ArsipBupati Intan Jaya Bantah Melakukan Pemukulan Terhadap Mahasiswa

Bupati Intan Jaya Bantah Melakukan Pemukulan Terhadap Mahasiswa

Sabtu 2015-09-12 04:44:08

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Bupati Kabupaten Intan Jaya, Natalis Tabuni, membantah melakukan pemukulan terhadap mahasiswa asal Kabupaten Intan Jaya, yang melangsungkan aksi demo pada tanggal 18 Agustus 2015, di Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua.

“Memang saya dapat laporan bahwa mahasiswa palang bandara sejak tanggal 17 Agustus 2015, dan ada anggota Brimob yang datang meminta mahasiswa bubar dan ikut ke Polsek untuk diminta keterangan, namun karena mahasiswa menolak, Brimob sempat melangsungkan pemukulan,” kata Tabuni, saat menghubungi suarapapua.com, Sabtu (12/9/2015).

 

Menurut Tabuni, kemudian mahasiswa juga melanjutkan aksi lagi pada tanggal 18 Agustus, padahal di hari yang sama beberapa tokoh masyarakat, termasuk para kepala desa telah berkumpul untuk mendengar pemaparan hasil penemuan mahasiswa dan dosen Universitas Gadja Mada (UGM) Yogyakarta terkait budi daya buah merah, dan beberapa sektor pemberdayaan ekonomi lainnya.

 

“Saya minta staf memberitahukan kepada mahasiswa untuk demo ditunda ke tanggal 19 Agustus 2015, karena tanggal 18 Agustus ada pertemuan penting yang tidak bisa ditunda, tapi mahasiswa ngotot untuk melangsungkan aksi pada hari itu,” kata Bupati.

 

Kepada dirinya, lanjut Bupati, Kapolsek Intan Jaya juga telah memberitahukan jika ijin aksi demo tidak dikeluarkan oleh Polsek dihari itu, karena ada pertemuan antar SKPD, tokoh masyarakat, kepala-kepala desa, pemerintah dengan mahasiswa dan dosen UGM Yogyakarta.

 

“Tapi aksi tetap dilangsungkan, padahal saya minta tanggal 19 Agustus kita bisa langsungkan pertemuan di aula Dinas Pekerjaan Umum (DPU). Tanggal 18 Agustus pagi mahasiswa long march sampai di depan kediaman saya, dan dihentikan oleh staf saya serta Kepala Dinas Pertambangan dan Energi, meminta untuk membubarkan diri, karena hari itu tidak tepat melangsungkan demo.”

 

“Apalagi, beberapa anggota Brimob juga telah datang ke tempat aksi dengan muka marah untuk membubarkan aksi mahasiswa, saya juga dengar ada anggota Brimob yang keluarkan tembakan ke udara hingga empat kali, saya sendiri keluar dari kediaman dan mendorong mahasiswa, bukan memukul, agar mereka mundur, dan tidak ada korban nyawa di hari itu,” kata Bupati.

Menurut Bupati, selaku pemimpin dirinya tidak ingin ada peristiwa penembakan terhadap masyarakat Intan Jaya seperti yang pernah terjadi beberapa waktu lalu, yang menyebabkan dua tokoh masyarakat menderita luka tembak.

 

“Tujuan saya keluar dari kediaman, dan mendorong mahasiswa agar mundur dan membubarkan aksi supaya tidak ada korban nyawa yang berjatuhan, apalagi saya lihat beberapa anggota Brimob dalam keadaan yang tidak normal, jadi tidak benar bila saya melakukan pemukulan terhadap mahasiswa,” kata Tabuni.

 

Lanjut Bupati, tanggal 19 Agustus 2015 ia menunggu kedatangan mahasiswa untuk berdialog dengan dirinya tentang tujuan demo digelar, namun tak ada mahasiswa yang muncul.

 

“Saya tanggal 19 Agustus 2015 tunggu kedatangan adik-adik mahasiswa untuk bicara, tapi tidak ada yang datang, ini juga yang saya sesalkan,” ujarnya.

 

Sementara itu, salah satu mahasiswa Intan Jaya, Melianus Duwitau mengaku, pemberitahuan agar aksi mahasiswa ditunda ke tanggal 19 Agustus 2015 baru disampaikan oleh salah satu staf Bupati pada pagi hari saat mahasiswa bersiap untuk melangsungkan aksi demo.

 

“Kalau diberitahukan untuk tunda aksi dua atau tiga hari sebelumnya, mungkin bisa kami pertimbangkan, tapi karena diberitahukan di hari H, jadi kami keberatan. Kami juga memang telah sepakat jauh-jauh hari untuk aksi pada tanggal 18 Agustus 2015,” kata Duwitau.

 

Duwitau mengatakan, mahasiswa juga akan melaporkan aksi kekerasan dan premanisme yang dilakukan beberapa anggota Brimob Polda Papua Kompi C Biak, yang bertugas di Intan Jaya, kepada Polda Papua.

 

“Kami juga akan melaporkan aksi kriminalisasi yang dilangsungkan anggota Brimob, apalagi kami dengar beberapa anggota datang membubarkan aksi kami dalam keadaan mabuk berat. Kasat Brimob dan Kapolda Papua harus menghukum dan memproses tindakan anak buahnya,” tegas Duwitau.

 

OKTOVIANUS POGAU

Terkini

Populer Minggu Ini:

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.