Sudah Banyak Kali Wabah Penyakit Serang Warga Asmat

1
1208
Satu keluarga mengalami gizi buruk dan TB paru termasuk seorang ibu (baju biru) ditempatkan dalam satu bangsal di RSUD Agats, Kabupaten Asmat, Jumat (19/1/2018) lalu. (Foto: Katarina Lita/KBR)

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Ternyata bukan kali ini saja terjadi wabah penyakit di Kabupaten Asmat, provinsi Papua. Tahun 2006 hingga 2007, anak-anak dan bayi di sana diserang wabah campak dan gizi buruk.

Penulis buku “Dukun Asmat”, Willem Bobi, mengungkapkan data yang ada, sudah beberapa kali wabah sama terjadi. “Sayangnya, hal itu tidak pernah dijadikan sebagai pengalaman agar tidak terjadi wabah penyakit serupa seperti sekarang,” ujarnya kepada suarapapua.com melalui keterangan tertulis, Senin (22/1/2018).

Ia menyebut fakta selama ini anak-anak di Asmat rentan dengan berbagai jenis penyakit. “Berdasarkan hasil reportase dan penelitian saya selama di Asmat tahun 2007 sampai 2010 lalu, angka kematian bayi dan anak di Asmat tidak pernah membaik. Rata-rata sampai tiga anak meninggal dunia dalam seminggu. Itu fakta mengerikan,” tuturnya.

Dari penelusurannya, Bobi mencatat beberapa fakta tragis serupa sering terjadi di wilayah Asmat, antara lain seperti laporan kesehatan dalam dekade tahun 80an dan 70an.

Hasil dari penelusuran dan liputannya selama di “kota lumpur”, Bobi telah menerbitkan buku “Dukun Asmat”. Buku itu sedikit banyak mengulas buramnya potret pelayanan kesehatan dasar oleh pemerintah maupun swasta di kabupaten Asmat.

Mantan wartawan Tabloid Jubi ini mengatakan, kelemahannya adalah pemerintah setempat terus berkiprah dengan misi politik, sementara hak kebutuhan dasar masyarakat jarang diprioritaskan. Akibatnya, banyak terdapat kasus kesehatan di sana.

“Pemerintah dan Dinas Kesehatan Asmat juga tidak mau belajar dari pengalaman wabah sebelumnya. Hal lainnya, selama ini kekurangan dan lemah di sektor sarana, keuangan, tenaga dan metode untuk menjangkau daerah-daerah yang terisolir,” ungkap Bobi.

Untuk ke depan, ia berharap, pemerintah seharusnya memerhatikan tujuan dan fungsi pos pelayanan kesehatan di tingkat distrik, jika ingin serius mengurusi kesehatan mayarakat Asmat.

Lanjut Bobi, keberadaan lembaga layanan kesehatan tingkat distrik amat penting karena bertujuan mengurangi dampak buruk kesehatan akibat wabah atau penyakit rutin, seperti malaria, diare, inpeksi saluran pernapasan atas (ISPA), kusta maupun wabah penyakit lain yang masih mendominasi di wilayah Asmat.

Alumnus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo ini juga menyayangkan munculnya tidak sedikit petugas yang menghendaki agar status distrik ditingkatkan menjadi kabupaten supaya ada banyak uang.

“Sedangkan, masyarakat harus lebih banyak memikirkan tentang uang ketimbang kesehatan diri dan keluarganya,” imbuhnya mengisahkan.

Merebaknya wabah penyakit di Asmat kali ini menarik simpati publik, tak terkecuali Menteri Sosial Idrus Marham. Ia bahkan langsung kunjungi masyarakat Asmat, Sabtu (20/1/2018) lalu, dan sempat katakan bahwa KLB campak dan gizi buruk itu harus tuntas tertangani dengan baik.

“Yang perlu diperhatikan satu bulan sejak pertama ditangani, perawatan anak-anak ini harus tuntas. Sebab kalau tidak dikhawatirkan akan kembali terulang,” kata Idrus.

Mensos didampingi tim terpadu diantaranya para dokter dan tenaga kesehatan, mengaku sudah bekerja dengan baik.

Agar identifikasi bencana sosial serupa cepat terpantau, Mensos juga berjanji akan memperkuat koordinasi dengan kementerian lain, dalam hal ini Kementerian Dalam Negeri.

Ia akui Pemda setempat sudah cukup baik tangani wabah ini misalnya dengan memberikan bantuan kesehatan dan kecukupan gizi ibu hamil.

Di kesempatan sama Kementerian Sosial memberikan bantuan beras sebanyak 3 ton. Selain makanan tambahan, termasuk buat anak-anak sebanyak 25.000 paket. Bantuan tersebut terkoordinasi melalui posko bantuan yang sudah didirikan sebelumnya.

REDAKSI