Loyalitas dan Profesionalisme dalam PT Persipura Papua

0
1556

Oleh: D. A Mampioper)*

Ketua Umum Persipura Jayapura, Benhur Tomi Mano baru saja mengomentari tak akan memanggil pulang mantan pemain Persipura karena dinilai tidak loyal dan lebih mementingkan diri sendiri ketimbang harga diri.

Kepergian Nelson Alom dan kawan-kawan ke Persebaya maupun Victor Igbonefo dan pemain asing lainnya karena memang Persipura tidak mengontrak pemain berdurasi lama. Hanya setahun saat kompetisi setelah itu putus, padahal kalau mau sebaiknya kontrak jangka panjang agar pemain tetap bertahan.

Kalau pun ada yang hendak keluar, klub Persipura bisa mendapat transfer fee dari nilai kontrak pemain. Misalnya saja sebanyak delapan pemain pindah ke Persebaya termasuk Osvaldo Haay yang jebolan Persipura U-21. Mestinya manajemen Persipura harus mendapat transfer fee dari pemain kalau semua diurus secara profesional.

Alasan Osvaldo Haay ke Persebaya, hanya untuk mencari suasana baru, berbeda dengan Igbonefo. “Money and money,” kata rekan sekamar dengan David Laly yang kini merumput di Liga Malaysia.

Pemain asing yang dibilang produk binaan Persipura adalah Victor Igbonefo datang dari Nigeria dalam usia sangat muda sekitar 19 tahun pada 2004. Bermain bersama Boaz yang waktu itu berusia 18 tahun sejak 2005. Hasilnya Igbonefo, Boaz dan Ian Kabes serta pemain jebolan PON 2004 merebut juara Liga Indonesia saat masih dibesut Rahmad Darmawan. Usai meraih juara liga, coach Rahmad Darmawan bilang kalau disuruh memilih pemain terbaik justru Victor Igbonefo lebih bagus ketimbang Christian Warobay rekan Boaz di PON 2004 Palembang.

Namun kepindahan pelatih Rahmad Darmawan ke Sriwijaya FC justru Christian Warobay yang ikut bersama pelatih Rahmad Darmawan. Sebaliknya Victor Igbonefo bertahan di Persipura sampai 2011 saat mengangkat sumpah menjadi warga negara Indonesia. Pemain bernomor 32 itu akhirnya berlabuh bersama Arema Cronous Malang. Kini Victor bergabung bersama Persib Bandung, setelah merumput di Liga Thailand.

Victor Igbonefo sendiri mengakui kepergiannya dari Persipura hanya dilandasi faktor mencari suasana baru. Ia pun meminta maaf kepada seluruh Persipuramania, manajemen, dan juga rekan-rekannya di Persipura. “Saya juga sudah mengontak Ivakdalam soal kepergian saya,” kata Igbonefo sebagaimana dilansir goal.com Indonesia.

Pemain kelahiran Lagos Nigeria, 10 Oktober 1985 ini, pertama kali memperkuat Persipura sejak 2004 di bawah asuhan almarhum pelatih Suharno, dan berjasa mengamankan Persipura dari jurang degradasi. Permainannya mulai meningkat saat Persipura ditangani pelatih Rahmad Darmawan, bahkan membawa Persipura meraih juara Liga Indonesia 2005/2006.

Meski tiga kali membawa Persipura juara, tetapi Igbonefo lebih terkesan saat pertama kali menjadi juara pada 2005 karena sambutan masyarakat yang luar biasa.

“Saya terkesan pertama kali datang ke Indonesia dan meraih juara bersama Persipura,” ucap Igbonefo. Bagi dia, Persipura dan kota Jayapura adalah rumah kedua baginya, sehingga sulit untuk dilupakan.

Persipura lisensi AFC

Alasan pemain pindah klub sudah pasti ada dua unsur; pertama mencari suasana baru dan kedua jelas nilai kontrak. Perkembangan sepak bola profesional telah merobah segalanya, tak mungkin semua pemain Persipura bisa menjadi ASN Pemerintah Kota Jayapura maupun Provinsi Papua.

Minimal kelola PT Persipura Papua sebagai aset, sehingga ada manfaat sosial bagi masyarakat maupun pemain mulai dari kontrak pemain sampai membuka lapangan kerja. Persipura baru saja mendapat surat dari lisensi klub standar AFC.

Hal ini termuat dalam surat Club Licensi Committee (CLC) PSSI per tanggal 15 Oktober 2018. Tujuh klub tersebut yakni Persija Jakarta, Persib Bandung, Arema FC, Bali United, Borneo FC, Bhayangkara FC, dan Persipura Jayapura. Tujuh kontestan Liga1 2018 Indonesia mendapat lisensi klub profesional dari induk organisasi sepak bola tertinggi di Asia, AFC.

