ArsipWarga dan LSM Papua Mengenang Tragedi Biak Berdarah

Warga dan LSM Papua Mengenang Tragedi Biak Berdarah

Minggu 2014-07-06 11:33:45

PAPUA, Jayapura — Puluhan warga Papua yang berdomisili di Kota Jayapura dan sekitarnya, bersama sejumlah LSM yang tergabung dalam Solidaritas Korban Pelanggaran HAM mengenang 16 tahun tragedi Biak Berdarah 6 Juli 1998.

Peristiwa memilukan yang terjadi pada 16 tahun silam itu, diperingati untuk melawan lupa bahwa pernah terjadi tindak kekerasan luar biasa yang dilakukan oleh negara melalui tangan-tangan besinya yang ada di Kota Karang Panas, sebutan lain Kabupaten Biak Numfor, Papua. 

 

Acara yang berlangsung hampir tiga jam itu, diawali dengan testimony dari Tineke Rumkabu, salah satu korban kekerasan Tragedi Biak Berdarah yang selamat.

 

Kemudian diikuti dengan ibadah yang dibawakan oleh Pdt Dora Balabun. Lalu, sambutan dari Paul Mambrasar dari Elsaham Papua, Peneas Lokbere Bersatu Untuk Keadilan (BUK) Papua, dan KPKC Sinode GKI yang diwakili oleh Pdt Dora Balubun. Kegiatan itu diakhiri dengan makan bersama.

 

Tragedi Biak Berdarah, salah satu sejarah kelam yang akan dilupakan jika tidak diperingati. Ketika itu, 6 Juli 1998, dini hari sekitar 500-1.000 warga Biak yang telah berkumpul di Menara Air, depan Puskesmas Biak Kota telah berkumpul saat Bintang Kejora telah mengangkasa beberapa hari sebelumnya.  

 

Tiba-tiba dari arah pelabuhan terdengar letusan deras mengarah ke kerumunan warga yang ada di sekitar menara tersebut.

 

Tembakan itu bukan saja datang dari arah pelabuhan setempat, tetapi dari udara. Helikopter yang mengitari tempatnya berkumpul warga Biak, mulai dari ibu rumah tangga, anak-anak, dan pria dewasa, melepaskan serentetan tembakan.  

 

Sementara di bagian darat, dari berbagai arah pasukan Brimob, AL, AD dan Polisi bersenjata lengkap dengan terhunus bayonet mulai merangsek masuk ke dalam kerumunan warga.

 

"Saudara-saudara kami ditembak membabi buta, di pukul, di tendang dan di tikam meskipun telah bermandikan peluru. Anak-anak, kecil-besar dan para wanita serta orang tua tak luput dari aksi penembakan membabi buta itu," kata Tineke Rumkabu, salah satu korban tragedi Biak Berdarah yang selamat.

 

Ia mengatakan, tragedi itu sangat memilukan bagi dirinya dan juga korban-korban lainnya yang selamat.  

 

"Setiap saat jika mengingat hal itu. Seperti tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Banyak mayat ditemukan di selat Biak-Yapen, tetapi oleh pemerintah setempat disampaikan bahwa itu korban tsunami di PNG, padahal ada mayat yang ditemukan memakai seragam sekolah, kaos Golkar dan Pramuka," katanya.

 

Kekerasan itu, kata perempuan paruh baya itu, hingga kini tidak mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah, bahkan pernah ada suatu lembaga yang lakukan investigasi tetapi tidak ada perkembangan selanjutnya.  

 

"Kami berharap, Prabowo atau pun Joko Widodo, saat jadi presiden terpilih punya komitmen untuk selesaikan pelanggaran HAM di Papua terutama targedi Biak Berdarah," pintanya.

 

LINCOLD ALVI

Terkini

Populer Minggu Ini:

Pembangunan RS UPT Vertikal Papua Korbankan Hak Warga Konya Selamat dari...

0
“Penegasan ini disampaikan berdasarkan ketentuan bahwa kawasan resapan air dilarang adanya kegiatan yang berpotensi menimbulkan perubahan lingkungan fisik alami ruang untuk kawasan resapan air dan penggunaan lahan untuk bangunan yang tidak berhubungan dengan konservasi mata air sebagaimana diatur pada Bagian V tentang pengaturan zonasi angka 2 Peraturan Daerah Kota Jayapura nomor 1 tahun 2014,” ujar Gobay.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.