ArsipIJN Gelar Dialog Interaktif “Menagih Janji Jokowi”

IJN Gelar Dialog Interaktif “Menagih Janji Jokowi”

Minggu 2015-11-21 09:45:13

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Indonesian Journalist Network (IJN) Papua dan Papua Barat menggelar dialog interaktif bertajuk “Menagih Janji Presiden” dengan menghadirkan tiga narasumber, Marinus Yaung, Pater Neles Tebai, dan Ramses Ohee, Sabtu (21/11/2015) kemarin.

Dialog interaktif yang dimulai pada pukul 12.00 WIT, pembicara pertama, Marinus Yaung mengungkapkan kenyataan hari ini belum ada kebijakan pemerintah untuk selesaikan berbagai persoalan di Tanah Papua.

“Sebagian besar orang Papua memilih Jokowi menjadi presiden Indonesia, tetapi untuk menyelesaikan masalah Papua hanya sekedar janji semata. Kalau tidak bisa untuk menepati janjinya, saya menyarankan agar bapak Jokowi untuk tidak membuat janji,” tegas akademisi Uncen ini.

Dalam dialog interaktif yang diadakan atas kerjasama dengan Radio Republik Indonesia (RRI) Jayapura di Abe Grand Hotel, Marinus juga menyampaikan harapan agar Jokowi melihat Papua tidak dengan menggunakan kaca mata Jakarta.

“Sebaiknya jangan menilai Papua dari kacamata Jakarta, tetapi harus melihat Papua dari sudut pandang Papua itu sendiri,” ujarnya.

Ia menilai pemerintah tak serius melihat persoalan Papua.

“Sebenarnya pemerintah sudah mengetahui masalah Papua, namun masih takut untuk bertindak. Kalau ingin untuk berdialog, tinggal memilih saja, apakah dialog tentang persolan pembangunan, ataukah persoalan status politik Papua,” tuturnya.

Marinus mencatat fakta di Tanah Papua hari ini dipimpin oleh dua tuan. Yang pertama adalah kekuatan asing yang mengeksploitasi kekayaan Papua, dengan Indonesia sebagai penjaganya. Tuan yang kedua adalah aparat militer yang sejak Papua berintegrasi dengan NRKI, menjadi mesin pembunuh orang Papua.

“Dua tuan ini yang ada di Papua,” kata pengamat politik dari Uncen ini.

Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP), Pater Neles Tebai yang tampil sebagai pembicara kedua dalam dialog interaktif, lebih menekankan kepada pemerintah agar harus segera menghentikan konflik di Tanah Papua.

“Ada dua konflik yang sering terjadi di atas tanah Papua, seperti konflik vertikal dan konflik horizontal yang selalu dan selalu saja terjadi,” kata Pater Neles dalam pemaparannya.

Dalam penjelasan lebih lanjut, Pater juga menambahkan pemaparan dari Marinus Yaung tentang dua dialog yang sebenarnya menjadi kebutuhan atas permasalahan orang Papua.

“Saat ini pemerintah tinggal memilih saja, apakah ingin berdialog tentang pembangunan ataukah tentang masalah politik Papua, pemerintah harus tegas agar tidak membias pembangunan yang sangat tidak tepat sasaran,” ungkapnya.

Pater Tebai juga mempertanyakan realisasi dari janji Presiden Jokowi saat berpidato pada perayaan natal nasioanal di Stadion Mandala Jayapura.

Janji Jokowi saat itu, sebut Pater Neles, akan membangun Papua menjadikan sebagai tanah damai. “Tetapi, saya kira hal itu belum berjalan maksimal apalagi ada enam poin yang lebih khusus dari penyampaian presiden Joko Widodo.”

Ondoafi Ramses Ohee juga menyikapi janji Jokowi kepada orang Papua, lebih khusus berbicara tentang hasil kekayaan Papua yang telah dirampas oleh negara lain.

“Orang Papua hanya menjadi penonton saja di atas tanah sendiri, sedangkan orang lain yang menjadi pemain di lapangan. Kapan orang Papua mau menjadi tuan di atas negerinya sendiri? Ini pergumulan kitorang sampai sekarang,” tutur Ramses.

Janji Jokowi, bagi Paitua Ohee, memang sangat membutuhkan proses yang panjang. Sebab Papua ini harus dikaji secara baik dulu, barulah bisa untuk membangun Papua ke arah yang lebih baik.

“Pemerintah harus membangun Papua dengan hati yang tulus dan bisa mengerti dengan baik,” tegas Ramses Ohee dalam dialog interaktif yang dihadiri mahasiswa, tokoh pemuda, wartawan dan sejumlah undangan lainnya.

Editor: Mary

HARUN RUMBARAR

Terkini

Populer Minggu Ini:

Tujuh Tuntutan IPMAMI Terhadap Pembatasan Kuota Peserta Beasiswa YPMAK

0
Kebijakan sepihak itu diminta segera dibatalkan karena tidak pro masyarakat Kamoro, Amungme dan lima suku kerabat lainnya, terutama dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) di masa mendatang.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.