Natal Progresif

0
3729

Oleh: Mikael Tekege)*

“… Agama bisa dan seharusnya menjadi “bara api” melawan kezaliman, ketidakadilan dan ketidakmanusiawian”. (Michael Löwy, 2013)

Natal merupakan hari besar yang memiliki arti penting bagi umat Kristiani seantero dunia. Natal adalah hari kelahiran Yesus. Yesus membawa datang dan mewartakan tentang Kerajaan Allah serta firman keselamatan dan pembebasan ditengah umat yang ditindas oleh kerajaan Kaisar.

Yesus membawa kabar gembira bagi umat yang hidup dalam penindasan, penderitaan dan perbudakan untuk dapat diselamatkan. Melalui perjuangan dan pengorbanan-Nya, Yesus menghapus sistem yang menindas dan menghisap rakyat kecil pada saat itu.

Mereka yang mendapat keuntungan dari ketidakadilan, perampasan dan perbudakan itu merasa terganggu dengan kehadiran Yesus, sehingga digantung di kayu salib, namun bangkit kembali dan dikenal sebagai Anak Allah. Dengan demikian, Natal dilaksanakan untuk menerima bayi Yesus dalam hidup umat Kristiani agar dapat merawat demi mengikuti jejak perjuangan dan pengorbanan-Nya dalam kehidupan kita kini.

Maka jelaslah bahwa Natal bukan hanya sebatas menghiasi berbagai macam atribut yang tak bermakna, natal bukan juga hanya melaksanakan pesta besar-besaran hingga melupakan kedatangan Sang Raja Damai. Natal akan sangat bermakna ketika kita menerima bayi Yesus, merawat dan mengikuti jejakNya.

Sebagai orang Kristen, wajib untuk menjadikan Yesus sebagai teladan dalam menjalani hidup di zaman yang tidak kenal ampun ini. Yesus sebagai teladan bukan untuk memiliki sikap pasrah, bukan juga untuk selalu berdoa sepanjang siang dan malam demi keselamatan pribadi tanpa karya-karya nyata. Melainkan untuk berjuang dan berkorban demi banyak orang, berdoa dan bekerja demi keselamatan dan kebebasan bagi rakyat tertindas secara kolektif.

Jangan salah maknai momen Natal!.

Kita harus melepaskan diri dari liberalisasi ajaran firman Tuhan yang lebih utamakan keselamatan individu yang tidak dikehendaki oleh Yesus. Yesus tidak pernah berjuang dan berkorban untuk diri sendiri, orang tua dan keluarganya. Lebih dari itu, Yesus berjuang dan berkorban demi keselamatan rakyat yang ditindas, disiksa dan diperbudak melalui sistem kekuasaan.

Adalah wajib bagi kita untuk melaksanakan pekerjaan Tuhan, menjadikan Yesus sebagai panutan kita dalam situasi hidup seperti saat ini. Kewajiban ini harus menjadi ciri khas kita yang mengimani Yesus. Kewajiban ini sebagai bukti bahwa kita benar-benar menerima, merawat dan mengikuti ajaran, perjuangan dan pengorbanan-Nya.

Kewajiban kita jangan hanya sebatas buah bibir yang tak bermakna. Kewajiban kita, jangan hanya sebatas bisa pidato dan kotbah yang tak sejalan dengan sikap dan tindakan. Kewajiban kita jangan hanya seputar kata-kata doa tanpa perbuatan. Lebih dari itu, kewajiban kita harus dimiliki, dimengerti, dimaknai dan dipraktekan dalam setiap aktivitas hidup kita.

Makna Natal  Progresif

Realitas hidup manusia pada masa kini sangat memprihatinkan. Ciri kehidupan dunia lain telah dan sedang merasuki otak manusia hingga terasa asing dalam menjalani hidup di dunia ini. Konteks ini sedang memaksa kita untuk berusaha dan berjuang sekuatnya dan atau semampunya untuk mencapai pada suatu tatanan hidup yang didambakan secara kolektif.

Kolektifitas dan solidaritas serta persatuan menjadi urgen dalam perjuangan menuju tatanan hidup yang diimpikan. Dengan demikian, manusia harus melepaskan diri dari berbagai sikap hidup yang  memperkeruh situasi. Manusia harus keluar dari berbagai doktrin yang menanamkan sikap yang sebenarnya mengasingkan diri dari dunia nyata ini.

