ArsipPesona Danau Uter di Maybrat, Papua Barat

Pesona Danau Uter di Maybrat, Papua Barat

Sabtu 2015-08-14 23:07:01

MAYBRAT, SUARAPAPUA.com — Sebagai salah satu objek wisata alam nan eksotis, Danau Uter menyimpan potensi unggulan sektor pariwisata. Sayang jika potensi alam yang menggairahkan ini tidak dikelola agar memberi manfaat bagi masyarakat dan pembangunan daerah.

Siang itu, Rabu 15 Juli 2015, mobil Fortuner hitam bergerak membawa kami dari Kampung Kambuaya menuju lokasi tujuan. Perjalanan harus melewati Bandara Kambuaya, lalu membelok ke arah selatan menuju Aitinyo. Salah satu wilayah di Kabupaten Maybrat yang sebelumnya tidak pernah saya kunjungi. Maklum, saya hanya mengenal Aitinyo dari cerita orang tua, saudara, tulisan dan lagu.

 

Untuk menuju lokasi wisata danau Uter, kami harus melewati rangkaian hutan sekunder, kebun-kebun milik warga dan kampung-kampung di sekitar Distrik Aitinyo. Dalam perjalanan terlihat ada warga yang melintas bersama anjing berburu. Ada yang sedang membakar kebun atau memanen hasil tanam. Ada yang duduk bercengkerama di pinggir jalan atau berada di dalam rumah ketika kami melintasi kampung mereka. Sesekali kami harus melambaikan tangan sambil membuang senyum sebagai tanda persaudaraan.

 

Udara siang itu yang dihempas laju mobil terasa sangat menyejukan saat menampar wajah. Perjalanan juga terasa penuh nostalgia oleh lantunan tembang-tembang khas Papua yang keluar dari ‘speaker’ mobil. Menambah fantasi dan imajinasi tentang alam Papua nan indah. Kami sempat larut dalam lamunan masing-masing. Hanya ‘driver’ atau supir yang menuntun kami harus berkonsentrasi penuh memacu laju mobil dan sesekali bercerita untuk mengusir kantuk.

 

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam atau kurang lebih 30 kilometer dari bandara Kambuaya, kami akhirnya tiba di Kampung Sris. Sebuah kampung di Distrik Aitinyo dimana terletak spot wisata tujuan. Kampung ini terdiri dari kumpulan rumah-rumah batu beratap seng dan berjendela kaca riben. Beberapa tergolong rumah modern. Ada sekolah, gereja dan puskesmas di kampung ini. Semuanya bertipe bangunan permanen. Kampung Sris umumnya dihuni oleh penduduk asli suku Maybrat dengan marga (fam) tertentu.

 

Mobil lalu diparkir di tempat aman. Rombongan kami yang berjumlah 7 orang bergegas turun. Sepintas terlihat senyum mengembang di wajah warga saat melihat kami sebagai tamu yang datang. Dari jarak 100 meter, danau Uter terpampang jelas di pelupuk mata. Saya yang sejak lama mendengar keindahan danau Uter hanya lewat cerita sudah tidak sabar menceburkan diri ke dalamnya. Sayang, keinginan itu terpaksa dipendam. Saya harus mengabadikan tempat eksotis ini dengan lensa kamera.

 

Untuk sampai ke bibir danau, kami harus berjalan menuruni jalan bersemen yang terhampar lurus. Dibuat bagi para pengunjung untuk mengakses tempat pemandian. Dari jarak dekat tampak pemandangan sekeliling danau yang sungguh menggairahkan. Suasanan siang itu sunyi melompong. Hanya terdengar sorakan burung-burung hutan, pertanda nyanyian kedamaian alam. Tidak terlihat perahu atau alat transportasi danau lainnya yang dilabuhkan. Tidak ada warga yang memancing atau berenang.

 

Beruntung, siang itu belum ada pengunjung atau wisatawan lokal yang datang. Hanya terlihat beberapa anak berjemur diatas bebatuan dan rerumputan hijau karena kedinginan sehabis mencemplungkan diri. Tampak sebuah papan informasi berplat besi dengan latar warna hijau yang dipajang di sudut jalan. Papan ini bertuliskan: “Danau Uter adalah milik kitorang bersama, mari kitorang mengelola dan menjaga dengan ramah lingkungan.”

Saya pun mengeluarkan kamera Canon berlensa standar. Lalu bergegas menghampiri seorang gadis yang tengah duduk berkonsentrasi diatas batu sambil mencuci pakaian dan deretan piring kotor yang dibiarkan mengapung di pinggir danau. Perempuan itu tidak mau ambil pusing ketika saya membidikan kamera ke arahnya dengan latar air danau yang tenang ditambah pemandangan sekeliling yang indah.

 

Airnya bening membiru. Tembus pandang hingga ke dasar sungai. Danau ini membentuk suatu ekosistem dan istana bagi beberapa jenis ikan yang hidup bergerombol di dalamnya. Di sekelilingnya terkawal oleh bukit-bukit kapur bervegetasi warna-warni dan beraroma alam yang menyegarkan. Kabut pagi kadang datang menerpa. Menggerayangi kemolekanm danau ini yang indah dipandang, lalu hilang tak membekas ketika sang surya datang.

