ArsipTak Ada Perhatian Pemda, Mahasiswa Jayawijaya di Bandung Terlantar

Tak Ada Perhatian Pemda, Mahasiswa Jayawijaya di Bandung Terlantar

Sabtu 2014-11-29 14:44:45

BANDUNG, SUARAPAPUA.com — Tak ada perhatian dari pemerintah daerah membuat ratusan mahasiswa asal Kabupaten Jayawijaya, Papua, yang mengenyam studi di Kota Bandung, Jawa Barat, terlantar hingga saat ini.

Frans Hubi, Ketua Keluarga Besar Pelajar dan Mahasiswa se-Pegunungan Jayawijaya (IKB-PMPJ) Wilayah Bandung, mengungkapkan, mahasiswa asal Jayawijaya tidak dapat melanjutkan studi dengan baik karena tidak memiliki pemondokan atau kontrakan yang layak.

 

“Kontrakan kami masa tinggalnya sudah habis pada tanggal 6 November lalu, hingga mau memasuki bulan Desember ini Pemda belum juga menyalurkan dana pendidikan untuk pemondokan mahasiswa,” kata Hubi.

 

Menurut mahasiswa Universitas Langlangbuana ini, banyak mahasiswa asal Jayawijaya hingga kini menumpang di kontrakan mahasiswa asal kabupaten lain, dan tidak dapat berkonsentrasi dengan baik untuk melanjutkan perkuliahan.

 

“Saya sebagai ketua sangat sedih melihat kondisi ini, Pemda harus secepatnya memperhatikan nasib kami mahasiswa, karena kami adalah aset pemerintah kedepannya.”

 

“Termasuk organisasi IKB-PMPJ macet juga, karena tidak ada perhatian dari Pemda, padahal kami punya agenda dan kegiatan pengembangan mahasiswa sangat banyak, dan perlu bantuan pemerintah. Kami sangat kesal dengan cara-cara ini,” kata Hubi.

 

Menurutnya, pengembangan organisasi sangat penting, terutama diajarkan bagaimana cara berorganisasi yang baik, agar memiliki bekal sebelum turun ke dunia kerja.

 

“Atas nama mahasiswa asal Jayawijaya, saya mendesak Pemda untuk segara memperhatikan keluhan mahasiswa, terutama pemondokan, karena tanpat tempat tinggal yang baik, kami tentu tidak bisa belajar dengan baik,” katanya lagi.

 

Selama ini, lanjut Frans, mahasiswa asal Jayawijaya di Bandung semakin banyak, tapi Pemda hanya menyediakan satu pemondokan saja, sehingga menyulitkan mahasiswa untuk belajar.

 

“Bagaimana mau tampung dan dijadikan tempat belajar, laki-laki maupun perempuan gabung dalam satu kontrakan, karena itu kami berharap kota studi Bandung kalau bisa dapat dua kontrakan, yakni untuk putri dan putra yang berada di kota Cimahi dan Jatinangor,” katanya.

 

Terkait komunikasi yang dibangun dengan Pemda, menurut Hubi, sudah berulang kali melakukan komunikasi dengan instansi yang  bertugas menyalurkan dana pendidikan, yakni, Badan Perencanaan Daerah (Bapeda) Jayawijaya, namun tak ada respon hingga saat ini.

 

“Kami hanya tunggu kepastian saja, komunikasi sudah dilangsungkan, namun tidak pernah berikan respon positif sampai saat ini, kami sangat kesal cara-cara ini,” tegasnya.

 

Sementara itu, media ini berusaha mengkonfirmasi Bupati Jayawijaya, Wempi Wetipo, namun nomor telepon seluler yang bersangkutan diluar jangkauan.

 

OKTOVIANUS POGAU

Terkini

Populer Minggu Ini:

Pembangunan RS UPT Vertikal Papua Korbankan Hak Warga Konya Selamat dari...

0
“Penegasan ini disampaikan berdasarkan ketentuan bahwa kawasan resapan air dilarang adanya kegiatan yang berpotensi menimbulkan perubahan lingkungan fisik alami ruang untuk kawasan resapan air dan penggunaan lahan untuk bangunan yang tidak berhubungan dengan konservasi mata air sebagaimana diatur pada Bagian V tentang pengaturan zonasi angka 2 Peraturan Daerah Kota Jayapura nomor 1 tahun 2014,” ujar Gobay.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.