dengan budaya patriarki. Ia berani menginjak-injak budaya negara patriaki yang terpola. Ia bermain di halaman taman pagar patria yang ketat dan kokoh dengan pegetahuan hukumnya.

Ia berani menunjukan ketidakbenaran paham perempuan tidak bisa ini dan itu (tidak bisa melayani orang banyak/memimpin). Perempuan hanya berurusan dengan pekerjaan dalam rumah tangga (di dapur, urus anak dan urus suami) dan tidak bisa lebih dari itu.

Apa lagi menjadi pengacara. Pengacara yang identik dengan debat argumen yang dianggap bagian dari kaum lelaki. Bahkan banyak wanita berbaris bersama pria. Anggap remeh kehadiran wanita dalam debat hukum namun tidak untuk Olga. Ia maju runtuhkan itu dengan membela korban ketidakpaham hokum aparat Negara di Papua.

“Negara harus penuhi hak korban. Negara tidak bisa bertindak semenan-mena,”kata dia dalam wawancara dengan penulis dalam kasus penahanan belasan orang di kampung Brab, kabupaten Jayapura.

Penegak Hukum Sejati

Ia layak disebut penegak hukum sejati. Karena dia berani meningalkan semua yang mungkin bagi dia. Profesi pegacara publik yang bisa mendatangkan banyak uang. Ia bisa membangun rumah mewah, membeli mobil mewah, membeli apa saja yang dia mau.

Artinya, Ia bisa saja melakukan aktivitas jual beli pengetahuan hukumnya selayaknya pegacara di negeri ini. Banyak pegacara menjadi kaya raya karena melacurkan diri.

Hamadi tidak terjebak dalam budaya jual beli hukum. Ia malah membawa pegetahuan hukumnya mengejar kebenaran, kejujuran dan keadilan. Ia menunjukan pegetahuan hukum adalah jalan penegakan kebenaran, bukan jalan pembungkaman kebenaran, membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.

Apa lagi mengamankan kepentingan pribadi dan kelompok yang egois dan rakus. Ia sangat memahami pengetahuan hukumnya untuk menegakan kebenaran dan keadilan bagi yang lemah. Bukan untuk yang kuat kuasa dan mencari keuntungan.

Suara Memecah Pembisuan

Keberaniaan membawa Olga keluar dari lingkungan masyarakatnya yang tidak banyak bergumul persoalan ketidakdilan. Suka atau tidak suka, kita mesti jujur bahwa tidak bayak orang Teluk Youetfa, Kayu Pulau, lingkungan Olga lahir dan besar, yang berbicara melindunggi tanah, hutan dan laut yang dikuras para kapitalis.

Ia seolah keluar teriak dari kerumunan orang yang membisu dan disusuk hidungnya lalu memlawan penindasan melalui pegetahuan hukumnya. Ia tahu memposisikann diri dengan pengetahuan hukumnya. Ia tidak berkutak pada masalah hukum tanah melainkan lebih dari itu.

Ia terjun membela para aktivis yang menjadi korban permainan aparat keamanan. Ia membuktikan bahwa sejumlah kasus hanyalah permainan dan salah kapra dari aparat.

“Masa penahanan sudah selesai. Polisi tidak cukup bukti untuk menahana. Mereka sudah dipulangkan,”ungkap Hamadi saat mendampinggi sejumlah orang yang baru saja bebas dalam kasus penangkapan dan penahanan di Brab.

Pelintas Primodialisme
Keberani itu makin solid ketika dia membela masyarakatnya yang masih membedakan gunung dan pantai. Ia tidak peduli dengan istilah “itu orang gunung”. “Itu orang Pantai”. Ia memahami hukum bagi semua. Ia memahami “Papua itu satu dan sama”.

Karena itu, Dia wanita persisir yang pergi membela masyarakat gunung. Dia terbang dari Jayapura ke Wamena, Mimika dan Biak mendampinggi aktivis Papua Merdeka yang berurusan dengan hukum makar di sana. Kebanyakan berasal dari pedalaman Papua.

“Dia seorang wanita yang cepat menyesuaikan diri. Dia tidur di Honai dengan masyarakat,”ungkap Gustav Kawer, rekan dan seniornya dalam koalis pengacara untuk HAM Papua.

Tangkis Stigma

Ketika kita bicara keasliannya, Anum Siregar, rekan pegacaranya dari Batak yang menjabat Direktur Aliansi Demokrasi untuk Papua (ALDP) mungkin lebih mudah menghadapi aparat keamanan. Olga yang membawa identitas asli Papua harus lebih kuat berargumen untuk menunjukan dirinya seorang pegacara asli Papua yang membela kaumnya.

Karena bagaimanapun, stigma dan pendekatan rasis sangat sulit dihindari. Belum lagi terror yang diterimanya tidak pernah diungkapkan. Ia membawa pergi semua rahasia terror yang pernah diterimanya. Ia berani menghadapinya sepanjang hidupnya seorang diri.

Salutnya, Hamadi mampu menghadapi semua itu hanya karena pilihan hidupnya. “Sejak kecil, saya punya cita-cita jadi pengacara. Kalau jadi pengacara, saya bisa menolong banyak orang,” katanya kepada penulis saat wawancara pada 2014 silam.

Penolong Kaum Lemah

Olga mempertanggungjawabnya Keinginan menjadi pengacara yang mendapat dukungan dari sang ayah, pendeta Yohanes Hamadi (alamarhum).

“Bapak sering mengatakan kepada saya kalau jadi pegacara itu bagus, bisa menolong orang yang susah,” tutur Olga sembari mengingat kata-kata mendiang ayahnya kepada penulis.

Olga telah membuktikan dirinya betul penolong orang yang lemah dalam pegetahuan hukum. Ia membela orang yang lemah dalam keberanian membagi kasih dan membela kebenaran.

Rendah Hati

Ia pun berhasil menunjukan diri sebagai penggacara hebat kepada kita dan keluarganya ketika pengacara anak ke lima dari tujuh bersaudara ini mendapat pengakuan internasional.

Olga bersama rekan pegacaranya, seniornya, Gustav Kawer mendapat pengakuan khusus ‘Lawayers for Lawyer Award’ untuk pengacara HAM di Amsterdam, Belanda pada Mei 2013.

Penghargaan itu tidak membuatnya unjuk dada. Ia rendah hati dan terus bekerja hingga nafas terakhirnya. “Bagi saya cukup saja saya bekerja. Soal penghargaan itu tidak terlalu penting,”katanya menutup cerita kala itu.

Penghargaan yang tidak penting itu, pekerjaan yang paling penting itu membawa Olah kerja tanpa lelah dan tulus. Ia layak dikenang dalam sejarah perjuangan bangsa Papua Barat melawan penidasan. Sekalipun begitu, apa daya? Tidak ada yang mengingat.

Untuk mengenangmu, Olga. Tidak ada kata lebih. Tidak ada aksi lebih. Hanya kerinduan dari kecil yang menjadi korban. Sambil mendengar suara kerinduan, saya mengoreskan namamu, “mengapa kau “WANITA PEMBERANI” menghilang dari pagung per“LAWAN”an sandiwara hukum wayang di negerimu?

)*Penulis adalah wartawan di Tabloid Jubi Online dan Koran Jubi. Catatan ini ditulis untuk mengenang sosok mendiang Olga Hamadi.