TNI/Polri dan TPNPB Diminta Hargai Nilai Kemanusiaan dan Lindungi Masyarakat Sipil

0
3365

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Kominte Nasional Papua Barat meminta pihak TNI/Polri dan Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat (TPNPB) untuk menghargai nilai kemanusiaan dan lindungi masyarakat sipil.

Hal ini disampaikan ketua KNPB Pusat, Agus Kosay menanggapi persitiwa pembunuhan 24 orang pekerja jembatan di distrik Yigi, Kab. Nduga Papua kepada suarapapua.com di Jayapura, Selasa (4/12/2018).

Agus menegaskan, yang melakukan pembunuhan terhadap 24 pekerja jembatan adalah TPNPB. Bukan KKSB atau KKB seperti yang selama ini dialamatkan kepada TPNPB.

Untuk itu, agus mengatakan, pada saat ini yang saling berhadapan adalah tentara dengan tentara yang bersenjata yaitu TNI/Polri dengan TPNPB. Sehingga KNPB sebagai media nasional rakyat Papua Barat, meminta agar baku tembak harus dilakukan antara tentara dan tentara.

“Harus fokus pada sasarannya. Tidak boleh ganggu masyarakat sipil yang tidak tahu persoalan dan masalah. Kedua belah pihak harus melindungi dan menyelamatkan rakyat sipil,” katanya.

Menurut KNPB, kata Agus, masalah Papua tidak akan berakhir setelah lakukan perang itu. Siapa yang menang dan kalah, tidak akan ada solusi.

“Solusi yang kami KNPB tawarkan kepada Indonesia adalah bagaimana referendum bisa terjadi di West Papua. Supaya kita selesaikan masalah Papua dengan damai dan bermartabat, kita duduk bicara dan kita selesaikan,” jelasnya.

Maka, itulah selama ini KNPB suarakan referendum itu menunjukkan bahwa tidak boleh ada gencatan senjata atau apa pun tetapi bagaimana Indonesia buka diri seperti Francis lakukan di Kanbaky.

“Indonesia biasa bilang Indonesia adalah negara demokrasi. Jadi tunjukkan pada orang Papua dan dunia bahwa demokrasi itu benar-benar ada dan diterapkan di Indonesia,”

Pemerhati HAM dan direktur eksekutif YKKP, Theo Hesegem menanggapi persitiwa pembunuhan 24 pekerja di Yigi menyampaikan turut berduka cita atas meninggalnya 24 orang yang menjadi korban pembunuhan.

“Kami berduka karena itu tindakan yang sangat tidak menyenangkan dan salah. Tindakan seperti mendatangkan masalah besar bagi warga sipil di wilayah Nduga,” kata Theo.

Secara pribadi, kata Theo, prihatin dengan kondisi yang saat ini sedang terjadi.

“Saya secara pribadi sangat-sangat prihatin dengan kondisi ini. Tindakan yang sangat tidak manusiawi dan tindakan yang tidak menghargai ciptaan Tuhan sebagai gambar dan rupa-Nya,” tegas Hesegem.

 

Pewarta: Arnold Belau