Tuhan Sedang Menyoroti Ketika Gempuran Kekerasan dan Kunjungan Dewan Gereja Dunia

0
2824

Oleh: Pdt.Benny Giay)*

  1. Beberapa dekade terakhir ini, Bangsa Papua terus berhadapan dengan banyak persoalan berat yang di luar kemampuan analisa dan pemahaman kami sebagai gereja. Soal-soal itu yang kami maksud; tidak lain dari (a) pendirian batalyon militer yang berdekatan antara satu dengan yang lainnya, misalnya di Deiyai, Dogiyai, Paniai, Nabire, dan lain-lain. (b) pemekaran propinsi, kabupaten atau kota yang tidak kami (Bangsa Papua) minta, kebijakan yang disertai pembangunan jalan trans Papua yang tidak diminta rakyat; sedangkan yang diminta Bangsa Papua dawasa ini adalah: pemekaran negara.

(c) masuknya angka migran ke Papua yang membuat Papua minoritas di negerinya sendiri, membuat kaum pendatang rebut semua kesempatan kerja, kuasai semua ruang publik, (d) rasisme: yang memandang Bangsa Papua sebagai mahluk-mahluk setengah binatang atau babi-babi hitam yang bisa dibunuh, (e) TNI dan Polri yang terus menggunakan pendekatan militer, yang juara impunitasnya sehinga mereka sendiri yang amat getol berburu separatis tetapi mnurut media sambil jual senjata dan amunisi, dan lain-lain.

  1. Semua ini sedang memperkuat kebangkitan kesadaran kepapuaan yang mulai bersemi akhir 1970an. Bagaimana kita sebagai gereja melihat dinamika ini. Kami melihat semua gerakan tadi sebagai soal-soal berat yang serupa dengan yang terjadi dalam 20 tahun pertama Indonesia menguasai Papua (1960an); sehingga pada Akhir tahun-tahun 1970an dan tahun 1980an melahirkan apa yang kami sebut, kebangkitan kesadaran kepapuaaan.

Papua sejak tahun-tahun itu merasa pihaknya sedang dijajah, sedang disingkirkan secara sistimatis oleh suatu kekuatan, seperti Firaun Modern dan kroni-kroninya: Amerika, Inggris Australia, Belanda, dan lain-lain. Sehingga generasi Papua tahun-tahun itu bangkit, berdiri teguh dengan modal kultur dan ingatan kolektif sejarahnya. Bagaimana wujud dari kebangkitan kesadaran kepapuaan tersebut pada tahun-tahun yang kita sedang bicarakan?

(a) generasi Papua pada akhir 1970an mulai sebarkan slogan “black is beautiful, black is good”, dan lain sebagainya yang kami duga disemangati Stev Biko dari Affrika Selatan dan dengan dasar itu generasi Papua tahun-tahun itu (b) mnghidupkan lagu-lagu Mambesak yang dipimpin si pahlawan budaya Papua, Arnold Ap (c) OPM (dipimpin Saul Bomay dan kawan-kawan) mulai bawah perjuangan Papua Merdeka dari kampung-kampung masuk ke kota, perjuàngan tidak lagi di hutan-hutan tetapi di kantor-kantor di Dok. Dua Jayapura, di kampus Uncen, di gereja-gereja dengan menggarami para mahasiswa dan dosen sehingga 10 mahasiswa Uncen pergi kibarkan bendera Bintang Kejora (BK) di Kantor DPRP.

(d) meyakinkan PNS dan anggota TNI dan Polri orang Papua yang kemudian bergabung dengan OPM dan (e) Prisila Jakadewa dan 5 orang perempuan Tanah Merah yang kibarkan BK di Kantor Gubernur Propinsi Irian Jaya pada waktu itu, dan seterusnya yang pada akhir tahun 1990an dilanjutkan oleh (f) gereja-generasi di Tanah Papua yang mulai membangun LSM dan lanjutkan dengan Komisi Keadilan dan Perdamaian di Sinode/Keuskupan (g) Dr. Wanggai yang mengibarkan bendera Melanesia bulan Desember 1988. Artinya apa yang sudah kita sebutkan dalam butir petama ini dalam politiknya sedang menyuburkan nasionalisme Papua Barat.

  1. Bagaimana Pemerintah hadapi kebangkitan Papua atau Nasionalisme Papua selama ini? Dari politik lempar batu sembunyi tangan menuju…

3.1. Sudah tahu dia (Indonesia) yang bikin, dirinya yang aktor tetapi pura-pura tidak tahu, berdosa tetapi tampil sebagai pihak yang saleh dan datang selamatkan dengan dalih tumpas separatisme. Kalau kita sebagai manusia yang màju, terdidik yang punya logika dan kesadaran kritis bisa pahàm bahwa separatisme itu buah dari pembangunan yang ideologinya yang bercampur-baur dengan rasisme dan olahàn pikiran etnis yang merasa pihaknya lebih superior atau lebih maju dari bangsa Papua yang koteka, hitam kotor dan lain-lain.

Menurut kami, pilihan pendekatan ini akan memusnahkan bangsa Papua; justru karena bangsa ini sudah sadar bahwa dia (Papua) sedang dijajàh. Kalau kesadaran ini absen dalam benak Bangsa Papua (seperti para anggota milisi barisan merah putih), saya kira Bangsa Papua ini bisa istirahat sejenak – tetapi itu tidak mungkin. Indonesia sedang dan terus membangun pendekatan operasi, terakhir hadapi kebangkitan Papua: operasi militer yang kita sudah saksikan sejak awal Desember 2018 adalah saksi.

3.2. Dari Politik lempar batu semhunyi tangan menuju…. Ikuti jejak Gus Dur hadapi Kongres Rakyat Papua. Ikuti jejak Presiden SBY – JK menyelesaikan masalah Aceh dengan dimediasi Negara ke tiga: Pemerintah RI yang duduk berunding dengan GAM. Dan ketiga Presiden Jokowi beberapa waktu lalu saya ikuti sedang mendukung Palestina.

Dalam terang apa yang sedang dihadapi kami gereja bergembira dengan pemimpin Negara RI yang sudah kami sebutkan di atas. Demi Papua tanah damai, kehormatan rakyat dan NKRI, kami meminta para pihak masyarakat sipil Indonesia agar Pemerintah RI tempuh pendekatan damai dengan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) seperti Presiden SBY dan JK yang tidak mengkriminalisasi GAM tetapi mengundang negara ketiga.

Terlebih sekarang presiden dan kabinetnya yang sangat pro-minoritas Rohingya di Mianmar Selatan; dan Jokowi yang sedang mendukung referendum dan kemerdekaan Palestina. “Papua dan rakyat ada di belakang mu Pak Presiden, tetapi rakyatmu, Papua juga meminta kebijakan yang sama: referendum atau kemerdekaan bagi bangsa Papua Barat.”

Catatan ini dibuat dalam kesadaran akan semua yang sedang terjadi, yang kami muat dalam butir satu sampai 3. Sebagai gembala dan teolog, catatan ini kami lihat sebagai tanggapan kepada Tuhan yang terus menyoroti kita dengan “mataNya yang sedang menantang kita” untuk mempertanggungjawabkan iman dan tugas gembala yang Tuhan percayakan.

Selamat berjuang!

)* Penulis adalah Ketua Sinode Gereja Kingmi Papua