KLB Campak dan Gizi Buruk di Asmat: 68 Anak dan Balita Meninggal

0
2136

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Kasus gizi buruk dan campak di Kabupaten Asmat, tergolong kejadian luar biasa (KLB). Pasalnya, hingga sejauh ini sudah 68 orang –terdiri dari anak dan balita– meninggal dunia.

Meskipun sampai saat ini datanya masih simpang siur, informasi dari beberapa sumber menyebutkan, 68 anak dan balita itu meninggal dunia dalam waktu yang berbeda. Korban meninggal didata sejak wabah pertama kali terjadi, sehingga diperkirakan selama lima bulan terakhir.

63 anak diantaranya meninggal akibat gizi buruk, sedangkan tiga anak karena campak dan satu orang lagi meninggal dunia setelah terjangkit penyakit tetanus.

Sejak kasus tersebut tersiar ke seluruh nusantara, tidak sedikit bantuan “mengalir” ke kota lumpur. Bantuannya berupa obat-obatan, makanan, minuman, pakaian dan lainnya. Banyak, tim medis pun diturunkan untuk melayani warga di sana.

Dikabarkan, kasus gizi buruk dan campak diderita warga Asmat di hampir semua perkampungan. Ada 19 distrik yang terkena wabah campak dan gizi buruk. Itu sebabnya, tim medis gabungan langsung disebar ke semua distrik, dan mendatangi warga di kampung-kampung.

Ketika tim gabungan mendapati pasien langsung dievakuasi ke RSUD Kota Agats, yang terletak di ibukota Kabupaten Asmat.

Dokter Lidwina Elisabeth yang saban hari bertugas menangani anak-anak penderita gizi buruk dan campak, mengaku tiap hari tak sepi dari pasien. Mereka datang dari kampung-kampung, dan petugas medis melayaninya dengan baik.

Pastor Hendrikus Huda, Pr, menjelaskan, banyak umatnya saat ini dirundung duka karena wabah tersebut. Banyak keluarga diperhadapkan dengan situasi sulit karena kebanyakan anak-anak sedang sakit-sakitan, bahkan beberapa diantaranya telah menghembuskan nafas.

Selama melakukan pastoral ke kampung-kampung, ia melihat langsung warga di sana hidup mengandalkan kemurahan alam. Bahkan sebagian besar mereka hidup dan makan dari alam dengan cara mencari ikan dan tokok sagu.

Warga juga sering meninggalkan rumahnya dengan perahu dayung bersama keluarganya menyusuri sungai dan membuat gubuk kecil (bevak) untuk tinggal selama mencari makanan. Kemungkinan pola hidup ini yang membuat mereka mudah terserang sakit.

Wilayah Kabupaten Asmat hampir 90 persen tertutup air dan rawa. Semua penduduk di 23 distrik hidup di pinggir sungai.

Sejak September 2017, pemerintah daerah sebenarnya mendapat laporan adanya wabah itu. Namun menurut Bupati Asmat, Elisa Kambu, data dari Dinas Kesehatan itu diperkuat dengan laporan dari Uskup Keuskupan Agats, Mgr. Aloysius Murwito bahwa ada balita meninggal di Kampung As, Distrik Pulau Tiga. Balita tersebut meninggal akibat campak.

Saat rapat koordinasi dengan tim dari KSP, tim Kementerian Kesehatan, tim Kementerian Sosial, tim Provinsi Papua, TNI dan Polda Papua, Rabu (16/1/2018), Bupati akui telah menemukan sendiri ada balita yang meninggal dan belasan anak terserang penyakit campak dan gizi buruk di Kampung As dan Atat.

“Saya saat itu langsung perintahkan kepala Dinkes untuk tanggulangi segera,” kata Elisa.

Sejak tim medis mulai bekerja pada 1 Januari, tercatat ratusan pasien dilayani dengan baik. Laporan itu diketahui pada 11 Januari lalu. Diantaranya 393 orang menjalani rawat jalan, dan 175 lainnya terpaksa harus menjalani rawat inap.

Lanjut Bupati, pihaknya terkendala tenaga dokter selama KLB ini. Sebab, tenaga dokternya hanya 12 orang ditambah 1 dokter spesial.

“Dari 16 puskemas yang tersebar, hanya 7 yang ada dokter. Terus, kita minim peralatan kesehatan dan jarak yang berjauhan. Itu mengakibatkan banyaknya korban,” jelasnya.

Dengan datangnya bantuan dari Mabes TNI, Polda Papua, Kemenkes dan Dinkes Papua, Bupati yakin wabah tersebut bisa tertangani secara cepat.

Bupati juga mengakui adanya kesalahan dari stafnya yang tidak tanggap dan menanggani kasus KLB ini secara cepat. Aspek lain, kata dia, budaya masyarakat setempat yang masih kurang informasi terhadap kesehatan juga menjadikan kesulitan tersendiri dalam upaya pencegahan KLB ini.

Ia menambahkan, para korban akibat campak itu lantaran banyak warga takut anaknya diimunisasi.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg. Aloysius Giyai, M.Kes mengatakan, pihaknya sejak awal langsung bergerak menangani wabah di Kabupaten Asmat.

Kesiapan itu dibuktikan dengan mengirim 800 viral vaksin ke Kabupaten Asmat untuk menangani pasien dan warga umumnya. Juga dikirim tim medis ke sana.

“Kita wajib selamatnya selama manusia yang diserang penyakit campak dan kurang gizi. Itu komitmen kami,” ujar Giyai.

Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinkes Papua, dr. Aaron Rumainum mengaku pihaknya sudah kirim vaksin dan tiba di Agats, Kamis (11/1/2018) lalu. Ini menjawab permintaan dari Dinkes Asmat.

“Sebanyak 800 viral vaksin yang kita sudah dikirim ke sana. Terus, permintaan lanjutannya sebanyak 300 viral vaksin. Itu kita dikirim pada hari Selasa (16/1/2018) lalu,” jelasnya.

Selain vaksin, kata dia, pada hari itu juga Dinkes Papua kirim satu ton makanan tambahan (PMT) ke Asmat. Selanjutnya, Rabu (17/1), pihaknya kembali mengirim satu ton makanan tambahan ke kabupaten yang terkenal di dunia internasional dengan ukiran khasnya itu.

Tak sampai di situ, Dinkes Papua juga telah siapkan obat dan vaksin untuk antisipasi permintaan kebutuhan dari tenaga lapangan di Asmat.

“Untuk obat dan vaksin, kami tetap menunggu permintaan tambahan dari teman-teman di Asmat,” kata sekretaris Dinkes Papua, Silwanus Sumule, di Jayapura, Kamis (18/1/2018), dikutip dari Antara.

Menurutnya, stok obat di Laboratorium Farmasi Provinsi Papua selalu tersedia, sehingga langsung dikirim jika ada permintaan dari Asmat. Meskipun diakui bahwa kendala terbesar yang dihadapi adalah soal pengiriman yang hanya bisa lewat transportasi udara dengan biaya cukup besar.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan langsung sigap mengatasi KLB gizi buruk dan campak di Asmat dengan mengirim 39 orang tenaga medis. Mereka ke sana dengan membawa logistik berupa vaksin dan perlengkapan imunisasi, makanan tambahan, dan obat-obatan.

REDAKSI