Ini Alasan PT. Dewa dan Brimob Diusir dari Deiyai

0
244

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Karena telah melakukan berbagai serangkain kekerasan, PT. Putra Dewa Paniai (yang selama ini dikenal dengan sebutan PT. Dewa) dan Bromob yang bertugas di Deiyai disuruh angkat kaki (diusir) karena tidak menghargai pemilik hak ulayat (orang Deiyai) sebagai tuan rumah yang seharusnya dihormati dengan baik.

Wakil Ketua I DPD KNPI Deiyai, Ones Madai menjelaskan serangkain catatan buruk yang dilakukan oleh kedua oknum ini yang selama ini kerjasama untuk musnahkan etnis Melanesia di Deiyai.

“4 Oktober 2011, Dominikus Tekege ditembak di Tigi oleh dua orang anggota Brimob, penjaga keamanan PT Modern. Korban pergi memprotes PT. Modern yang sudah mulai mengambil batu dan pasir melewati batas lokasi yang telah disepakati. 12 Juli 2012, delapan orang warga tewas setelah minum soda (yang sudah kadaluarsa) di Waghete.
Saat keluarga korban memprotes pemilik kios orang pendatang itu, mereka ditembaki aparat,” jelas Ones Madai kepada Suara Papua dari Waghete, Kamis, (3/8/2017).

Selanjutnya, 23 September 2013 Alpius Mote (pelajar SMA) di Waghete tewas ditembak Brimob. Mereka juga menembak Frans Dogopia (anggota Satpol yang sedang menenangkan warga) dan menganiaya Yance Pekey seorang Guru di SMA Waghete.

Kordinator barisan muda damai sejahtera Deiyai ini mengatakan, markas Brimob Deiyai hingga saat ini menjadi pusat toto gelap (Togel). Para Brimob selalu menjadi agen juga sebagai distributor Miras (minuman keras) di kabupaten Deiyai.

PT. Dewa tidak pernah memberikan pelayanan yang prima dan kontribusi kepada masyarakat Mee dalam wujud pengkaderan pengusaha pribumi, kontribusi bagi keamanan dan kenyamanan masyarakat setempat yang ada hanya kapitalis (penjajahan).

“Maka, seluruh komponen masyarakat, pegawai negeri, swasta, tokoh agama, adat, perempuan dan semuanya di Deiyai telah mengambil satu komitmen yang konsisten yaitu usir terhadap satuan Brimob dan PT. Dewa dari Deiyai, bahkan Meuwodide,” tegas Mote.

Ditambahkan, eksistensi mereka tidak ada efek positif bagi masyarakat. Hanya ada penjajahan di atas masyarakat.

“Sekali lagi DPRD dan Pemerintah Daerah perlu sikapi dengan kebijakan. Cabut izin IUP dan IUPK dari PT. Dewa dan usir sampai tuntas Brimob, karena tanpa keduany kami aman,” paparnya.

Terpisah, Ketua Komisi I DPRD Deiyai, Yohanes Adii menegaskan, pihaknya memohon segera tangkap dan proses hukum oknum Brimob yang melakukan penembakan sehingga tewasnya masyarakat di kampung Oneibo.

“Setiap masalah yang terjadi tidak pernah selesaikan dengan cara persuasif. Selama ini Brimob di Deiyai dapat melakukan kegiatan yang dapat meresahkan warga Deiyai antara lain, markas Brimob Deiyai dijadikan tempat jual beli togel malah menjadi bandar togel dan tempat adu ayam yang selama ini negara larang,” jelas Adii.

Yohanes meminta kepada Bupati Deiyai segera mencabut izin operasi PT. Dewa Kresna dan anakannya dari bumi Tigi di tanah Deiyai.

“Secara kedinasan DPRD akan bentuk tim dan akan bertemu dengan Kapolda Papua dalam waktu yang tidak terlalu lama,” ucapnya.

Lanjut Adii, “Perusahaan ini (PT. Dewa) tidak pernah memberikan kontribusi sosial kepada orang Deiyai dan tidak pernah memberdayakan orang Deiyai dalam perusahaan sebagai sebuah kewajiban sosial, dan juga dalam pengamanan pekerjaan juga sangat meresahkan masyarakat Deiyai baik di camp Waghete dan camp Ipokeugidaa, Tigi Timur,” pungkasnya.

Pewarta: Arnold Belau