Yayasan PESAT Nabire Rayakan HUT ke-20 Tahun

0
1700

Sabtu 2015-08-01 05:25:59

NABIRE, SUARAPAPUA.com — Yayasan Pelayanan Desa Terpadu (Pesat) Nabire, Jumat (31/7/2015) sore, merayakan hari ulang tahun yang ke-20 tahun di Gedung Olahraga Cenderawasih, Nabire, Papua.

Pendiri Yayasan PESAT Nabire, Pdt. Daniel Alexander, dalam sambutannya menjelaskan, Yayasan pesat di Papua pertama kali hadir pada tahun 1991 saat mendirikan SMA Kristen di Wamena, namun tidak bertahan lama karena mengalami beberapa kendala.

 

“Kenapa kami pilih Wamena, karena Wamena merupakan daerah paling terpencil dan pedalaman di tanah Papua. Di Wamena kami dirikan SMA Kristen, dengan logika supaya langsung dapat SDM tiga tahun. Dan sarjana empat tahun, dan bisa dibawa ke Papua jadi orang hebat,” kata Pdt. Daniel.

 

Namun, masuk tahun kedua, sekolah itu tutup, karena guru-guru yang notabene dibawa dari Jawa tidak sanggup untuk mengajar, karena berbagai masalah dan kendala di Wamena.

 

“Kalau guru-guru tidak sanggup mengajar, kami dua suami-istri hanya lulusan SMA, tidak mungkin mengajar sendiri, lalu saya panggil seorang konsultan pendidikan dari IKIP Surabaya, kami datangkan dari Surabaya untuk menyelidiki kenapa sulit mengajarkan anak-anak Papua.”

 

“Dan akhirnya ditemukan bahwa pada orang-orang Papua tidak ada bilangan pecahan, atau Matematika. Lihat sampai hari ini, di kota-kota besar, baik di Sorong, Manokwari, Merauke, Jayapura, maaf, seluruh penjual orang asli Papua umumnya jual tidak ada pecahan 1.250, 3.250, semua harus bulat, 5.000, 2.000 atau 10.000.”

 

“Peneliti dari IKIP menemukan kita di Papua ini sulit menemukan bilangan pecahan. Peneliti ini kagum, dan bertanya ada apa dengan generasi ini sehingga di pikiran mereka tidak ada pecahan,” kata Pdt. Daniel.

 

Menurut Pdt. Daniel, peneliti dari IKIP Surabaya ini mengusulkan agar memanggil seorang ahli genetika, untuk teliti gen orang Papua kenapa tidak ada bilangan pecahan.

 

“Kami tidak sanggup sewa atau gaji ahli genetika, akhirnya kami berdoa, dan Tuhan tunjukan sebuah pola, yaitu pola Abraham dan pola Tuhan Yesus.”

 

“Ketika Tuhan Yesus buat pola baru, ketika dalam dalam kejadian 12, disebutkan bahwa harus dicabut dari akar, dan dipindahkan ke tempat lain, tahun 1993 kami dapat visi itu, dan menyekolakan anak-anak dengan pendidikan berpola asrama.”

 

“Di Wamena, kami ceritakan visi ini, tidak ada yang tanggapi, di Merauke Serui, Jayapura, tidak ada yang berani, mereka malah takut-takuti, mereka bilang ternak orang Papua disenggol saja bisa marah, kami bicara pendidikan harus berpola asrama,” katanya.

 

Dan kemudian, pada akhir 1993, pak Indarto dari Jayapura beritahu kami ke Nabire saja. “Saya bingung karena tahunya hanya Paniai,” katanya.

 

“Akhirnya, akhir Agustus 1993 kami tidak sangka, semua tempat yang tidak pernah kami pikir di Nabire menyambut kami dengan sangat luar biasa. Visi disambut sangat luar biasa oleh orang-orang di Nabire, dan hingga saat ini telah ada banyak TK, SD, SMP, SMA, dan SMK,” kata Pdt. Daniel.

 

Daniel Alexander juga mengaku bersyukur, atas bimbingan dan tuntutan Tuhan, sehingga selama 20 tahun pelayanan PESAT Nabire bisa berjalan dengan baik.

 

“Pesat bukan hanya ada di Nabire saja, tapi juga ada di Nabire, kami dirikan SMA di Ransiki, Manokwari Selatan, Papua Barat,” tegas Pdt. Daniel.

 

Hingga kini, banyak lulusan sekolah-sekolah Yayasan Pesat Nabire telah menempuh pendidikan tinggi di luar Papua, dan bahkan ada yang telah menyelesaikan studinya dan siap bekerja.

 

“Yayasan PESAT akan tetap berada di Tanah Papua, tujuan kami banyak anak Papua harus mendapatkan pendidikan yang layak, karena pendidikan adalah kuncinya,” tegas Daniel.

OKTOVIANUS POGAU