 

Ada yang menyebutnya telaga Uter. Tapi sejak dulu dikenal sebagai danau Uter yang terletak di Distrik Aitinyo, Kabupaten Maybrat, Papua Barat. Saya tidak tahu berapa luasnya. Memandang danau ini dari kejauhan hingga dekat telah membuatku jatuh cinta. Saya yakin, setiap orang yang memandang danau ini pun akan merasa demikian. Seperti jatuh cinta pada gadis hitam manis Aitinyo (Maybrat) dalam syair lagu yang dinyanyikan penyanyi Melky Goeslaw.

 

Danau berbentuk cekungan ini menyambung dengan kolam-kolam serupa di sebelahnya yang dipagari bukit-bukit kapur (cart) yang menyembul. Perbukitan kapur ini merupakan tipe morfologi umum di wilayah Maybrat. Bukit kapur ini biasanya ditumbuhi vegetasi berupa pepohonan kecil dan rerumputan unik yang dalam bahasa Maybrat disebut “Bomira”.

Dengan metode sains, dapat dijelaskan bahwa danau ini terbentuk secara alami melalui proses geologi yang terjadi ribuan tahun silam. Pada ekosistem permukaan danau dan kumpulan bebatuan dibawahnya tersimpan kandungan misteri tersendiri yang belum digali lebih jauh oleh para ilmuan. Hal itu terkuak dari sejumlah cerita bahwa para peneliti pernah datang mengeksplorasi kawasan ini. Namun unsur kajian masih terbatas.

 

Objek wisata danau Uter begitu memikat. Hanya saja belum banyak orang meliriknya. Di lokasi wisata sekitar danau ini tidak dijumpai rumah singgah (home stay), pondok wisata dan fasilitas penunjang lain yang dapat memanjakan wisatawan yang berkunjung. Pengelolaan yang profesional demi peningkatan ekonomi masyarakat lokal dan pendapatan asli daerah (PAD) juga belum digiatkan. Sebab mungkin keberadaan danau Uter masih dipandang sebagai tempat wisata biasa.

 

Di sudut lain di sekitar danau ini, Pemerintah Daerah Kabupaten Maybrat telah membangun akses jalan menuju ke kolam lain tempat pemandian. Tapi masih sebatas itu. “Perlu ditambah sejumlah fasilitas lain sebagai penunjang wisata di sekitar danau ini,” ujar Nehemia Asmuruf, pemerhati objek wisata danau Uter. Menurutnya, danau tempat dia sering berenang dan mencari ikan di masa kecil ini perlu dikelola secara profesional dan terintegrasi dengan objek wisata lain di Aitinyo maupun di wilayah Maybrat.

 

Penataan dan perlindungan terhadap ekosistem danau beserta area hutan sekitar juga harus diperhatikan. Perlu dibuat aturan agar warga lokal dan para pengunjung tidak sembarang membuang sampah. Ini penting agar dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian danau dengan terjaga kebersihannya. Hutan sebagai kawasan penyangga dan penyuplai air untuk danau juga perlu dilindungi. Masyarakat adat dan Pemerintah Daerah harus sepakat membuat aturan agar tidak boleh ada aktivitas penebangan pohon dan pembukaan lahan di sekitar area penyangga.

 

Tidak jauh dari objek wisata danau Uter, masih berdiri kokoh tugu Mafa Sair. Sebuah monumen bernilai historis yang dibangun sekitar tahun 1990-an sebagai peringatan masuknya Injil, pemerintahan dan pendidikan di Aitinyo. Konon monumen itu berkisah tentang jasa para guru penginjil dan perintis pemerintahan formal asal Maluku yang pernah berkarya di tahun 1930-an pada masa kekuasaan Belanda. Mereka inilah yang membuka tabir peradaban suku Maybrat.

Kolaborasi antara pesona danau Uter, tugu Mafasair yang bernilai historis, keunikan budaya suku Maybrat hingga eksotisme keindahan alam di daerah ini perlu dikelola secara terintegrasi agar menunjang sektor pariwisata di masa depan. Untuk mengelolanya, memang perlu belajar dari daerah lain yang sudah terdepan dalam pengembangan objek pariwisata (tourism). Sumber daya manusia (SDM) yang ada perlu dikerahkan untuk berpikir mengelola potensi yang ada.

 

Perjalanan menikmati keindahan danau Uter berakhir setelah kami puas menceburkan diri dan berfoto ria. Kami lalu bergegas membereskan pakaian basah, mengganti baju lalu menuju mobil Fortuner yang sudah terparkir menunggu kami sejak tadi. Mesin mobil dihidupkan. Bummmm…, kami pun bergerak meninggalkan danau Uter. Saya duduk terdiam merenungkan pengalaman ini. Berharap kelak akan kembali menikmati pesona alam danau Uter yang membius nurani dan perasaan.

 

JULIAN HOWAY

Terkini

Populer Minggu Ini:

Gawat! Di Mimika, 2.500 Ekor Babi Mati Terserang Virus ASF

0
“Hampir setiap hari babi-babi mati akibat terpapar virus ASF, sehingga kandangnya harus disterilkan untuk mencegah penularan lebih lanjut. Vaksinnya memang belum ada. Jadi, upaya memutus mata rantai penyebaran virus ASF di kabupaten Mimika harus terus dilakukan. Dan, itu yang kami dorong kepada para peternak agar harus berperan aktif,” kata drh. Sabelina Fitriani.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.