BeritaPolhukamKNPB Serukan Aksi Nasional di Papua untuk 2 Mei 2016

KNPB Serukan Aksi Nasional di Papua untuk 2 Mei 2016

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Pusat telah mengeluarkan seruan aksi yang akan digelar secara serentak di seluruh Tanah Papua pada tanggal 2 Mei 2016 mendatang dalam rangka memperingati 53 tahun aneksasi Papua ke Indonesia.

Ones Suhun, sekretaris umum KNPB Pusat kepada suarapapua.com, Sabtu (23/4/2016) di Jayapura menjelaskan, sudah 53 tahun, sejak 1 Mei 1963 tanah air West Papua dianeksasi (dirampas) oleh kekuasaan kolonial Indonesia dengan rakus dan tidak tahu malu.

“Lihat di sekelilingmu hai rakyat Papua Barat. Kita semakin habis. Doa dan turun jalan dalam aksi damai adalah satu cara kita menyelamatkan tanah air kita West Papua,” himbau Ones.

Dalam surat elektronik yang diterima media ini ditulis, pastikan diri Anda terlibat dalam aksi perlawanan damai yang akan berlangsung pada tanggal 2 Mei 2016 secara serentak di seluruh Papua.

Baca Juga:  Mahasiswa Papua di Gorontalo Desak Presiden Jokowi Tarik Aparat Militer dari Puncak

“Ingat, saat yang sama di London, Inggris akan ada pertemuan Parlemen Internasional untuk West Papua. Dipastikan beberapa kepala negara, politisi, pengacara internasional akan membuat seruan referendum secara global,” ungkapnya.

Dijelaskan, pada tanggal 3 Mei nanti, KTT MSG akan dimulai di Vanuatu. West Papua melalui ULMWP akan hadir perjuangkan keanggotaan penuh. Rakyat Vanuatu pun akan melakukan aksi parade mendesak para Pemimpin MSG menerima ULMWP sebagai anggota penuh.

“Sekali lagi, tugas kita adalah melibatkan diri dalam aksi damai menuntut hak penentuan nasib sendiri. Rakyatlah pejuang, KNPB siap memediasi. Kita harus mengakhiri,” tegasnya.

Sementara itu, Victor Yeimo, ketua umum KNPB Pusat saat dikonfirmasi suarapapua.com membenarkan adanya rencana aksi nasional yang akan dimotori oleh KNPB di seluruh wilayah Papua Barat, yakni dari Sorong-Samarai di pantai Selatan pulau Papua dan dari Sorong sampai Skouw di Pantai Utara pulau Papua.

Baca Juga:  Memorialisasi Perjuangan HAM Melawan Lupa Melalui Film Yang Tak Pernah Hilang

“Benar. Sesuai himbauan kami pada rakyat Papua Barat pada 13 April lalu, pada tanggal 2 Mei nanti KNPB akan mengadakan aksi demonstrasi damai di seluruh Papua untuk mendukung UMWP agar diterima sebagai anggota penuh MSG. Selain itu, kami akan memberikan dukungan untuk pertemuan IPWP yang akan digelar di London,” tuturnya.

Yeimo berharap agar seluruh rakyat Papua Barat ikut ambil bagian dalam aksi nasional tersebut. Karena, saat ini dunia sedang memperhatikan Papua Barat, sehingga rakyat Papua Barat tidak perlu takut.

“Kami menghimbau agar rakyat Papua Barat bisa ikut ambil bagian dalam demo tanggal 2 Mei mendatang. Dan orang Papua harus bangkit dan lawan segala kebiadaban negara terhadap orang Papua. Orang Papua siap menentukan nasibnya sendiri melalui mekanisme internasional, yaitu referendum,” tegas Yeimo.

Baca Juga:  Demi Generasi Bangsa, Kabulkanlah Suara Masyarakat Adat Awyu dan Moi!

Selain itu, ketua Parlemen Nasioan West Papua (PNWP), Bucthar Tabuni, melalui halaman pribadinya di facebook memberikan pengumuman tiga informasi penting untuk rakyat Papua Barat yang akan dilaksanakan pada awal Mei mendatang.

“Tanggal 29 April – 2 Mei 2016 di Vanuatu dengan agenda pra meeting para pendukung ULMWP yang disponsori oleh Team Rekonsiliasi pimpinan Pdt. Alan Nafuki dan Morris Kaloran guna mendukung keputusan menteri dan Parlemen negara Vanuatu. Dua minggu lagi mengangkat status ULMWP menjadi anggota Penuh MSG dan sepak keluar INDO MELAYU dari MSG. Ke dua, tanggl 3 – 6 Mei 3016 Pertemuan MSG di Port Vila Vanuatu. Dan ke tiga, 3 Mei pertemuan IPWP di London, UK,” tulisnya.

 

ARNOLD BELAU

Terkini

Populer Minggu Ini:

Wajib Jaga Hutan Sumber Kehidupan Marga Moifilit dan Kalapain

0
“Orang tua kami dari kedua marga berpesan agar kami melindungi wilayah adat kami dari ancaman perusahaan serta menjaga hutan dan tanah warisan nenek moyang kami,” tegas Asna Moifilit.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.