ArsipIn Memoriam Yan Tethool: Yang (Hendak) Ditolak Otsus

In Memoriam Yan Tethool: Yang (Hendak) Ditolak Otsus

Minggu 2014-02-16 14:02:45

Petrus Joannes Berchmans Tethool, nama lengkapnya. Nama yang asing di telinga kebanyakan orang. Boleh jadi, juga asing di telinga generasi reformasi dan salah satu produk amburadulnya bernama Otonomi Khusus Papua yang ramai-ramai mencemplungkan diri dalam keramaian dan hiruk pikuk Partai Golkar menjelang Pemilu 2014, padahal Petrus Joannes Berchmans Tethool yang sehari-hari akrab dikenali sebagai “Yan Tethol” adalah salah satu founding-fathers Golongan Karya sekaligus suhu politik di Papua.

Para sahabatnya, semisalnya Pendeta senior W Maloali, Pdt Ruben Woehau, John Markus Kabey, Barnabas Suebu dan lainnya, biasa menyapanya: Yan. Sementara para koleganya semisalnya James Modouw (mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Papua) atau mantan muridnya seperti John Tabo (mantan Bupati Tolikara) biasa menyapanya “Pa Yan”.

 

Petrus Joannes Berhmans Tethool memang asing di telinga kebanyakan kita, namun Yan Tethol niscaya bukanlah nama asing di telinga dan hati orang Papua. Petrus Joannes Berhmans, biasa disingkat PJB. Semasa masih aktif sebagai wartawan Surat Kabar Mingguan Tifa Irian lebih dari satu decade silam, saya pernah bertanya apa kepanjangan PJB kepada mendiang Athanasius Tenau (mantan Direktur Eksekutif YPPK Provinsi Irian Jaya) dan Jan Tom yang ketika itu masih tercatat sebagai salah satu guru di SMA YPPK Taruna Darma, Kotaraja-Jayapura. Kalau mendiang Athan Tenau sedikit gelagapan sebelum jujur menjawab, tidak persis ingat, maka mendiang Jan Tom menjawab, “Adoo tra tau. Tapi tong biasa bilang PJB itu Paitua Jabatan Banyak,” ujar Jan Tom, lantas tertawa. Jan Tom adalah salah satu anak didik dan guru kesayangan Pa Yan.

PJB Tethool, alias Yan Tethol alias Yan, yang kerap dipanggil Paitua Jabatan Banyak oleh segerombol bekas muridnya yang kepala batu bin nakal semisal mendiang Jan Tom, mengakhiri perjalanan panjang dan sepak terjangnya di Tanah Papua pada Minggu 9 Februari 2014 di Rumah Sakit Dian Harapan, Waena, Jayapura. Minggu siang 9 Februari 2014 itu, raga Pa Yan tak kuasa lagi melawan komplikasi penyakit yang dideritanya sejak akhir 2013 sehingga memaksa Pak Yan ditemani sang istri M Helena Ciu Pelly, beberapa kali terpaksa bolak-balik ke Rumah Sakit Dian Harapan.

Di hari tatkala insan pers di Indonesia memperingati hari pers nasional yang ke-28, pada hari itu pulalah insan pers di Papua kehilangan salah founding-fathers-nya. Semasa hidup, Pa Yan pernah menjabat Ketua Yayasan Pers Katolik (1994-2000), yayasan yang menerbitkan Surat Kabar Mingguan Tifa Irian. Surat Kabar yang kini tinggal sejarah. Pa Yan juga pernah menjabat Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi SKM Tifa Irian. Ketika masih aktif di Tifa Irian, bersama koleganya Bill Rettob, mendiang Raymond Burhan, Lukas Karel Degey, mereka adalah sosok-sosok yang memikat sejumlah yunior mereka untuk terjun dan menekuni jurnalisme dan dunia tulis menulis. Sebut saja, Kristian Ansaka, Wolas Krenak, Alberth Yogi, dan mendiang Linda Korwa.

Kamus dan Kompas

Wartawan atau penulis yang guru. Atau sebaliknya guru yang juga wartawan. Meski tercatat juga sebagai seorang politisi, sosok Yan Tethol lebih dikenal dan akan lebih dikenang sebagai seorang Pak Guru yang bersahaja, nyaris tidak bisa marah, dan rendah hati. Kalau tatkala orang berbicara tentang sastra Indonesia maka nama-nama seperti Pramudya Ananta Toer dan HB Yassin tak pelak ikut disebutkan, maka ketika kita berbicara tentang pembangunan dan pelayanan dunia pendidikan di Tanah Papua, terutama pascapara zendeling dan missi, maka laksana sayur tanpa garam, akan terasa hambar apabila nama Yan Tethol tidak ikut disertakan atau disebut.

