ArsipSembilan Tembakan, Mahasiswa UNCEN Palang Kampus

Sembilan Tembakan, Mahasiswa UNCEN Palang Kampus

Selasa 2013-10-22 13:59:45

PAPUAN, Jayapura— Bertempat di Gapura masuk Kampus Universitas Cenderawasih yang berlokasi di Perumnas III Waena, Abepura, Kota Jayapura, pada hari selasa  (22/10/2013) ratusan mahasiswa yang menghuni rumah susun Waena (Rusunawa) dari Unit satu hingga Unit enam melakukan aksi pemalangan kampus Uncen.

Sejak sekitar pukul 05.30 WIT Subuh hingga pukul 10.30 WIT. Ratusan mahasiswa ini menuntut pertanggungjawaban aparat TNI dan Polri atas sembilan tembakan yang dikeluarkan oleh aparat gabungan TNI dan Polri disekitar Asrama Rusunawa.

Penghuni Asrama Rusunawa yang rata-ratanya mahasiswa Uncen ini menuntut aparat keamanan gabungan TNI/Polri yang masuk ke kompleks Asrama Rusunawa Waena, sekitar pukul 04.00 WIT. Aparat gabungan yang terdiri dari dua anggota Polisi dan empat anggota TNI lengkap dengan senjata. Keempat aparat itu mengeluarkan tembakan sebanyak sembilan kali di kompleks Asrama Rusunawa tersebut mengakibatkan penghuni Asrama kaget dan panik.

Menurut Ismail Alua, Sekretaris Asrama Rusunawa, kepada Wartawan mengatakan, persoalan aparat masuk Asrama sudah sebanyak lima kali. “Kali ini, persoalan sudah lima kali terjadi, aparat TNI/Polri masuk ke Asrmaa Rusunawa dengan senjata lengkap. Lalu membuat keresahan terhadap mahasiswa penghuni Asrama. Kami tidak tahu pokok persoalannya siapa dan pelakunya siapa. Lalu sasarannya ke kami mahasiswa yang menghuni Asrama Rusunawa,” katanya.

Alua mengaku, tindakan aparat gabungan TNI/Polri membuat mereka kecewa. “seharusnya urusan keamanan dalam kota itu Polisi yang tangani. Kalau TNI itu tugasny aperang di hutan. Tetapi tadi pagi itu TNI yang masuk dan keluarkan tembakan sebanyak sembilan kali. Dan syukur saja tidak ada yang menjadi korban baik korban jiwa maupun korban material,” tuturnya.

Pihaknya juga meminta dua Pos yang masing-masing Pos TNI dan Pos Polisi yang berada di Perumnas III Waena dicabut karena keberadaan mereka dianggap mengganggu. “kami juga meminta aparat untuk segera cabut kembali Pos TNI dan Polri yang ada di Perumnas III Waena, itu sudah komitmen kami.” Tuturnya lagi.

Lebih lanjut, Ismail mengatakan, pihaknya bersama badan pengurus akan meminta persetujuan berupa MoU. “Kami akan meminta persetujuan berupa MoU (Memorandum Of Understanding) dengan lembaga Uncen, Polda Papua dan Pangdam dan badan pengurus Asrama soal pengamana di sekitar kampus dan Asrama Rusunawa. Dan MoU itu akan menjadi dasar hukum utama jika persoalan yang sama terjadi kembali,” Ujarnya.

Mahasiswa juga meminta Dandim dan Polresta mengajarkan humu yang sebenarnya kepada anak buahnya. Karena banyak Polisi dan TNI melakukan banyak persoalan di lapangan diluar hukum. Aparat TNI/Polri harus banyak belajar hukum supaya tindakan di lapangan itu sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku.

“Saya meminta maaf kepada adik-adik mahasiswa penghuni Asrama Rusunawa dari unit satu sampai unit enam karena terganggu dengan tindakan aparat kePolisian yang bergabung dengan TNI,” ungkap AKBP Alfred Papare, Kapolresta Jayapura.

Menurut Papare, hal ini terjadi karena dampak dari suatu peristiwa. Dan secara merinci, Pare menjelaskan, Selasa subuh sekitar pukul 04.00 Subuh telah terjadi gangguan di kampung Kampwolker yang dilakukan oleh msyarkat yang dalam pengaruh minuman keras. Kemudian korban atau penghuni rumah melapor ke Polri dalam hl ini Pos Polisi sehingga Pos bersama-sama dengan anggota TNI mendatangi TKP di kampung Kampwolker, sebelah kali”.

