ArsipMasyarakat di Wamena Minta Supir Taxi Turunkan Harga Angkut

Masyarakat di Wamena Minta Supir Taxi Turunkan Harga Angkut

Jumat 2015-02-20 17:18:00

WAMENA, SUARAPAPUA.com — Kepala Dinas Perhubungan Darat Kabupaten Jayawijaya, Ollen Ostal Daimboa meminta kepada para supir angkutan umum di Wamena dan sekitarnya agar mengembalikan harga angkot (Taxi), seperti ongkos semula, mengingat harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sudah normal.

"Jika para supir taxi tidak segera mengembalikan harga, kami akan kenakan sanksi berupa penarikan izin trayek bagi pengemudi," ujar Daimboa, kepada wartawan di ruang kerjanya, Jumat (20/2/2015) siang.

 

Menurut Daimboa, himbauan dari pemerintah berlaku bukan hanya untuk sopir angkot di seputaran kota Wamena, tetapi juga bagi kendaraan lintas daerah.

 

Daimboa mengakui, pihaknya memang belum memberitahukan secara resmi kepada para sopir terkait penurunan harga angkot, namun ada beberapa yang telah diberitahu secara lisan.

 

"Kami kasih tahu saat para supir taxi mengurus ijin di kantor perhubungan. Tapi saya akan kembali panggil semua untuk penertiban ini," tegasnya.

 

"Kalau masih terus kepala batu, mereka juga termasuk tidak boleh mandapatkan subsidi BBM,” katanya.

 

Dijelaskan, Dinas Perhubungan memang berkewajiban untuk mengatur naik-turunnya harga sesuai kenaikan BBM, tetapi pihaknya tidak mengijinkan para supir untuk menaikan ongkos taksi semena-mena tanpa diketahui dinas.

 

"Para supir harus patuh pada aturan ini, kalau tidak nanti akibatnya silakan ditanggung sendiri," tegas Daimboa.

 

Editor: Oktovianus Pogau

 

ELISA SEKENYAP

Terkini

Populer Minggu Ini:

Tolak Yonif 762, Warga Tambrauw Palang Pos Satgas 623 di Fef

0
“Pasca kematian Moses Yewen, keluarga dan masyarakat telah menyampaikan pernyataan penolakan kehadiran Yonif 762 di Tambrauw kepada Kodim 1810, DPRD dan bupati Tambrauw. Tetapi Panglima TNI mengeluarkan surat perintah kepada Yonif 762 untuk melaksanakan tugas di Fef. Hal ini yang memicu pemalangan pos Satgas,” ungkapnya.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.