Yan Tethol, niscaya adalah salah satu kamus bernyawa tentang Pendidikan di Tanah Papua. Almarhum niscaya sekaligus bisa menjadi kompas ketika kita kebingungan menentukan ke arah mana biduk dunia pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia Papua harus berlayar atau diarahkan. Ketika sistem dan pembangunan dunia pendidikan di Tanah Papua pascapara zendeling dan missi lantas berkembang menjadi   seperti benang kusut yang kemudian lebih menghasilkan ‘benda’ ketimbang manusia, Yan Tethol ikut menjadi kamus dan kompas untuk keluar dari benang kusut ini. Almarhum sadar dan paham, bahwa benang kusut ini bisa mulai diurai menjadi lurus kembali dengan membenahi pendidikan guru! Tapi karena bukan guru di Jawa, Sumatera, Sulawesi, atau Maluku melainkan guru di Tanah Papua, maka tercetuslah konsep Kolose Pendidikan Guru (KPG) khas Papua.

Kapasitas dan keseharian hidup semasa hidupnya itulah yang berakibat rupa-rupa tanggungjawab dan jabatan dipercayakan padanya. Bahkan ketika menghadap Sang Khalik Minggu 9 April 2014 itu, Pa Yan masih tercatat sebagai Anggota Pembina YPPK Provinsi Papua, Anggota Dewan Penasehat Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia Wilayah Provinsi Papua, dan Ketua Yayasan Pegunungan Bintang: satu yayasan yang lagi-lagi berkiprah dalam dunia pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia Papua.

Ketika membacakan riwayat hidup Pa Yan, sebelum pelaksanaan misa requiem (arwah) yang dilaksanakan di Gereja Katolik Kristus Terang Dunia Waena, Jayapura, Selasa 11 Februari 2014, penulis buku “Nasionalisme Ganda Orang Papua” DR Bernarda Meteray, yang sehari-hari adalah salah satu pengajar di Universitas Cenderawasih, membutuhkan belasan menit untuk membacakan empat lembar folio berisikan latar belakang keluarga almarhum, riwayat pendidikannya, sepak terjangnya di berbagai organisasi profesi dan kemasyarakatan, riwayat pekerjaan dan rupa-rupa jabatan sekaligus tanggungjawab baik di dunia pendidikan maupun politik yang pernah diemban almarhum semasa hidupnya.

‘Paitua Jabatan Banyak’ Tethool. Mendiang Jan Tom tentu saja berkelakar. Namun kalau menyimak riwayat hidup almahum, kelakaran Jan Tom itu bukannya tanpa referensi. Sekadar contoh, tengok saja pada kurun 1980-2000 misalnya. Pada kurun waktu ini rupa-rupa aktivitas, jabatan, dan tanggungjawab berada di pundaknya. Baik di pemerintahan maupun non-pemerintah. Namun kalau cermat menelisik, rupa-rupa aktivitas, jabatan dan tanggungjawab yang pernah diemban almarhum, maka semua akan bermuara pada bidang yang sama: pendidikan!

“Beliau salah satu narasumber kami tentang dunia pendidikan di Papua,” tulis staf senior Bappeda Provinsi Papua, Max Willem Boekorsjom, di dinding akun facebook saya menanggapi kabar kematian Pak Guru.

Sederhana nan Idealis

Yan Tethol, niscaya juga adalah teladan ketika generasi muda Papua era Otsus dewasa ini kebingungan mendapatkan sosok panutan yang padanya terdapat konsistensi antara ucapan dan tindakan manakala mendiskusikan topik “Membangun dan Melayani di Tanah Papua dengan Hati” atau topik “Menjadi Tuan di Negeri Sendiri” atau tema “Hidup Sederhana”.

Lahir di Kampung Ngilngof, Kei, Maluku Tenggara 17 Juli 1943, remaja PJB Tethool menyelesaikan Lagere School B (LSB) 6 tahun di Merauke 1958. Tiga tahun kemudian, tepatnya 1 September 1961, adalah hari pertama pemuda tanggung PJB Tethool berdiri di depan kelas di Tanah Merah, dan memulai perjalanan panjangnya sebagai pendidik di Tanah Papua.

“Saya sudah dua kali ke Tanah Merah. Jadi saya bisa membayangkan betapa sulitnya hidup di Tanah Merah pada tahun 1960-an. Generasi Yan, maupun generasi ayahnya, adalah generasi yang mengantarkan orang Papua memasuki peradaban baru sampai ke era Otsus dewasa ini. Generasi merekalah yang meneruskan karya Ottow, Geissler dan Kijne. Ironisnya Otsus tidak menerima orang seperti Yan,” tutur salah satu sahabat almarhum, John Markus Kabey. Dengan mata tampak memerah dan berkaca-kaca John Kabey mengatakan hal ini di depan peti jenazah Yan Tethol, sebelum pelaksanaan misa arwah meriah di Gereja Kristus Terang Dunia Waena yang dipimpin Uskup Jayapura Mgr Leo Laba Ladjar OFM bersama empat pastor, Selasa 11 Februari 2014.

