Hipere Asli Makin Hilang, YTHP Gelar Diskusi di Wamena

0
1736

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Yayasan Teratai Hati Papua (YTHP) memfasilitasi tokoh-tokoh budayawan dan pertanian gelar diskusi perdana mengenai “Hipere (Ubi) yang Menghilang” di daerah Pegunungan Tengah Papua di Rumah Bina Wamena, Sabtu (23/4/2016).

Diskusi itu digelar YTHP guna mendorong kepedulian semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat dalam menemukan akar persoalan dan jalan keluar untuk mengatasi masalah sosial di masyarakat.

Tiga narasumber yang dihadirkan dalam diskusi itu diantaranya, Niko Lokobal (Budayawan), Paulus Sarera (Staf Ahli Bupati Jayawijaya), dan Fr. Benny Ardial dari YTHP.

Hipere adalah nama dalam bahasa daerah orang Wamena yang artinya Ubi. Hipere termasuk makanan pokok orang Wamena yang diganti dari Keladi.

Paulus Sarera dalam materinya mengatakan, Hipere asli di Jayawijaya mulai menghilang sejak kemarau panjang tahun 1997. Saat itu, berbagai tanaman pertanian warga termasuk Hipere mengering, sehingga langkah yang diambil pemerintah Jayawijaya mendatangkan bibit Hipere dari luar Wamena.

Namun kini, kata dia, justru Hipere yang didatangkan dari luar menyebarluas dikembangkan masyarakat karena sifatnya serba cepat, artinya cepat berisi, cepat besar hingga cepat tua. Termasuk karena perubahan iklim, maka muncullah penyakit Hipere yang dikenal dengan nama penyakit Silas, yaitu sejenis kumbang kecil yang aktif saat cuaca panas tahun 1997.

“Penyakit Silas yang pernah terjadi tahun 1997 itu, tahun 2007 kembali muncul karena saat itu terjadi kemarau,” kata Sarera, yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya.

Dijelaskan, ketika dirinya tidak menjabat Kepala Dinas Pertanian tahun 2012, bekerja sama dengan Oxfam telah mendata sekitar 36 jenis Hipere asli di Wamena. Dan belum sampai 20 tahun, sekitar 75% Hipere asli menghilang.

Ia mengakui, dengan bekerja sama Oxfam, pihaknya telah mengupayakan beberapa hal untuk mencegah kepunahan Hipere variates asli dengan membuat kebun induk Hipere. Hanya saja, kata Paul, saat itu pemerintah kesulitan membuat kebun induk karena kesulitan tanah.

“Kami juga dulu telah mendorong diversifikasi makanan dari Hipere menjadi makanan dalam bentuk lain, seperti biskuit, tetapi sekarang sudah tidak berjalan lagi,” akunya.

Oleh sebab itu, Paul berharap, perlu buat adanya kebun induk agar bisa melestarikan Hipere jenis asli dari daerah ini (Pegunungan) dan menjadi sumber bibit bagi masyarakat lain. Tetapi, ia juga mengakui, kendala lain karena adanya makanan lain, yaitu Beras Untuk Rakyat Miskin (Raskin). Ini kendala besar yang menyebabkan semangat masyarakat untuk menanam Hipere dan makanan asli daerah ini berkurang.

“Karena sudah ada makanan di depan mata tanpa dibayar. Selain itu, kita perlu menggeser paradigma kita tentang Hipere yang sekadar makanan dengan cara masak konvensional. Kita perlu dorong Hipere diolah dalam berbagai bentuk. Faktor budaya juga menjadi tantangan, di mana banyak masyarakat melihat Hipere sebagai makanan budaya Balim gelondongan,” tutur Paul.

Sementara itu, Niko Lokobal, pemulung kearifan lokal, mengatakan, dengan penelitiannya ditemukan ada 279 jenis Hipere asli, tetapi saat ini tinggal 23 jenis Hipere di kebun masyarakat.

Awalnya, kata Niko, makanan pokok masyarakat Jayawijaya adalah Hom (Keladi) dan Pain (sejenis ubi-ubian). Tetapi karena keladi tidak mudah berkembang, maka masyarakat beralih ke Hipere.

“Dalam kaitannya dengan Hipere asli, ada mitos dalam masyarakat pegunungan tengah Papua tentang seorang tokoh bernama Neruekul yang dibunuh, kemudian dari setiap bagian tubuhnya tumbuhlah berbagai jenis Hipere. Hipere-Hipere tersebut kemudian diberi nama sesuai dengan nama bagian tubuh Neruekul. Hal ini menunjukkan bahwa manusia ada karena Hipere dan Hipere ada karena manusia,” jelas Niko membantah penjelasan Paulus Sarera mengenai Hipere dan budaya orang Balim.

Jelasnya, waktu itu dengan melihat Hipere asli yang mulai menghilang, Niko bersama Muridan membawa Hipere asli ke Bogor untuk ditanam di sana dan sekarang berbagai jenis Hipere asli pegunungan Papua ada di Bogor.

“Tetapi saya mau bilang Hipere sudah kalah bersaing di pasaran dengan jenis Hipere lain dan bahan makanan lainnya. Termasuk Hipere asli sulit diolah menjadi kue atau makanan dengan olahan lainnya.”

Untuk itu, ia mengusulkan perlu mengerakan masyarakat untuk menghidupkan filosofi tersebut, perlu ada kebijakan untuk perlindungan kearifan lokal, harus ada kebun induk dengan perawatan yang baik, perlu adanya pemeriksaan secara ilmiah dalam laboratorium untuk melihat jenis dan juga hamanya.

“Pemda perlu mendatangkan tim ahli Hipere dari Bogor dan internasional, tetapi juga perlu berikan penghargaan terhadap ahli Hipere lokal yang ada di kampung-kampung. Laki-laki juga harus bersedia untuk diintervensi perempuan, sehingga bisa kembali bekerja,” tuturnya.

Fr. Beni menjelaskan, salah satu penyebab mulai menghilangnya Hipere lokal adalah karena pandangan bahwa yang datang dari luar selalu baik, lebih unggul dari yang ada di tingkat lokal.

“Ternyata tidak begitu. Ini pemahaman yang salah yang perlu diperbaiki,” ujar Fr. Beni.

Ia juga menyatakan, dengan diskusi ini terungkap diskusinya harus ditindaklanjuti dengan yang lebih besar untuk menggerakan seluruh elemen sebagai gerakan bersama menyelamatkan Hipere. Selain itu, rahasia tentang mitos munculnya Hipere yang diutarakan sebelumnya perlu dibuka, sehingga ada penghargaan terhadap Hipere karena ada kaitannya dengan manusia.

Editor: Arnold Belau

ELISA SEKENYAP