ArtikelJalur Cepat Meng-Indonesia-kan Papua

Jalur Cepat Meng-Indonesia-kan Papua

Oleh: Matias Rafra*

“Masalah Papua tak akan selesai dalam waktu dekat. Butuh Proses lama. Itu fakta politik yang harus disadari semua pihak. Masalah Papua bukan semata-mata soal keadilan ekonomi. The problem is, many people there feel they don’t belong to Indonesia (masalahnya adalah banyak orang Papua tidak merasa sebagai orang Indonesia, banyak orang Papua tidak merasa bagian dari NKRI). Ibarat perkawinan, kalau salah satu pasangan tak mau lagi bertahan dalam ikatan pernikahan, masak harus dipaksa?,” begitu kicauan Ketua DPP Partai Demokrat Ulil Abshar Abdalla di akun twiternya.

Ketika pertama kali melontarkan pandangannya itu di akun twiternya, kicauan Ulil pun mendapat tanggapan beragam: pro dan kontra. Mengundang sinisme dan kritikan terutama dari kalangan”ultranasionalis” yang mengusung jargon: NKRI harga mati. Tapi kicauan Ulil juga disambut positif dan lantas menjadi topik diskusi hangat kalangan yang sungguh-sungguh berpikir dan bekerja serius bagaimana menjadikan many people there feel they do belong to Indonesia dan atau Indonesia really belong to the Papua and try to make the Papuans really belong to Indonesian (meng-Indonesia-kan Papua).

Ulil bukan hanya dibesarkan dalam tradisi NU dan mewarisi idiologi NU, tapi juga ber-“darah biru” NU. Maka bukan Ulil Abshar namanya bila tidak melontarkan pandangan atau pendapat nyeleneh, yang kerap dianggap melenceng dari mainstream seperti beberapakali kali diperlihatkan mendiang Gus Dur semasa hidupnya. Gus Dur tercatat salah satu tokoh NU yang amat dihormati dan mendapat tempat khusus di hati orang Papua.

Sebelum bergabung lantas menjabat salah satu Ketua DPP Partai Demokrat, Ulil adalah dedengkot Jaringan Islam Liberal (JIL), wadah yang mengkampanyekan Islam sebagai agama yang ramah dan (juga) antikekerasan. Ulil dan JIL hendak memperlihatkan warna Islami yang juga ramah, akomodatif, dan amat toleran terhadap perbedaan tentu saja tanpa meninggalkan aqidah (hakikat) islaminya. Ulil dan JIL ingin menyebarluaskan seluas-luasnya dan memperlihatkan bahwa Islam tidaklah identik dengan kekerasan, tidaklah identik dengan pemaksaan kehendak, tidaklah identik dengan “keseragaman”, warna yang kerap dicitrakan oleh Front Pembela Islam (FPI) misalnya. Cita-cita dan aktivitas yang tak jarang memperhadapkan Ulil dan para aktivis JIL face to face dengan kalangan yang tidak sepandangan: para dedengkot FPI dan Majelis Mujahidin Indonesia, misalnya.

Baca Juga:  Freeport dan Kejahatan Ekosida di Wilayah Suku Amungme dan Suku Mimikawee (Bagian 4)

Pendapat Ulil yang menganalogikan persoalan Papua seperti “satu satu pasangan yang tak mau lagi bertahan dalam ikatan pernikahan masak harus dipaksa?” jelas juga mengusik ketenangan kalangan yang mengkuduskan lembaga pernikahan, misalnya umat Katolik bahwa lembaga pernikahan itu suci dan hanya maut yang dapat memisahkan dua insan yang sudah terikat dalam ikatan pernikahan.

Meski mengundang kontroversi, kicauan Ulil: The problem is, many people there feel they don’t belong to Indonesia, layak dicermati, untuk tak menyebut menghindarkan kita dari ketergesa-gesaan menilai secara hitam-putih apakah pendapat Ulil itu benar atau salah atau menganggap kicauan itu sekadar guyonan seorang pemikir nasionalis ala para kiai NU. Fakta bahwa masih ada dan terus berkembangnya wacana yang mempersoalkan keabsahan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969 yang ditentang keras kalangan “ultranasionalis NKRI Harga mati”jelas bukanlah langkah cerdas nan bijak menghadapi bara dalam sekam berupa fakta: many people there feel they don’t belong to Indonesia.

Tatkala seorang aktivis penggiat kemanusiaan di Papua meng-upload kembali kicauan Ulil di akun facebooknya, saya terpancing menanggapi status facebook si aktivis dengan menulis, Ulil bisa berdiskusi dengan sesama kader Partai Demokrat Roy Suryo. Sebab Roy sepertinya tahu cara yang tepat-jitu untuk menyelesaikan “perkawinan bermasalah” yang dikicaukan Ulil. Roy punya reputasi itu. Tengoklah, baru dalam hitungan puluhan hari menjabat Menpora, Roy sudah sukses menyelesaikan dualisme kepengurusan di tubuh PSSI yang tak (sempat) diselesaikan Andi Malarangeng, juga kader Partai Demokrat, partai yang semua ketua dalam struktur partai berlambang mercy itu adalah SBY, Presiden RI”.