Lisensi klub profesional dengan standar AFC tersebut penting bagi klub sepak bola yang ingin berpartisipasi di kompetisi level Asia. Untuk mendapatkan lisensi, AFC sudah menetapkan lima aspek penilaian yang harus menjadi standar klub. Kelima aspek tersebut yaitu legalitas, finansial, infrastruktur, administrasi, dan pembinaan usia dini, serta sumber daya manusia.

Apa itu CLR?

Club Licensing Regulation (CLR) adalah dasar-dasar persyaratan klub untuk menjadi klub profesional agar bisa berlaga di kompetisi nasional, regional, dan internasional. Oleh FIFA, CLR ini sudah disetujui pada 2004, lalu diadopsi Komisi Eksekutif pada 2007 dan resmi berlaku 1 Januari 2008.

Apa saja persyaratannya?

Ada persyaratan minimal agar suatu klub sepak bola bisa berkompetisi di kompetisi nasional atau regional. Persyaratan ini dibagi menjadi lima kriteria, yaitu:

  • Kriteria Olahraga: Klub harus punya program pembinaan pemain muda, setidaknya ada satu tim untuk pemain usia 15-21 tahun dan 10-14 tahun. Dengan ini, selalu ada regenerasi bagi klub dan tentunya tim nasional. Lewat program pembinaan usia dini yang berkualitas, klub tidak akan kekurangan pemain dan tentunya tim nasional juga diuntungkan dengan pembinaan usia dini di klub-klub ini. Selain itu, klub akan mendapat kompensasi jika pemain mereka usia di bawah 23 tahun ditransfer ke klub asing.
  • Kriteria Infrastruktur: Tiap klub harus mempunyai stadion yang memadai dan lengkap yang bisa memberikan kenyamanan bagi penonton dan awak media. Di Indonesia sendiri tidak semua klub punya stadion yang memadai. Persija Jakarta sendiri masih menagih janji Gubernur Anis Baswedan yang mau bangun stadion bertaraf internasional menyamai Stadion Manchester United.
  • Kriteria Personel dan Administrasi: Klub harus mempunyai orang-orang yang profesional di bidangnya dan harus tertib administrasi.
  • Kriteria Hukum: Ini berkaitan dengan status klub sebagai badan hukum dan tentunya tidak ada yang ingin kejadian klub terpecah dan ribut soal status kepemilikan.
  • Kriteria Keuangan: Berkaitan dengan transparansi mengenai keuangan, seperti transfer, pembayaran gaji dan lain sebagainya. Diharapkan jangan sampai ada kejadian klub-klub yang menunggak gaji pemain seperti yang terjadi beberapa tahun sebelumnya.

Terlepas dari pro dan kontra soal loyalitas dan profesional antara cari uang dan bawa nama Tanah Papua. Boleh-boleh saja demi harga diri. Namun harus diingat bahwa bermain sepak bola sudah berubah dari “nilai persaudaraan menjadi nilai ekonomi” dan industri olahraga.

Ferdinando Fairyo mengutip pernyataan mantan pelatih Persipura mendiang HB Samsi, “hargailah pemain lokal Papua karena mereka punya kualitas”. Nando berikan contoh bagaimana permainan antara Jack Komboy, Igbonefo dan Bio Pauline. “Sama-sama pemain belakang terbaik, tetapi nilai kontrak Komboy hanya bunyi ta sedangkan dua pemain asing yard. Untuk minta tambah saja sulitnya minta ampun karena demi harga diri atau harga ekonomis.”

Tahun depan Stadion Papua Bangkit sudah berdiri dengan megah, memiliki daya tampung sekitar 45 ribu penonton. Lalu bagaimana dengan Stadion Mandala markas Persipura sementara? Usulan yang pernah dikatakan mantan manajer Persipura era 1990-an, Spencer Infandi bahwa Persipura pernah menolak mengelola stadion Mandala karena dinilai tak mampu.

Kini saatnya Persipura harus berani tampil mengelola Stadion Mandala sebagai basis utama Persipura. Mulai dari ruang cafe Persipura, artshop Persipura, dan buka ruang bagi komunitas Persipura termasuk kantor PT Persipura Papua. Pasalnya, selama ini papan nama Persipura di Gedung Olahraga (GOR) Waringin hanya bernama Persipura tanpa adanya PT. Persipura Papua.

Berharap stadion Mandala jadi milik Persipura dan menjadi salah satu aset wisata warga jika melihat wajah pemain asing yang pernah main di Mandala termasuk Nicky Butt eks gelandang Manchester United. Paling tidak peserta PON dari seantero Indonesia akan berkunjung ke artshop Persipura di Stadion Mandala pada November 2020 sebagai salah satu tujuan wisata Kota Jayapura.

Sumber: Goal Papua