TENTANG KAMI

Media online suarapapua.com pertama kali diluncurkan pada tanggal 10 Desember 2011 bertepatan dengan hari hak asasi manusia internasional. Awalnya ia hadir dengan konten blogspot dengan nama Papuan Voices (http://thepapuan.blogspot.com). Dalam perkembangannya, pada tanggal 31 Desember 2011 blog Papuan Voices diubah ke sebuah portal berita dengan nama Suara Papua (www.suarapapua.com).

Perubahan dari blog ke website sama sekali tidak mempengaruhi isi pemberitaan, redaksi, serta kebijakan yang dijalankan oleh redaksi. Ada banyak sekali pesoalan di tanah Papua, mulai dari masalah pendidikan, kesehatan, ekonomi, social, budaya, dan termasuk politik. Persoalan-persoalan tersebut jika dikaji secara mendalam dan kompherensif, masyarakat Papua selalu berada dipihak yang selalu menjadi korban ketidakadilan.

Dalam peliknya persoalan tersebut, media di Papua juga dituntut untuk memberitakan apa yang terjadi di tanah Papua secara berimbang, objektif, dan sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan. Media di Papua juga dituntut mampu mengangkat “suara lain” dari masyarakat akar rumput di tanah Papua tanpa di intervensi pihak manapun.

Namun, kenyataannya berharap pada media massa di Papua seperti berharap penguasa takluk pada masyarakat sipil. Mulai dari kepemilikan media yang di dominasi oleh para konglomerat di Jakarta. Yang orentasinya bisnis dan ekonomi, sampai pada persoalan ideology, dan kepemilikan media yang hampir rata-rata dikuasi pemegang kekuasan dan militer.

Suara-suara masyarakat Papua selalu “di diamkan”, seakan-akan tidak terjadi apa-apa, atau kata lainnya, Papua dianggap seperti aman-aman saja. Dan hampir semua media-media besar mendukung “kebijakan” tersebut.

Akumulasi dari kebijakan pemerintah yang tidak berpihak, juga ditambah dengan pemberitaan di berbagai media massa yang menempatkan msayarakat Papua sebagai pihak yang “bersalah” menghasilkan perlawanan yang semakin massif. Dan bahkan, beberapa aktivis dan pengamat di Papua pernah menyeruhkan agar media di Papua diboikotkan karena pemberitaannya selalu menyedutkan masyarakat Papua.

Dalam rumitnya persoalan, serta semakin gencarnya kehadiaran media-media di tanah Papua dengan kebijakan redaksi yang di control penguasa, maka harus ada media independen yang hadir, dan muncul untuk memainkan peran di dalam. Dimana media ini diharapkan mampu berperan dalam mengabarkan, dan memberitakan berbagai ketidadilan di tanah Papua sesuai dengan fakta yang terjadi.

Selain itu, diharapkan juga lahirnya wartawan-wartawan muda, atau jurnalis-jurnalis Papua yang mempu mengamati persoalan di tanah Papua, dan melaporkan secara baik dan benar dengan tujuan agar dapat diketahui public. Wartawan di Papua juga diharapkan mempunya komptensi tinggi agar laporannya dapat benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.

Media ini hadir untuk melengkapi kekurangan tersebut. Ia hadir untuk mengisi kekosongan, dimana tidak adanya media independen yang berbasi kerakyatan, dan mau dan mengabarkan suara rakyat Papua secara fakta. Media ini juga hadir untuk membuka kesempatan lahirnya jurnalis-jurnalis muda yang mampu menjadi wartawan yang baik dan benar.

Wartawan dan media seperti dua sisi mata uang yang tak bias dipisahkan. Karena itu, selalin bergerak dibidang pemberitaan, juga secara perlahan berusaha untuk mendidik jurnalis-jurnalis muda agar mampu menulis dengan baik dan benar.

Media kami hadir untuk menjadi bagian dari rakyat, juga media yang hadir untuk mengubah sediki rumitnya persoalan di tanah Papua. Media online suarapapua.com mengutamakan nilai-nilai keadilan, kemanusian, serta keberagaman agama.

REDAKSIONAL SUARAPAPUA.COM

 

PEMIMPIN REDAKSI

Oktovianus Pogau

REDAKTUR

Oktovianus Pogau

Abigail Papuana 

KOLUMNIS

Mathias Rafra

Naftali Edoway

STAF REDAKSI

Arnold Belau

Tommy Apriando

Lincold Alvi

KORESPONDEN

Okky Surabut (Semarang)

Arnold Belau (Jayapura)

Justine Homers (Timika)

Dolly Korwa (Manokwari)

Jekson Ikomou (Bandung)

Mizael Maisini (Intan Jaya).