Namun, lanju dia, “pada saat aparat tiba di tempat, pelaku pelemparan rumah melarikan diri ke arah Asrama Rusunawa dan dikejar masuk ke Rusunawa.

Baik korban rumah maupun anggota tidak kenal betul siapa pelakunya. Hanya melihat dan mengejar masuk ke Rusunawa. Ini dalam tugas kePolisian, apabila tertangkap ini namanya tertangkap tangan. Dalam hal ini parat mencoba untuk menangkap langsung tetapi tidak berhasil,” katanya.

“Pada saat itulah aparat yang mengejar itu tidak koordinasikan dengan pengurus Asrama sehingga mengganggu kenyamanan adik-adik saat istirahat.sehingga ketiak adik-adik itu keluar, pemikiran dari aparat ini, adik-adik akan menyerang mereka atau mungkin mau melindungi pelaku sehingga aparat kami mundur pada saat Badang pengurus Asrama mau koordinasi, belum sempat terjadi. Dan terjadi miss komuniksi antara aparat dan adik-adik mahasiswa,” jelasnya.

“Sehingga karena para penghuni sudah bangun sehingga aparat keluar ke jalan lalu mengeluarkan tembakan sebanyak sembilan kali. Terus aparat kembali ke Pos.

Untuk itu adik-adik mahasiswa duduk di gapura Uncen. Ini mangkritisi kinerja kami. Dan ini kami berikan paresiasi. Lalu saya datang dan beberapa aspirasi mereka yang tadi sudah disampaikan saya tindak lanjuti. Dana saya juga akan laporkan kepada pimpinan untuk langkah-langkah apa saja yang sudah kami ambil dan yang nanti akan kita kerjakan sama-sama dengan adik-adik mahasiswa,” jelanya lagi.

Harapan saya, kata Alfread, untuk enghuni Rusunawa dan penghuni unit satu satu sampai enam “tolong bada pengurus membantu kami menjaga kambtimas di lingkungan Asrama dan kampus yang mendukung kenyamanan bagi mahasiswa atau masyarakat di sekeliling. Saya serahkan seluruhnya kepada pengurus agar bertanggungjawab dan apabila tidak bisa dipertanggungjawabkan, saya sudah berikan nomor HP saya dan Kapolsek sehinga bisa dikomunikasikan kapan saja,”  tuturnya kepada Wartawan di Perumnas III, Waena.

“Untuk anggota kami yang akan kami tarik, kami akan tetap melakukan patroli untuk mendukung keamanan masyarkat yang lain. Untuk lingkungan kampus, Rusunawa dan unit satu sampai enam itu jadi tanggung jawab badan penghuni Asrama,” katanya lagi.

“Pesan saya, agar adik-adik tidak mengomsusmsi minuman keras. Karena persitiwa tadi malam itu adalah dampak dari minuman keras,” tuturnya.

Selanjutnya terkait pos TNI yang juga didesak oleh mahasiswa agar dicabut, Papare berjanji untuk akan berkoordiansi dengan pimpinan TNI untuk tindak lanjuti aspirasi yang disampaikan mahasiswa. Kapolres meminta kemanan dilingkungan kampus dijaga oleh mahasiswa dan masyakarat sekitar. “ Jangan hanya banyak bicara tetapi harus dikerjakan. Saya akan cabut pos Polisi di perumnas III Waena meskipun banyak warga yang butuh keamanan dari kami. Dan pos akan kami cabut hari ini dan akan ditempatkan di Expo, Waena,” katanya.

Rektor Universitas Cenderawasih, Prof.Dr.Karel sesa, M.Si mengaku akan menindak lanjuti aspirasi mahasiswa yang menuntut pos aparat keamanan TNI/Polri ditarik dari areal perumnas III Waena dan sekitar Kampus. Rektor Karel berjanji akan berkoordiansi dengan aparat keamanan dalam hal ini TNI/Polri terkait pengamanan di sekitar areal Kampus. Sleanjutnya akan memfasilitasi mahasiswa dalam pengajuan draf MoU ke biro hukum Lembag Universitas dan ke pembantu rektor (Purek) II.

ARNOLD BELAU

Terkini

Populer Minggu Ini:

ANZ Mengantisipasi Pertumbuhan Populasi Fiji Seiring Melambatnya Migrasi Ke Luar Negeri

0
"Kekhawatiran jangka panjang adalah perlambatan pertumbuhan populasi yang terus-menerus (dari 2,12% selama 1966-1976 menjadi 0,55% selama 2007-17). Jika hal ini terus berlanjut, maka akan menciptakan kekurangan tenaga kerja," tulis mereka.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.