Sikap egois merupakan hal paling utama harus dihindari, begitu juga hidup dalam kebahagiaan semu di atas penderitaan pihak lain. Sikap pasrah dan malas tahu pun tidak ada manfaatnya, karena tidak ada arti bagi kita hidup di tengah realitas sosial semakin parah ini. Menjadi manusia oportunis pun bukanlah zamannya. Sikap hidup kita semacam itu, tidak pernah membuat kita terasa puas hidup di dunia yang begitu membutuhkan peranan dan solidaritas serta persatuan perlawanan kita ini.

Zaman kita dan realitas kita kini adalah kesempatan dan peluang untuk berkarya mencari sebuah kebijaksanaan menurut posisi masing-masing. Aturan formal jelas akan menjadi musuhnya sebuah kebijaksanaan, sehingga akan selalu diawasinya oleh algojo-algojo hegemoni negara maupun kapital global, karena itulah, pada zaman kita ini berkarya mencari kebijaksaan adalah berkarya dalam bahaya.

Berkarya mencari kebijaksanaan bukan sebuah kegiatan secara sukarela, bukan juga sebagai sebuah keterpaksaan akibat tuntutan atau paksaan serta ancaman tertentu. Namun, harus sadar bahwa mencari kebijaksanaan adalah sebuah kewajiban yang melekat pada kita sejak kita menginjak kaki di dunia ini.

Dengan demikian, tantangan, hambatan dan ancaman merupakan konsekuensi yang harus ditanggung demi kewajiban mencari sebuah kebijaksanaan, karena itulah arti hidup manusia yang sebenarnya di dunia ini dan tentu hidup kita akan terasa puas.

Kita harus menyadari atas hidup ini; kita harus merenungkan atas hidup ini dan bertanya dalam setiap diri kita masing-masing bahwa untuk apa Tuhan menciptakan kita? Atau apa arti hidup di dunia ini? Yang jelas, Tuhan menciptakan kita bukan untuk hidup dalam ke-egois-an, bukan untuk hidup dalam kebahagiaan semu dan bukan juga untuk hidup dalam sikap pasrah dan malas tahu. Tetapi sebenarnya untuk mencari sebuah kebijaksaan, demi tegaknya kebenaran, keadilan dan kesetaraan serta kedamaian dalam cinta kasih antar sesama umat manusia di dunia ini.

Karena itulah, wajib bagi manusia untuk berkarya memperjuangkan sebuah kebijaksanaan. Dan pada prinsipnya, jangan mencari popularitas diri atau jangan ingin terkenal dengan karya-karya kita, karena kita hanya bisa puas dan merasa beban hidup kita berkurang ketika manusia hidup dan berusaha mencari kebijaksanaannya.

Kita yang berkarya demi kebijaksanaan hanya bisa puas ketika karya kita mampu mempengaruhi mereka yang hidup dalam ketidakberesan dan sadar akan pentingnya mencari kebijaksanaan hidup di dunia ini. Kita hanya bisa puas, ketika para penindas menyadari apa yang dilakukannya itu ternyata salah, kita hanya bisa puas, ketika mereka yang ditindas menyadari dan bangkit berjuang membebaskan diri dari penindasan dan penderitaan yang menimpa hidup mereka.

Seperti yang dikatakan Albert Camus (2013:84): “sekarang harus paham bahwa bukan kita yang akan jadi terkenal, melainkan orang lain menggunakan namanya, orang lain yang pada akhirnya lepas diri darinya”.

Milik kita hanya rasa puas ketika menjalankan sebuah kewajiban. Oleh karena itu, menjalankan kewajiban harus tergerak dari lubuk hati yang paling dalam dan tanpa didorong oleh hal-hal tertentu. Segala konsekuensi harus ditanggung, bahkan mati dalam mencari kebijaksanaan itu lebih terhormat, dari pada hidup dalam kepalsuan dunia yang merendahkan harkat dan martabat manusia.

Refleksi

Sejak dulu hingga kini, kita telah banyak berdoa, tetapi tindakan masih. Kita telah banyak mendengar firman Tuhan, tetapi praktek masih. Kita telah banyak bernyanyi, tetapi sebatas buah bibir tanpa makna. Kita telah banyak merayakan Natal, tetapi sebatas perhiasan dan pesta demi kepuasan sesaat.

Akankah iman kita kepada Yesus diimbangi dengan perbuatan demi kebebasan dan keselamatan umat tertindas sebagai sebuah kewajiban dalam hidup kita?.

)* Penulis adalah pemerhati sosial dan kebudayaan, tinggal di Paniai