Baca Juga:  Kegagalan DPRD Pegunungan Bintang Dalam Menghasilkan Peraturan Daerah

Sukses menyelesaikan sengkarut benang kusut dualisme kepengurusan di tubuh PSSI bukanlah satu-satunya alasan saya menyarankan Ulil berdiskusi dengan Roy Suryo untuk menemukan solusi “The problem is, many people there feel they don’t belong to Indonesia” Ada alasan lain: keberhasilan Roy menghadirkan dan menghelat pertandingan persahabatan antara Timnas PSSI versus Tim Oranye Belanda di Stadion GUBK Jakarta beberapa waktu lalu adalah alasan utama dan terutama.

Kalau tidak atau belum disadari Ulil dan Ketua Umum Partainya maupun pihak-pihak “ultranasionalis NKRI harga mati” di interal Partai Demokrat maupun eksternal Partai Demokrat, sesungguhnya lewat perhelatan pertandingan persahabatan itu, Roy Suryo (dan pengurus PSSI yang berhasil disatupadukan Roy), sebenarnya mengetahui solusi dan bahkan telah melaksanakan pemecahan masalah yang ditulis Ulil di akun twiternya: how to make many people there feel they do belong to Indonesia. Roy dan pengurus PSSI sebenarnya sudah berhasil menempuh jalan pintas atau jalur cepat meng-Indonesia-kan Papua dan orang Papua, setidaknya selama 2×45 menit dalam pertandingan persahabatan itu. Apa yang dilakukan Menpora Roy Suryo dan pengurus PSSI terbukti sukses meng-Indonesia-kan Papua yang tak kunjung tuntas dikerjakan sejak Pepera tahun 1969.

Penunjukkan Jackson Tiago sebagai pelatih Timnas PSSI, sepaket dengan kepercayaan kepada ikon dan kapten Persipura Boaz Solossa sebagai kapten Timnas PSSI, lalu hadirnya Emanuel Wanggai, Ian Luis Kabes dalam starting eleven Timnas PSSI, niscaya untuk sesaat (selama 2×45 menit) sukses menjadikan many Papuans feel they do belong Indonesia. Pertandingan persahabatan Timnas PSSI vs Tim Oranye, dengan Jakcson Tiago dan Boaz Solossa, Manu Wanggai, dan Ian Luis Kabes sebagai jantung Timnas PSSI kala itu niscaya membuat orang Papua melupakan sejenak kegetiran yang mereka alami di Kampung NKRI sejak pelaksanaan Pepera 1969. Perhelatan pertandingan persahabatan Tinas PSI vs Tim Oranye Belanda itu, niscaya menjadikan dan menyihir many the Papuans feel belong to Indonesia  pun sebaliknya menjadikan dan mempersatukan Indonesia really belong to Papua. Menpora Roy Suryo dan pengurus PSSI jelas tak asal tunjuk dan mempercayakan Jackson, juga Boas, Manu, Ian Luis menjadi organ penting Timnas PSSI versus Tim Oranye Belanda. Sepak terjang Persipura di ajang Liga Super Indonesia adalah dasarnya.

Baca Juga:  Politik Praktis dan Potensi Fragmentasi Relasi Sosial di Paniai

Perhelatan pertandingan persahabatan antara Timnas PSSI versus Timnas Oranye Belanda sebetulnya telah membuktikan dan memperlihatkan bahwa kicauan Ulil benar sekaligus juga tidak benar! Benar karena masalah Papua memang bukan semata-mata soal keadilan ekonomi, tidak benar karena masalah Papua sesungguhnya bisa diselesaikan dalam waktu dekat. Tidak butuh proses lama! Syaratnya “cuma”: hormati keberadaan Papua dan manusianya, percaya mereka! Hormat dan percaya bukan sebatas pidato dan retorika heroik ala politisi kebanyakan jaman ini, melainkan disertai perbuatan nyata seperti sudah diperlihatkan Menpora Roy Suryo dan pengurus PSSI dalam pertandingan persahabatan Timnas PSSI versus Timnas Oranye Belanda.

Jadi, Mas Ulil, berdiskusilah dengan Menpora Roy Suryo dan Ketua Umum Partai anda. Memang: The problem is, many people there feel they don’t belong to Indonesia, tapi jikalau Papua dan orang Papua dihormati keberadaannya dan sungguh dipercaya, tidak dengan mudah dilabeli cap separatis tatkala mereka bersuara atau berjuang untuk mendapatkan keadilan dan perlakuan manusiawi di kampungnya sendiri atau di kampung besar bernama Indonesia semudah membalikkan telapak tangan, yakinlah we can make them feel belong to Indonesia!

Selamat berdiskusi. Semoga hasil diskusi disampaikan juga kepada jajaran partai anda yang kini sedang berkuasa, serta kepada Ketua Umum, Ketua Dewan Pembina, Ketua Majelis Tinggi dan Ketua Dewan Kehormatan partai anda, yang kini adalah Presiden RI. Selanjutnya tuangkan hasil diskusi itu dalam kebijakan dan wujudnyatakan dalam program dan tindakan nyata. Meng-Indonesia-kan Papua bisa cepat kok. Tidak butuh waktu lama. Menpora Roy Suryo sudah memperlihatkan jalur cepatnya.

*Mathias Refra adalah mantan wartawan SKM Tifa Irian

Terkini

Populer Minggu Ini:

ANZ Mengantisipasi Pertumbuhan Populasi Fiji Seiring Melambatnya Migrasi Ke Luar Negeri

0
"Kekhawatiran jangka panjang adalah perlambatan pertumbuhan populasi yang terus-menerus (dari 2,12% selama 1966-1976 menjadi 0,55% selama 2007-17). Jika hal ini terus berlanjut, maka akan menciptakan kekurangan tenaga kerja," tulis mereka.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.