Masyarakat Sipil di Kabupaten Nduga Masih Mengungsi

0
3792

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Masyarakat sipil di kabupaten Nduga yang melarikan diri ke hutan karena trauma masa lalu dan sekarang setelah kasus penembakan belum semuanya kembali ke tempat tinggal masing-masing.

Berdasarkan laporan tim evakuasi korban masyarakat sipil setelah melakukan peninjauan di beberapa tempat, warga sipil yang lari ke hutan lantaran trauma belum kembali meskipun sedikit dari yang mengungsi sudah kembali ke rumah.

Sejak tim gabungan TNI dan Polri diperintahkan untuk mengevakuasi pekerja proyek jembatan korban penembakan, tidak sedikit warga sipil memilih mengungsi ke hutan dan hingga kini belum diketahui keberadaannya.

“Tim kami dibentuk dari beberapa unsur ada pemuda, gereja, LSM, dan pemerintah. Tim ini bertugas untuk mengevakuasi korban entah para pekerja proyek maupun warga sipil di Kabupaten Nduga tepatnya di Distrik Dal,” kata Tilas Mom, sekretaris Kingmi yang juga terlibat dalam tim tersebut, saat jumpa pers di Kantor Sinode Kingmi Papua, Kamis (20/12/2018).

Ia menjelaskan, tim setelah tiba pada tanggal 14 Desember 2018, ditemukan satu korban warga sipil.

“Kami temukan, mayatnya sudah membusuk. Tim langsung makamkan jenazahnya. Hari berikutnya lokasi yang tidak jauh dari mayat pertama, ditemukan lagi satu orang pelajar,” bebernya.

Mayat tersebut, kata Mom, tidak langsung dikebumikan.

“Kami tidak mau dari belakang dibilang warga sipil dua orang itu OPM, kami panggil tentara dan polisi untuk membuktikan bahwa ini benar-benar warga sipil, bukan OPM. Setelah TNI dan Polri saksikan langsung, kami kuburkan di tempat yang tidak jauh dari mayat pertama,” Mom menceritakan.

Pada hari berikutnya, dari Distrik Dal tim melanjutkan perjalanan ke Distrik Mbua. “Di sana kami temukan satu orang tua yang usianya 50 tahun dan sudah tidak bernyawa. Ada satu lagi yang tertembak di leher tembus belakang. Dia baru meninggal kemarin,” jelasnya.

“Ada satu yang dapat tembak, tapi masih hidup. Saya baru ditelepon kalau orang itu baru meninggal. Padahal kami tim ke kota untuk urus Heli supaya bias dievakuasi,” tambahnya.

Tim tersebut belum melakukan kunjungan ke distrik Yal lantaran pihak keamanan sudah masuk lebih dulu ke sana.

“Sampai kami di sana ada warga yang lari tinggal di hutan ada yang masuk, tetapi kebanyakan masih di hutan atau dimana tidak tahu. Lebih parah lagi distrik Yal yang menjadi tempat utama,” jelas Mom.

Menurutnya, distrik lain saja ada 4 orang korban apalagi distrik Yal dimana tempat OPM menembak para pekerja itu. Sehingga dirinya mewakili tim evakuasi berharap pemerintah melalui Presiden Indonesia untuk intruksikan agar operasi militer harus segera dihentikan.

Menanggapi kejadian tersebut, ketua Sinode Kingmi Tanah Papua, Pdt. Dr. Benny Giay menyayangkan kondisi yang sedang dialami umat Tuhan di wilayah Nduga.

Kejadian tersebut menurutnya berawal dari ibadah gerbang natal yang diminta Gereja Kingmi untuk dijalankan jemaat.

“Pimpinan Gereja Kingmi sudah keluarkan himbauan agar semua gereja Kingmi di Tanah Papua pada tanggal 1 wajib laksanakan ibadah gerbang Natal. Dengan tema dari pemerintah dan gereja sendiri,” ucapnya.

Saat ibadah yang dipusatkan di Distrik Yal sedang berlangsung, seseorang yang diduga pekerja datang untuk memotret. Karena orang tersebut tidak dikenal, terjadi adu mulut.

“Orang tadi lari ke camp, maka pada hari berikut tanggal 2 terjadi penembakan. Akibatnya operasi militer dilancarkan sampai sekarang. Kami pimpinan gereja desak agar operasinya segera dihentikan karena yang jadi korban itu masyarakat sipil, bukan OPM yang ditargetkan oleh negara,” ujar Pendeta Giay.

Ketua Sinode juga minta pemerintah melalui presiden harus tarik kembali statemen yang memerintahkan militer melakukan operasi di Nduga. “Segera tarik statemen itu, karena akibatnya masyarakat Kingmi di Nduga yang menjadi korban operasi militer,” ujarnya.

Pewarta: Ardi Bayage
Editor: Markus You