Ini Tiga Film Pemenang FFP Pertama di Papua

2
740

MERAUKE, SUARAPAPUA.com— Kompetisi Festival Film Papua yang diselengarakan di Merauke sejak 7 – 9 Agustus 2017, bertempat di Gedung Gereja Katedral Lama, Fertenten Sai,  Kompleks Misi.

Wens Fatubun, salah satu juri dalam FPP Pertama mengatakan, sejak Tanggal 7 Agustus kemarin panitia telah mengumumkan tiga pemenang terbaik dalam kompetisi FFP dan kini panitia telah mengumumkan tiga Pemenang terbaik.

“Dari ketiga film yang masuk sebagai juara, adalah film yang memang benar-benar menjadi penilaian serius dari juri,” kata Wens Fatubun.

Dari ketiga Film  tersebut, kata Fatubun, yang dinilai juri dan panitia festival film  Papua 2017 ada banyak makna.

“Yaitu makna yang dapat kami nilai. Dan memang dari cara bercerita lewat camera sangat luar biasa. Semua film sangat luar biasa. Tetapi tiga film yang memenangkan FPP pertama ini adalah yang terbaik dari yang terbaik,” katanya.

Sementara itu, Pastor Anselmus Amo MSC, yang juga Ditertur SKP KAMe memberi apresiasi kepada para pemeang kompetisi film Papua tahun 2017.

“Kita patut menghargai semua hasil karya semua film yang sudah ikut dalam kompetis film Papua  pertama di kota Merauke ,” ujar pater Amo ketika memberi sambutan pada acara penutupan FFP.

Kata Pater Amo, Orang Papua harus mampu menceritakan apa yang terjadi dengan cara dan gayanya sendiri, sehingga mampu menarik setiap orang yang melihat dan mendengar hasil karya anak Papua.

Sementara itu, ketua Papuan Voices, Max Binur mengapresiasi semua penyelenggara, pendukung dan panitia yang sudah turut berkontribusi selama persipan yang sukseskan FFP pertama di Merauke.

“Secara pribadi dan atasnama Papuan Voices saya menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar besarnya kepada SKP Merauke,  Jubi,  Tifa, Pusaka,  SP, dll . yang telah mendukung penuh FPP pertama. Terutama kepada Penasehat PV, Victor Mambor bersama Jubi dan EM yang telah suport penuh FFP,” katanya.

Lanjut dia, “Hormat saya secara khusus buat Asrida, Wenda, Tika,  Dorkas, Maria,  Elis, Siska dll. kalian perempuan hebat dan luar biasa. Tanpa kalian team kerja dan PV gersang.  Hormat saya juga buat Namek Urbanus dan team PV Merauke yang semangatnya luar biasa dalam persiapan sampai penutuoan FFP malam ini,” ungkap Max terharu.

Di akhir FFP ini, Max berharap agar semua dalam kondisi sehat dan semangat. Dan selalu dalam segala hal untuk Manusia dan Alam Papua.

Kata dia, Bila ada kekurangan,  kesalahan mari kita jadikan itu pelajaran buat kita masing masing untuk berbuat yang lebih baik lagi di setiap langkah kerja kita.

“Ini adalah awal dan bukan akhir dari perjuangan kita. Jalan perjuangan kita masih panjang dan penuh tantangan di tahun tahun selanjutnya. Namun paling tidak kita telah menanam tiang dasar utama rumah PV untuk generasi selanjutnya. Kita telah menabur benih benih kasih, perdamaian, persaudaraan dan perlawanan melalui FFP pertama ini,” katanya.

“Kita yakin bahwa apa yang telah kita buat melalui FFP ini akan tumbuh benih benih perlawanan untuk menjaga alam dan manusia papua di tanah Anim-Ha dan akan terus menjalar ke seluruh tanah Papua,” pungkasnya.

Berikut ini adalah nama tiga pemenang dalam kompetisi FFP.

Juara I

Judul                                       : Truk Monce

Sutradara                       : Imanuel Hindom

Durasi                            : 23 Menit 48 Detik.

Produser                        :  Harun Rumbarar

Editor                              : Imanuel Manu Hindom,

Pendamping Editior       : Bernad Koten, Siska Manam, Asrida Elisabeth.

