Trigana Air Tidak Kapok Terbang di Pedalaman Papua

1
749

JAKARTA, SUARAPAPUA.com — Kecelakaan pesawat Trigana Air jenis ATR 42 PK YRN, dalam penerbangan Jayapura-Oksibil, beberapa waktu lalu, nampaknya tidak membuat maskapai ini kapok terbang di pedalaman Papua.

Direktur Operasional PT Trigana Air Service, Beni Sumaryanto menegaskan, meski jatuhnya pesawat Trigana Air telah memakan korban 54 orang, namun maskapai tersebut akan tetap menjelajah langit Papua.

“Kami (Trigana Air) tetap konsisten di Papua. Dan kami tetap menerbangi udara Papua,” ujar Beni Sumaryanto kepada liputan6.com, di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Sabtu (22/8/2015).

Beni menjelaskan, komitmen tersebut berdasarkan jam terbang Trigana Air yang cukup tinggi di langit Papua.

Bahkan, ia mengklaim, maskapai yang mulai beroperasi sejak 1991 itu pun telah memiliki tempat di hati masyarakat Bumi Cenderawasih.

“Trigana Air juga lahir di bumi Papua. Kita juga sudah menyatu dengan masyarakat di sana (Papua),” tandas Beni.

Kecelakaan udara jelang HUT Ke-70 RI itu sempat membuat operasi penerbangan dengan rute Jayapura-Pegunungan Bintang terhambat.

Beni menyatakan, pihaknya telah menyiapkan maskapai pengganti dalam waktu 2 sampai 4 minggu ‎ke depan

“Dalam waktu dekat kisaran dua minggu sampai satu bulan kita sudah mendatangkan pesawat sejenis untuk gantikan ‎rute yang sama. Saya sudah berbincang dengan Bupati Pegunungan Bintang untuk meminta waktu sekitar satu bulan,” pungkasnya.

Pesawat Trigana Air jenis ATR 42 PK YRN dengan nomor penerbangan IL 267 sebelumnya diduga menabrak lereng bukit di sekitar Kampung Atenok, Distrik Oksob, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Pesawat diduga jatuh di kemiringan 45 derajat.

Pesawat yang membawa 49 penumpang dan 5 kru itu hilang kontak pada pukul 14.21 WIT Minggu, 16 Agustus 2015.

Saat itu, pesawat terbang dari Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura menuju Bandara Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

 

OKTOVIANUS POGAU