Mama-mama Papua: “Kami Lahirkan Anak-anak Bukan untuk Dibantai TNI/Polri”

0
766

Jumat 2014-12-12 23:19:00

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Solidaritas Perempuan Papua pembela HAM menyesalkan tindakan aparat keamanan yang melakukan pembantaian terhadap puluhan warga sipil di Lapangan Karel Gobay, Enarotali, Paniai, hingga menewaskan lima warga sipil, dan belasan lainnya luka-luka.

“Mama-mama melahirkan anak-anak bukan untuk dibantai TNI/Polri, kami melahirkan mereka untuk bangun tanah ini, kami sangat berduka dengan insiden di Paniai,” kata Bernadetha Mahuze, saat memberikan keterangan pers di Kantor Elsham, Padang Bulan, Jayapura, Papua, Jumat (12/12/2014), didampingi Frederika Korain, Zandra Mambrasar, dan Fransiska Pinimet.

 

Menurut Mahuze, ketika anak-anak Papua dibunuh secara brutal oleh aparat TNI/Polri, merupakan hal yang paling menyakitkan bagi mama-mama Papua yang melahirkan generasi muda Papua ini. (Baca: Aparat TNI/Polri Tembak Mati Empat Warga Sipil di Kabupaten Paniai).

 

“Hati ini sakit sekali mendengar peristiwa di Paniai, apalagi ada empat anak SMA yang dibunuh saat mengenakan pakaian seragam. Negara harus bertanggung jawab terhadap persoalan ini,” tegasnya. (Baca: Lagi, Satu Warga Paniai Tewas Ditembak TNI/Polri; Korban Jadi Lima Orang).

 

Sementara itu, Zandra Mambrasar, staf Elsham Papua menegaskan, mama-mama yang anaknya diambil oleh peluru aparat keamanan harus diberikan pendampingan dan bimbingan, agar dapat pulih dari penderitaan batin.

 

“Mama-mama menjadi pihak yang paling berduka, karena mengharapkan anak-anaknya tumbuh dengan baik untuk sebuah cita-cita, namun nyawa mereka dihilangkan begitu saja oleh aparat keamanan.” (Baca: Kado Natal Jokowi-JK untuk Papua, 5 Warga Paniai Tewas Ditembak TNI/Polri).

 

Menurut Zandra, negara harus memberikan perhatian yang cukup dalam memulihkan psikis, dan ingatan akan penderitaan yang dialami mama-mama Papua, termasuk anak-anak di Paniai.

 

“Tangisan hati mama-mama Papua di Paniai harus didengar oleh semua orang, terutama Presiden Jokowi, agar mereka dapat pulih kembali,” ujarnya. (Baca: Ini 5 Nama Korban Tewas, dan 2 Korban Luka Kritis di Paniai).

 

Menurut Zandra, melakukan pemulihan dengan konseling, dan bimbingan terhadap mama-mama yang anaknya direnggut menjadi sebuah hal yang penting dan mendesak.

 

“Kami ikut bersedih karena ini masa advent atau masa penantian bagi orang Kristen, tapi dengar berita kalau nyawa-nyawa anak-anak SMA diambil oleh aparat keamanan, ini sangat kami sesalkan,” tegasnya.

 

“Natal tahun ini kami akan bikin gaya Papua saja, semua orang Papua harus merenung, dan berkabung karena peristiwa pembantaian ini,” ujar Zandra. (Baca: Warinussy: TNI dan Polri Telah Melakukan Pelanggaran HAM Berat di Paniai).

 

Ditambahkan oleh Frederika Korain, pemulihan bagi mama-mama dan anak-anak di Paniai bukan hanya bicara soal denda, atau uang, namun lebih dari itu membangkitkan semangat mereka yang pudar karena anak-anak mereka ditembak secara brutal oleh aparat keamanan.

 

“Kasih uang saja kepada mama-mama ini tentu tidak akan menyelesaikan masalah, kita juga berharap negara serius memberikan perhatian bagi para korban ini, terutama mama-mama Papua dan anak-anak yang terpukul dengan kejadian ini,” tegas Frederika.

 

Frederika juga meminta presiden Jokowi untuk menarik satuan-satuan miliiter non-organik, termasuk intelijen dari seluruh tanah Papua demi menghindari kekerasan yang terus berlanjut. (Baca: Pimpinan Gereja Tolak Rencana Presiden Jokowi Hadiri Perayaan Natal di Papua).

 

“Pemerintah juga harus hapus kebijakan yang mengisolasi Papua dari dunia luar, dengan memberikan akses bagi media dan pekerja kemanusiaan nasional dan internasional untuk datang ke Papua,” tegasnya. (Baca: ULMWP: Jokowi Pakai Pendekatan Militer Hadapi Konflik Papua).

 

Walau tidak hadir dalam sesi jumpa pers, beberapa tokoh perempuan Papua, seperti Pdt. Dora Balubun, Pdt. S. Titihalawa, dan Melanie Pasifika, ikut menandatangani pernyataan duka bagi lima warga di Paniai yang ditembak aparat TNI/Polri.

 

OKTOVIANUS POGAU