Berdasarakan pertimbanagan juri  Film ini memenuhi kriteria dan sejalan dengan tema Festival Film Papua menyangkut hubungan manusia dengan alam. Film ini menawarkan  kombinasi bertutur  cerita dengan baik. Gaya film ini memberikan ruang  agar subjek memainkan peran dan keleluasan menceritakan hidupnya lewat film yang di gambarkan oleh pembuat film.

Juara II

Judul                               : Tete Manam

Produksi                         : Blakang Kosong Film

Sutradara dan penulis cerita    : Siska Manam

Penata Camera               : Siska Manam dan Elisabet Apeyaka

Editor                              : Siska Manam dan Asrida Elisabeth.

Durasi                            : 26 menit 59 detik

Berdasarkan pertimbangan juri: memiliki gaya bertutur yang menarik, sederhana dan berbedah diantara film lainnya.

Juara III

Judul           : Untuk Novalinda dan Andreas

Durasi         : 30 Menit

Lokasi         : Kota Jayapura, Koya.

Pertimbangan penjurian Film ini memiliki kompleksivitas Visual yang cukup kuat dan bangunan karakter subjek serta gaya bertutur yang sangat menikmati.

Seperti diberitakan sebelumnya, Panitia FFP 2017 sudah menerima sebanyak 27 karya dokumenter yang datang dari berbagai wilayah di Papua, antara lain Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Keerom, Wamena, Mimika, Nabire, Biak, Merauke, Sorong, dan Raja Ampat. Ragam cerita yang disampaikan lewat film-film antara lain kesehatan, pendidikan, ekonomi, politik dan keamanan, perempuan dan anak, budaya dan alam hingga sejarah.

Awalnya ada 27 film dokumenter, tetapi panitia eliminir dua film yang dinyatakan belum memenuhi syarat.

“Dari 25 film itu, akhirnya ada 10 film yang telah kami melakukan penjurian dan pada hari ini kami akan sebarkan informasi hasil dari film terbaik,” kata Yerri Borang, koordinator tim juri kompetisi FFP 2017, Minggu (30/7/2017) malam.

Selain Yerri Borang, tim juri lainnya adalah Wens Fatubun, Alia Damaihati, dan Maria Kaize. Dari hasil penjurian tersebut, berikut 10 film terbaik di ajang FFP 2017.

Film pertama dengan judul “Nagosa” (Mama), sutradara Kristian G. Tigor Kogoya, durasi 13 menit 54 detik, lokasi Wamena, Papua.

Film kedua “Untuk Novalinda dan Andrias”, sutradara Elisabet Apyaka, durasi 30 menit, lokasi Koya, Kota Jayapura, Papua.

Film ketiga “Mama Amamapare”, sutradara Fabian Kakisina dan Yonri S. Revolt, durasi 24 menit, lokasi Mimika, Papua.

Film keempat berjudul “Sang Pendamping”, sutradara Stefanus Abraw, durasi 11 menit, lokasi Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua.

Film kelima “Sa Butuh Ko Pu Cinta”, sutradara Benedicta Lobya, Franky Lokobal dkk, durasi 16 menit 21 detik, lokasi Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Film keenam “Salon Papua”, sutradara Stracky Yally Asso, durasi 19 menit 26 detik, lokasi Kota Jayapura, Papua.

Film ketujuh “Maximum Impact” (hidup yang berdampak), sutradara Rizal Lanni, durasi 20 menit 28 detik, lokasi Wamena, Jayawijaya, Papua.

Film kedelapan “Truk Monce”, sutradara Imanuel Hindom, durasi 23 menit 48 detik, lokasi Keerom, Papua.

Film kesembilan “Anak Papua Belajar”, sutradara Fransiska Pigay, durasi 20 menit 16 detik, lokasi Waena, Kota Jayapura, Papua.

Film kesepuluh “Tete Manam”, sutradara Siska Manam, durasi 26 menit 59 detik, lokasi Jayapura, Papua.

Untuk diketahui, pelaksanaan FPP kedua pad atahun 2018 akan digelar di Wamena.

 

Pewarta: Harun Rumbarar

Editor: Arnold Belau

  • Irfy Wandikbo

    Kami sangat bangga anak-anak Papua mampu membuat Film, saya yakin pasti terbaik dan membuat penonton jadi penasaran.
    Tingkatkan bakat kalian

  • Irfy Wandikbo

    Tingkatkan bakatmu anak papua pasti bisa.