ArsipPenggusuran Baliem Cottage Wamena, Alfons Kossay: Kami Sedang Berduka!

Penggusuran Baliem Cottage Wamena, Alfons Kossay: Kami Sedang Berduka!

Selasa 2015-01-13 18:28:50

WAMENA, SUARAPAPUA.com — Pasca penggusuran perumahan warga Baliem Cottage Wamena, yang dilakukan pada pekan lalu oleh Pemerintah Kabupaten (Pemda) Jayawijaya, agar tidak memproduksi Minuman Lokal (Milo) jenis CT dan Balo, tidak membuat warga setempat gentar.

Malah, warga setempat sudah bangun enam pondok kecil di atas puing-puing rumah yang digusur pada pekan lalu. Pondok dibangun karena mereka mengklaim tanah Baliem Cottage adalah milik mereka.

 

Hiron Kossay saat ditemui wartawan di komplek Baliem Cottage Wamena, Selasa (13/1/2015) mengatakan, ada banyak tempat jual minuman di Wamena, tetapi pemerintah tidak menggusur rumah penjual Milo lain.

 

“Pemerintah tidak adil, karena hanya Baliem Cottage yang mereka gusur. Banyak tempat lain biasa buat dan jual, tetapi tidak pernah larang dan gusur rumahnya,” ujar Hiron.

 

Ia berharap, pemerintah tidak tebang pilih dalam upaya pemberantasan minuman keras di wilayah Kabupaten Jayawijaya.

 

“Jika pemerintah ingin tidak ada yang jual Milo di Wamena, hentikan bahan-bahan ilegal yang didatangkan dari luar dan melarang keras, supaya tidak ada yang buat dan jual lagi.”

 

“Kami juga lihat sendiri, kalau pemerintah dan TNI/Polri yang menjual ke masyarakat, maka masyarakat melakukannya,” tutur Hiron.

 

Ditegaskan, warga tak akan pindah dari kawasan Baliem Cottage. “Kami merasa, tanah ini masih milik kami, jadi kami kembali bangun rumah di tempat ini, walaupun sudah digusur oleh Pemda Jayawijaya,” tegasnya.

 

Menurut Hiron, setelah penggusuran pada Kamis (8/1/2015) lalu, tak ada petugas dari pemerintah yang datang melihat kondisi terakhir di Baliem Cottage.

 

“Jadi, kami rencanakan pada hari Rabu besok akan bangun pagar keliling dengan bahan tradisional.”

 

Hiron menyatakan, pihaknya tak akan menunggu pemerintah untuk proses tindak lanjutnya karena aset Pemda berupa bangunan Baliem Cottage sudah digusur dan tanah tetap milik masyarakat untuk kembali bangun rumah.

 

“Waktu gusur bangunan, Sekda sempat sampaikan bahwa Bupati akan datang ketemu dengan kami, tetapi sampai hari ini belum datang. Ini ada maksud apa?” tanya Hiron.

 

Senin (12/1/2015) kemarin, kata Hiron, pihaknya telah mendatangi kantor pertanahan, guna memastikan pelepasan tanah tersebut dilakukan secara adat dan nasional atau tidak.

 

“Kami cek status tanah ke kantor pertanahan supaya ada kejelasan. Tetapi kepala kantor pertanahan belum ada di tempat, jadi kami akan cek dalam waktu dekat ini,” jelasnya.

 

Hiron menduga, surat peringatan penggusuran dari pemerintah daerah, ada kejanggalan. Warga penghuni Baliem Cottage menganggap surat tersebut tidak sah, karena tidak dibubuhi stempel dan suratnya mengatasnamakan Sekda Jayawijaya.

 

Sementara, Alfons Kossay menilai tindakan pemerintah menggusur rumah tersebut telah membunuh warga Baliem Cottage.

 

“Seharusnya pimpinan bicara baik dengan rakyatnya. Dalam masalah ini, tidak bicara baik langsung main gusur begini, maksudnya apa? Cara ini tidak secara langsung bunuh kami. Kami sekarang sedang duka,” kata Alfons Kossay.

 

Ia juga dengan tegas mengatakan, lebih baik rakyat di Baliem Cottage ikut dibunuh bersamaan dengan penggusuran. “Dari pada kami begini, kenapa tidak bunuh kami sekaligus,” kata Alfons.

 

Editor: Oktovianus Pogau

 

ELISA SEKENYAP

Terkini

Populer Minggu Ini:

PSBS Siap Menuju Liga 1 Usai Ambil Satu Poin di Aceh

0
“Puji Tuhan, kami bisa raih satu poin di kandang Persiraja pada sore ini. Kita lihat tadi perjuangan para pemain kami memang sangat luar biasa. Saya sangat mengapresiasi mereka,” ucap Aditya saat sesi konferensi pers usai laga di Stadion Langsa, Aceh, Minggu (25/2/2024) sore.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.