Ketika berbincang-bincang sebelum pelaksanaan misa arwah, John Kabey juga menjelaskan, “Yan adalah orang yang membawa Pendeta Maloali (mantan Ketua Badan Pekerja AmGereja Kristen Injili di Tanah Papua dan mantan Ketua DPRD Provinsi Irian Jaya, Pdt W Maloali) masuk ke lingkungan yang baru yaitu dunia politik di tahun 1970-an,” jelas John Kabey.

Duduk di samping kanannya di dalam Gereja Kristus Terang Dunia Waena tatkala misa arwah sedang berlangsung, kepada John Kabey yang beragama protestan, saya membisiki, “Jenderal (begitu John Kabey biasa disapa oleh para sahabatnya termasuk mendiang Yan Tethol), prosesi misa arwah yang barusan Jenderal ikuti, adalah bentuk penghormatan Gereja Katolik kepada umatnya yang sudah berbuat sesuatu bagi gereja dan negara.”

Selepas melepas baju Partai Katolik-nya dan lantas bergabung dengan Golongan Karya (Golkar) karena perkembangan situasi politik saat itu, di awal tahun 1970-an, aktivitas Pa Yan di Golkar tidaklah jauh-jauh amat dari urusan guru dan pendidikan. Sampai sebelum menjadi salah satu anggota DPRD Tingkat I Irian Jaya 1982-1992, aktivitas Pa Yan di Golkar berkutat di seputar pendidikan, pengembangan dan kaderisasi.

Sejumlah jabatan pemerintahan baik eksekutif maupun legislatif dan tanggungjawab yang pernah diembannya, tidak lantas membuat almarhum atau kerabatnya menumpuk mobil di garasi rumah mereka, atau memiliki berhektar-hektar tanah, atau memiliki rumah pribadi berkualifikasi di atas rata-rata entah di Papua maupun di kampung asal leluhurnya Ngilngof, Kei, Maluku Tenggara.

Dibesarkan dan besar dalam tradisi dan ajaran gereja Katolik yang kental sejak kecil, otomatis membuat keseharian ‘Paitua Jabatan Banyak’ amat paham hakikat dan arti dari kata pelayanan, melayani, guru, tanggungjawab, jabatan, dan kepercayaan. Nilai-nilai yang otomatis membuat lingkungan keseharian almarhum dan keluarganya dengan sendirinya terpisahkan dengan ranah penyalahgunaan wewenang yang koruptif tanpa perlu dipisahkan oleh garis demarkasi yang tegas atau membuat tembok tinggi nan tebal untuk memisahkan ranah wewenang dan ranah penyalahgunaan wewenang yang koruptif.

Nilai-nilai yang juga otomatis membuat almarhum tidak silau dengan kemilau harta atau tahta. “Kami pernah ditawari modal yang cukup untuk pengembangan Tifa (SKM Tifa Irian) oleh seorang petinggi militer. Saya sempat bimbang juga karena Tifa waktu itu jelas perlu modal. Tapi ketika Yan mengetahui bahwa syaratnya adalah pemberitaan Tifa Irian harus mengikuti keinginan yang memberi uang, sebagai Pemimpin Umum dia langsung menolak,” kenang mantan Pemimpin Redaksi SKM Tifa Irian, Bill Rettob.

Sepeninggal almarhum, ‘harta’ yang ditinggalkan kepada sang istri dan ketiga puteranya adalah sebuah rumah tua di bilangan Perumnas II Waena Jayapura dan sebuah mobil Toyota Kijang keluaran 1990-an, serta pensiunan sebagai pegawai negeri sipil golongan IV-A. ‘Paitua Jabatan Banyak’ memang tidak meninggalkan materi, namun mewariskan setumpuk keteladanan, kenangan, dan bahan permenungan yang tak ternilai bagi semua kita yang kini hidup di Tanah Papua dengan segala hiruk pikuk Otonomi Khususnya. “Kita kehilangan seorang guru, politikus, dan motivator terbaik bangsa Papua,” tulis mantan Wakil Bupati Pegunungan Bintang, Theo Sitokdana, di dinding akun facebook saya.

“Selamat Jalan Pak Jan. You know we love you,” tulis salah satu bekas murid almarhum, Octovianus Mote, mantan wartawan Harian Kompas, yang kini bermukim di dan menjadi warga negara Amerika Serikat.

Mathias Refra, mantan wartawan SKM Tifa Irian

Terkini

Populer Minggu Ini:

KKJ PB-PBD Kecam Tindakan Arogan Oknum TNI AL Terhadap Para Jurnalis...

0
“Wartawan memiliki hak dan mendapatkan perlindungan hukum dalam hal sedang menjalankan fungsi, hak, kewajiban dan perannya yang dijamin Pasal 8 Undang-undang Pers. Perlindungan hukum itu dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat,” ujar Safwan Ashari.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.